Face to face Desi Anwar dengan Dalai Lama sungguh mengagumkan. Sosok Dalai Lama sangat bijak menanggapi berbagai isu kontroversi agama di dunia. Sayapun berandai-andai, jika setiap pemimpin di dunia sebijak Dalai Lama, maka damai akan tercipta.

Exclusive Interview With Dalai Lama.

Berikut ini rangkuman interview Desi Anwar dengan Dalai Lama XIV.

Desi Anwar (DA) : Bagaimana perasaan Anda tentang orang datang dari seluruh dunia yang ingin bertemu dengan Anda?

His Holiness Dalai Lama XIV (HH) : Landasan saya adalah keyakinan bahwa kita semua sama. Ada 6 milyar manusia tetapi kita sama. Perbedaan agama, kebangsaan, ras, atau latar belakang social, ada yang berpendidikan ada yang tidak, ada yang miskin ada yang kaya, semua ini perbedaan level ke2, tidak penting, yang penting kita semua manusia yang sama. Kita mempunyai 2 mata, 1 hidung. Menurut ilmuwan, otak 6 milyar orang sama, tidak ada bedanya. Warna atau rasial apapun tetap sama. Jadi setiap kali saya pergi bertemu orang, saya selalu melihat ke tatanan itu. Tidak ada bedanya. Tak ada halangan? Tentu ada halangan, tapi semua itu hanya di permukaan, karena itu siapapun yang ingin bertemu, silahkan saja datang, saya disini.

DA : Orang menganggap Anda istimewa. Sebagai pimpinan spiritual, sosok yang kami panuti. Siapa sebenarnya Anda?

HH : Mereka hanya lapisan kedua. Ya, untuk agama, saya penganut Budha. Untuk asal, saya dari Asia. Saya orang Tibet. Di dalam Tibet, saya dari Amdhuk, dari bagian timur laut Tibet. Bukan dari Tibet tengah. Di level kedua ada begitu banyak perbedan. Lalu di level manusia, mungkin, kini saya seseorang yangt sudah berusia lebih dai 74 tahun. Dan ada banyak masalah dalam hidup saya. Banyak persoalan. Akibat dari factor-faktor ini, saya mungkin memiliki beberapa pengalaman berbeda. Dan selama menghadapi kesulitan ini, saya tidak pernah kehilangan harapan dan keyakinan atas rasa percaya diri. Jadi di level itu pengalaman membuat saya sedikit banyak berguna bagi mereka yang mengalami kesulitan yang sama. Dalam kasus seperti itu, beberapa pengalaman saya mungkin ada yang berguna bagi bagi orang lain. Lalu selama ini saya belajar 1 hal dari pengalaman, memiliki lebih banyak kasih, sikap penuh kasih.

DA : Apa artinya?

HH : Kasih yaitu kepedulian terhadap keberadaan orang lain. Terutama yang kita anggap musuh. Karena jika kita menyayangi dan mempedulikan musuh itulah sumber utama kedamaian hati. Ini penting, untuk memiliki pemahaman terhadap beberapa konsep agama, beberapa kebenaran. Hancurkan itu. Pemaksaan akibatkan ketakutan. Ketakutan menimbulkan kemarahan. Kemarahan timbulkan kebencian. Lalu kekerasan.

DA : Tapi kenyataan ke 6 milyar manusia ini yang seharusnya sama dan saling mencintai, tapi kita melihat lawannya, kita melihat konflik, khususnya akibat agama, kita melihat orang makin terpolarisasi akibat masalah agama. Apa pandangan Anda tentang agama?

HH : Itu dia. Kita terlalu menekankan pentingnya level ke2 ini. Melupakan level yang terpenting. Itu masalahnya. Ya kita berbeda agama, bangsa, sistem politik atau sistem ekonomi. Semua itu level ke2. Jika kita bermasalah di level ini, ingatlah kita manusia yang sama. Maka masalah ini bisa diselesaikan secara manusiawi dan damai.

DA : Apa menurut Anda orang makin harmoni dalam agama atau apa mereka makin terlibat konflik akibat agama dewasa ini?

HH : Sayangnya dalam sejarah manusia, saya rasa selama seribu tahun ini, jumlah konflik yang terjadi akibat perbedaan keyakinan. Saya rasa penyebab utama konflik ini adalah bukan agama itu sendiri, tapi kekuasaan, uang atau perbedaan pribadi.. Lalu ada yang tanpa agama. Begitu ini terjadi, keyakinan agama hanya terkait emosi. Begitu bisa menyentuh emosi manusia, maka Anda bisa memanipulasi lebih cepat dan efektif. Beberapa konflik bukan karena agama, tapi kepentingan lain, ekonomi, kekuatan, hanya itu. Tapi dalam beberapa kasus, akibat perbedaan agama, kini konsep 1 agama 1 kebenaran. Setiap agama meyakini agamanya adalah satu-satunya agama yang benar. Lalu agama lain dianggap negative. Di masa lalu, sikap seperti itu tidak masalah di semua negara. Konsep 1 agama 1 kebenaran dan Anda mengikuti agama Anda sendiri. Kini kita di abad 21. Bukan di abad lalu. Pertama, akibat populasi, kedua akibat teknologi, dan ekonomi global. Kini kita semua terkait. Itu kenyataan sekarang. Karena itu kini menurut kenyataan itu, sangat penting bagi kita untuk memiliki konsep beberapa agama, beberapa kebenaran. Dengan landasan itu kita bisa membangun harmoni sejati, diantara manusia berbeda. Tapi bagi perorangan memiliki 1 agama 1 kebenaran itu penting, karena itu menjaga keyakinan Anda sendiri terhadap agama Anda. Tapi dalam hal komunitas, atau dalam hal kemanusiaan, ada banyak situasi berbeda. Jadi beberapa kebenaran, beberapa agama. Suka atau tidak, itulah kenyataannya. Kita manusia realistik, maka harus menerima kenyataan.

