Helo Kids Pengalaman ini amat berharga buat saya, karena banyak hal yang saya pelajari dan mengambil hikmah dari acara ini. Awalnya, seorang teman baik saya meminta saya menjadi juri lomba story telling yang diadakan oleh pihak kantornya. Teman saya ini bekerja di suatu distributor product direct selling berupa program belajar untuk anak-anak. Berbarengan dengan kegiatan pameran yang mereka adakan, juga diadakan lomba storytelling untuk umum. Oleh karena dana yang terbatas, maka mereka hanya mampu membayar 1 orang juri yang capable. Yang seorang lagi adalah “orang dalam”, jadi bersifat sukarela karena bagian dari panitia. Nah, karena masih butuh 1 orang juri, teman saya meminta saya menjadi juri. “Tapi gak ada fee nya lho mbak”, begitu dia menegaskan, sambil menjelaskan panjang lebar tentang maksud dan tujuan penyelenggaran lomba serta visi dan misi perusahaan. Oke, saya mau. Meski gak punya kapabilitas, saya beranikan diri saja, niatnya sih memperkaya pengalaman.

So, hari itu saya duduk sebagai juri lomba mendongeng. Cerita yang di dongengkan adalah salah satu dari paket buku Halo Balita. Para juri sudah sepakat untuk criteria penilaian. Saya sih ngikut saja,… Soal tehnik mendongeng, pasti sudah dinilai oleh juri-juri yang lain, jadi saya melihat performance mereka berdasarkan tampilan mereka beraksi di pangung. Jadi, hari itu saya berperan menjadi anak kecil yang mendengarkan para kakak, om dan tante yang menceritakan isi buku halo balita. Kalau dongengannya hidup, interaktif, ekspresif dan bisa menghibur saya, nilai tinggi langsung saya berikan, tapi kalo saya tidak suka, ya nilainya cukup saja.

Peserta yang tampil bervariasi, mulai dari peserta yang baru belajar mendongeng, ada juga yang sudah trampil mendongeng dan pandai menirukan berbagai suara, seperti suara mobil, pesawat, suara anak kecil, suara nenek-nenek, suara doraemon, dan lain-lain. Ada mahasiswa, ibu rumah tangga, dan guru yang mendaftar menjadi peserta. Ada satu peserta (mahasiswa cowok nih) yang tampil menggunakan kimono, lucu juga, karena gak nyambung dengan tema cerita, tapi saya salut dengan usaha kreatifnya. Ada peserta yang saking semangatnya sampai suaranya melengking tinggi, bikin sakit telinga, anak kecil mungkin malah jadi takut nih. Ada peserta yang dicuekin, mungkin masih pemula dan skill untuk menarik perhatian penonton juga terbatas. Satu hal yang saya pelajari, bahwa mendongeng itu butuh latihan, jadi butuh jam terbang gitulah…. Semakin banyak pengalaman mendongeng, semakin trampil seseorang mendongeng. Tapi ternyata untuk menjadi story teller juga butuh bakat. Jika seseorang punya gift untuk menjadi pendongeng, akan nampak dari performancenya. Auranya muncul meski tehnik mendongengnya masih belepotan. Hufftt…. Susah juga menemukan peserta terbaik nih. Juri bingung. Jadi juri tidak mudah ternyata.

Di akhir acara, kami para juri terpaksa harus mengambil 3 terbaik untuk menjadi pemenang yang mendapat trophy + buku Hello Kids. Tapi akhirnya kami menentukan 2 peserta lagi sebagai peserta berbakat dan mendapat hadiah hiburan.

Satu tugas lagi telah selesai, saya banyak mengambil hikmah dari acara ini. Salut pada semua peserta!! Jadi, yang butuh story teller untuk acara ultah anak, saya punya stok nih. Daripada badut, mending story teller kan? Manfaat story telling banyak loh… Seperti disebutkan di http://www.perkembangananak.com, mendongeng merupakan suatu cara yang paling efektif untuk memberikan nasehat, pesan, pencerahan, dan motivasi kepada anak. Mendongeng sebetulnya mirip dengan memberikan contoh nyata ke dalam imajinasi anak. Dengan perasaan senang anak akan lebih mudah menyerap dan memahami isi cerita yang disampaikan kepadanya. Pilihlah kisah atau cerita yang menarik bagi anak, sesuai dengan umurnya, dikemas dengan cara yang dapat menembus perasaan secara mudah, dan doronglah ia untuk melakukan kebaikan tersebut (Muhammad Rasyid Dimas, 2005)

Silahkan mencoba mendongeng untuk anak, adik, keponakan, atau cucu. Atau share pengalaman mendongeng dengan saya, disini.