Seorang teman datang bertanya, “Mbak, mau nanya dong, aku mau tes kerja nih, tapi dari dulu selalu gagalnya di psikotes, aku gak bisa tu yang itung-itungan…” Ada lagi ni yang lain “Gimana ini mbak, mau psikotes besok, triknya apa biar lolos?” Hhmmmmm….. banyak yang perlu diluruskan nih….

Yang namanya psikotes itu bukan seperti ujian nasional… ada standar nilai minimal, trus kalau si peserta tidak memenuhi standar minimal itu, dia gagal. Bukan seperti itu. Biasanya, untuk kepentingan seleksi karyawan, yang dibutuhkan adalah:

  • Melihat kondisi kognitif. Kalau dia tulalit banget, akan mempersulit tim kerja lainnya, jadi ada tes intelegensi namanya, untuk melihat kemampuan intelektual seseorang. Biasanya yang dipilih bukan orang yang intelektualnya superior alias pinter banget, kalau dia terlalu pintar, perlu dicrosscheck dengan karakter kepribadian, kalau dia pintar tapi sulit bekerja sama dalam tim, dan tinggi tingkat agresivitasnya, nah.. perlu jadi bahan pertimbangan itu. Tidak ada prasyarat intelektual,┬ácukup average alias rata-rata, asal tidak dibawah rata-rata sudah cukup. Kalau lulus sarjana, sudah hampir pasti dia tidak akan berada di kategori dibawah rata-rata, kecuali terjadi kondisi khusus, misalnya saking gugup dan stres-nya peserta menghadapi psikotes, jadi blank tidak bisa menjawab apa-apa.
  • Melihat profil kepribadian. Ini biasanya menggunakan tes personality. Banyak sekali varian tes personality. Penggunaannya disesuaikan dengan tujuan pemeriksaaan psikologis alias psikotes yang dilakukan. Yang paling populer digunakan adalah EPPS. Dalam proses seleksi, yang dipakai sebagai standar atau acuan adalah posisi yang dituju. Posisi akuntan membutuhkan spesifikasi khusus yang berbeda dengan posisi marketing, dan tentu saja membutuhkan personil dengan profil kepribadian berbeda untuk kedua posisi tersebut. Untuk posisi akuntan, profil yang dibutuhkan lebih dominan pada karakter keteraturan, mampu mengorganisasikan dengan rapi tugas-tugas kerjanya. Sedangkan untuk posisi marketing, profil yang dibutuhkan lebih dominan pada karakter afiliasi, mampu dengan mudah menarik orang lain menjadi teman akrab. Jadi, menghadapi tes personality tidak ada jalan lain selain menjadi diri sendiri. Jika profil personality seseorang tidak sesuai dengan spesifikasi kebutuhan posisi kerja yang diinginkan maka tentu saja dia tidak lolos seleksi.
  • Melihat kecakapan kerja. Ini diungkap melalui tes kecakapan kerja. Aspek-aspek kerja yang diungkap dalam tes ini antara lain kecepatan kerja, ketelitian, konsentrasi dan stabilitas dalam bekerja. Sekali lagi tidak ada standar minimal untuk tes ini, cukup dilihat profil aspek-aspek kerja yang dimiliki seseorang, disesuaikan juga dengan posisi kerja yang ditawarkan. Yang lebih dipentingkan adalah keseimbangan aspek-aspek kerja tersebut, jika seseorang mampu bekerja cepat, tapi tidak teliti dan tidak stabil alias cepat bosan, maka akan jadi bahan pertimbangan.

Kunci yang paling utama dalam menghadapi psikotes dalam pemeriksaan psikologis apapun, adalah tenang, jadi diri sendiri, dan yakin akan kemampuan diri. Mengutip kata-kata salah satu sobat baik saya: “Tidak perlu melirik kanan atau kiri, karena belum tentu orang yang Anda lirik lebih sehat mental daripada Anda”.

Ujian-Tulis2

Nah, semoga jabaran singkat ini bisa sedikit menambah wawasan untuk Anda yang akan menghadapi psikotes. Saya akan senang sekali jika ada teman seprofesi yang menambahkan komentar atau pendapat atau apapun, untuk kebaikan kita semua.