DA : Jadi Anda optimis kita bisa meraih harmoni agama?

HH : Ya. Jadi kita yang hidup di abad ini hidup lebih sejahtera. Di beberapa tempat terjadi konflik, itu cukup alami, tapi yang ini akan bertahan. Di abad ini mungkin ada beberapa konflik. Tapi pada dasarnya menurut saya dunia menjadi lebih aman.

DA : Anda sangat optimis.

HH : Ya. Tapi kami tetap perlu bekerja keras.

DA : Caranya ?

HH : Seperti juga stasiun TV Anda, sebagai sebuah perusahaan, orang media memiliki peran penting untuk mendidik orang. Kekerasan adalah metoda yang sangat salah. Kenapa? Kekerasan bisa mengendalikan tubuh, bukan pikiran, bukan emosi. Inti yang ingin saya sampaikan, kekerasan dipakai untuk mengendalikan tubuh ornag lain, bukan pikiran. PIkiran hanya bisa diubah dengan pemahaman, dialog, respek, kasih dan persaudaraan. Baru Anda bisa mengubah pikiran. Hanya itu caranya. Hancurkan cara memakai kekerasan. Kekuatan menimbulkan ketakutan. Ketakutan menimbulkan kemarahan. Kemarahan menimbulkan kebencian. Lalu kekerasan. Kedua, metoda kekerasan tak bisa diperkirakan. Begitu memulai, meski niatnya memakai kekerasan terbatas, tapi begitu dilakukan, tidak bisa diperkirakan. Sangat mudah menjadi kekerasan tak terkendali.

DA : Apakah pengetahuan dan agama dapat menyatu?

HH : Hormati semua agama. Jangan memilih salah satu.

DA : Salah satu masalah utama kita saat ini, tadi Anda menyebut kita sebagai keluarga di 1 planet tapi tak punya pandangan sama tentang perawatannya. Misalnya dialog atau konferensi perubahan iklim. Ini tidak memuaskan. Bagaimana menurut Anda cara kita memperlakukan planet ini?

HH : Sama lagi. Karena mereka menganggap level ke2 jauh lebih penting. Selalu kepentingan nasional yang pertama baru kepentingan global. Maka inilah yang terjadi. Saat Pertemuan Bumi (Earth Summit) pertama terjadi, saya juga hadir. Sangat jelas tampak tiap pemimpin mementingkan kepentingan negaranya. Tapi dibanding hal itu saya rasa dilevel pemerintah, saya rasa makin serius menganggap ini masalah dunia. Masalah perubahan iklim. Ini sangat menarik. Tapi mereka harus melihat kepentingan dunia lebih dulu.

DA : Tapi bagaimana kita bisa merawatnya dengan lebih baik?

HH : Saya bukan ahli di bidang itu. Saya yakin ini masalah penting. Jadi ini masalah yang menyangkut seluruh 6 milyar umat manusia. Tak hanya manusia tapi juga semua mahluk hidup di planet ini. Jadi ini sangat serius.

DA : Kami juga melihat tsunami. Bencana alam yang luar biasa besar. Kini banyak film memakai ide kiamat.

HH : Baru-baru saja saya bertemu beberapa orang, mereka bertanya apakah akan terjadi bencana tahun 2012? Ada yang menanyakan itu pada saya dan saya jawab saya rasa tidak. Saya rasa kita tetap ada selama beberapa abad. Kenapa harus mengeluh? Kita tetap ada selama beberapa abad lagi, entah berapa ribu tahun lagi. Saya tidak tahu itu, tak ada yang tahu. Hanya Tuhan, hanya Allah yang tahu. Pada dasarnya saya optimis, karena di abad 20 kita belajar banyak tentang kemanusiaan. Melalui banyak masalah. Dalam abad dimana 200 juta manusia terbunuh, itu kata para ahli, terjadi banyak bencana, bencana akibat manusia. Sebagai akibatnya saya yakin kita manusia menjadi lebih dewasa. Jadi kini lebih banyak orang berpikir secara holistic. Dan kini diantara ilmuwan terutama ilmuwan medis, banyak dari mereka mulai menyadari kedamaian hati.

DA : Apa itu berarti pengetahuan dan agama menyatu ? Atau saling memahami?

