Anak kedua saya, kelas 6 SD, saat ini sedang menghadapi ujian nasional untuk SD yang disebut Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional. Oleh karena sistem pendidikan sudah dibuat seperti ini, ya kami, orangtuanya, terpaksa manut saja, padahal sebetulnya sih gak setuju…🙂

siap ujian

siap ujian

Tiba-tiba, 10 hari menjelang UASBN, kepala sekolah memanggil semua orangtua siswa kelas 6 SD Negeri S (tidak perlu saya sebutkan) untuk rapat membahas mengenai unas. Pertemuan itu sifatnya hanya sosialisasi mengenai hasil latihan ujian nasional tingkat propinsi yang hasilnya mengecewakan *versi kepala sekolah*, karena jauh dibandingkan dengan kakak kelasnya.. *dalam hati saya protes.. hey.. setiap anak itu spesial bu.. jangan disamakan antara satu dengan yang lain.. kalo hasil latihan unas tahun ini buruk, ya harus diliat secara global dong… mungkin soalnya yang terlalu sulit, atau faktor lain… bisa saja kan?*

Lanjut, berdasarkan nilai tadi yang dianggap menurunkan reputasi sekolah, maka pihak sekolah meminta orangtua siswa, dalam 10 hari menjelang UASBN ini, dapat memacu *glek.. saya menahan kesal… emangnya anak kami kuda pacu??*… putra putrinya supaya meningkatkan belajarnya dan dapat meraih nilai bagus dan berhasil mendapatkan sekolah lanjutan yang sesuai dengan keinginan orangtuanya .. *weiks… bener-bener bikin emosi ni kepala sekolah…. emang yang sekolah tu sapa? orangtuanya atau anaknya? Kalau saya sejak dulu selalu menyerahkan keputusan untuk memilih sekolah pada si anak… kan mereka yang sekolah… walaupun dengan arahan khusus pada anak, tapi tetap keputusan di tangan anak… bahkan sejak memilih sekolah taman kanak-kanak!!… anak-anak juga manusia, dan mereka punya hak!!… *

Tapi saya mencoba menanggapi pernyataan kepala sekolah tadi dengan bijak. Barangkali ini cuma masalah istilah, mungkin niatnya memang ingin meningkatkan prestasi belajar siswanya, caranya saja yang kurang pas… jadi saya lanjut mendengarkan.

Sampai di sesi tanya jawab, banyak hal yang mengagetkan saya, ternyata sebagian besar orangtua siswa banyak yang belum paham sama sekali sistem dan mekanisme UASBN. Bahkan UASBN itu apa juga mereka masih samar. Pertanyaan lugu yang disampaikan, kalau sudah ada UASBN, kenapa masih ada ujian praktek? Lalu kenapa nilai ujian praktek tidak bisa “mengangkat” nilai UASBN? Itu pertanyaan dari seorang bapak…. Ada lagi yang lebih lugu, apakah semua perbincangan ini bisa dicatatkan? Karena ternyata si ibu lugu ini buta huruf *waks… maaf, saya benar-benar kaget, hari gini… masih ada yang buta huruf loh…..*

Ketika kepala sekolah dengan tegas menunjukkan nilai latihan unas itu, dan menunjukkan bahwa banyak siswa yang tidak memenuhi SKM – standar kelulusan minimal yang ditetapkan, saya justru kuatir, pasti setelah rapat ini, para orangtua bakal memarahi anaknya, mengurung anak di rumah, dan memata-matai setiap gerakan supaya tidak lepas dari buku pelajaran!…. OMG, semoga saja ini tidak terjadi.

Hal terbaik yang disampaikan kepala sekolah adalah mengajak siswa rajin berdoa dan sholat sebelum hari H UASBN. Bahkan sehari sebelum hari H, akan diadakan doa bersama semua siswa, orangtua siswa, guru-guru, dan penduduk sekitar, di mushola sekolah. Tetep saja terlontar kekecewaan kepala sekolah karena anak laki-laki lebih sulit disuruh sholat…. *duhh… bahasanya… jangan disuruh dong… diajaklah… jangankan anak-anak… orang dewasapun sulit berangkat sholat meski sudah disuruh-suruh…. betul tidak??*

Sedikit saja catatan saya, berdasarkan pengalaman mendampingi 2 anak saya yang menghadapi unas.

  • Latih anak belajar lebih rutin ketika masuk kelas 6 SD, atur kembali jadwal kegiatan lain.
  • Bimbingan belajar boleh saja, tapi berdasarkan pengalaman saya, anak justru menjadi jenuh dan overload ketika mendekati hari H. Sedikit bijak dalam mengatur bimbingan belajar (kursus) ini.  Lihat kondisi anak.
  • Menjelang hari H, sebaiknya anak tidak terbebani dengan sistem belajar semalam. Sebelumnya mereka sudah banyak latihan soal, saya kira lebih baik mempelajari latihan soal dan lebih banyak istirahat supaya pikiran lebih fresh.
  • Jaga kesehatan anak. Ini yang paling penting! Menjelang hari H, banyak istirahat, perhatikan makannya, perhatikan pula kegiatannya. Terlalu lama belajar membuat anak lelah dan mudah sakit. Pertahankan kondisi sehat hingga hari UASBN selesai.

Begitulah catatan kecil saya ketika menghadapi anak yang menghadapi ujian. Semoga tips kecil ini bisa bermanfaat.