HH : Tidak perlu memakai kata agama, tapi spiritualitas. Kini itu memang berkembang. Makin menunjukkan minat pada kasih, melalui pelatihan.

DA : Bagaimana dengan etika? Untuk mengajar orang tentang etika?

HH: Seperti saya sebut tadi, ada yang tidak peduli pada agama. Mereka juga manusia. Mereka juga menginginkan kedamaian jiwa. Jadi kita harus mencari cara membawa damai bagi mereka dengan tidak percaya ini. Jadi cara atau metoda untuk mengajarkan etika ini juga harus bersifat universal. Jika kita dasarkan pada agama, maka tidak bisa universal. Ada begitu banyak perbedaan.

DA : Jadi harus didasarkan pada spiritualitas ?

HH : Benar. Tapi biasanya saya menyebut sekularitas. Saya harus jelaskan, saat saya memakai kata sekuler, ada beberap alasan, di India itu berarti hormati semua agama. Jangan memilih apapun, dan juga menghormati mereka yang bukan penganut agama. Lalu gunakan pengalaman yang sama dan temuan ilmiah. Dan mendidik pentingnya etika manusia. Itulah sumber kedamaian jiwa. Dan menjalani hidup dengan lebih jujur, itu saja. Untuk mendapatkan kepuasan sejati, hidupmu harus bermakna.

DA : Apa definisi bahagia menurut Anda?

HH : Kepuasan. Untuk meraih kepuasan sejati, hidup Anda harus bermakna. Keberadaan Anda berguna dan bermanfaat. Lalu Anda merasa hidup Anda penting dan berguna. Disini bermakna berarti memberi manfaat bagi orang lain. Mulai dari presiden, raja, ratu, semua memiliki keinginan yang sama. Dan hak yang sama. Semua memiliki hak itu. Kehidupan bahagia, hidup memuaskan. Jadi jika Anda mendedikasikan hidup demi memberi manfaat bagi orang lain, maka kehidupan sehari-hari meski kadang ada kesulitan, kesulitan itu menciptakan situasi dimana hidup Anda menjadi bermanfaat.

DA : Apa Anda sendiri bahagia? Apa Anda merasa bahagia? Anda bicara tentang Kebahagiaan.

HH : Saya merasa bahagia. Saya merasa termasuk orang yang memiliki kedamaian jiwa. Untuk pertanyaan ini, jawaban tepatnya harus kita tunggu beberapa tahun lagi, teknologi mungkin bisa membuat alat untuk mengukur jumlah kedamaian hati orang. (tertawa) Kalau tidak, itu sulit untuk di ukur.
Saya punya 3 komitmen. Satu, mempromosikan nilai manusia di level manusia. Saya hanya 1 dari 6 milyar manusia, dan tidak berbeda. Komitmen kedua, mempromosikan harmoni agama. Disini saya beragama Budha, tugas saya menyebar harmoni diantara agama yang berbeda. Disini saya rasa saya sudah berbuat. Dua komitmen ini, sampai saya tiada akan tetap saya kerjakan. Komitmen ketiga saya untuk Tibet. Saya sudah sebutkan kami memilih pemimpin yang berbagi tanggung jawab. Tiap 5 tahun diadakan pemilihan diantara komunitas warga Tibet.

DA : Bagaimana menumbuhkan kasih dan cara menunjukkannya?

HH : Saya rasa itu mudah. Tanyakan pada 100 orang. Saat Anda bahagia atau sangat marah, atau saat merasakan kasih, saya rasa jawabannya akan sama. Lebih nyaman tanpa rasa marah. Lebih bahagia. Kemarahan bisa datang tapi tidak ada yang menginginkan itu. Tak ada yang inginkan masalah. Kemarahan menimbulkan masalah.

DA : Bukankah sulit menunjukkan kasih pada musuh? Bukankah itu sulit?

HH : Tidak. Tapi jika kita menyadari kepandaian manusia, kebijakan manusia dengan baik. Anda bisa mengembangkan itu, karena semua manusia sama. Otak yang sama. Sumber kepandaian yang sama. Potensi kebijakan yang sama.

DA : Itukah sebabnya Anda bisa tersenyum dan tertawa meski banyak masalah?

HH : Semoga begitu. Karena pikiran saya cukup damai dan tenang. Saya tidak mau faktor lain. Semua saya anggap saudara. Karena itu secara spontan saya ungkapkan perasaan hangat saya lewat senyuman dan tawa.

DA : Bagaimana dengan politik? Itu selalu menimbulkan konflik.

HH : Politik dibawa politisi yang tidak tertarik pada prinsip moral. Maka politik menjadi politik kotor. Begitu juga jika pemeluk agama tidak menjalankan dengan prinsip moral absolut, agama juga akan kotor. Semua menjadi kotor. Ekonomi juga kotor. Semua. Jadi semua ini tergantung pada moral.

DA : Apa Anda tertarik terjun ke politik?

HH : Tidak.

DA : Ceritakan tentang kekuasaan.

HH : Saya rasa kekuasaan sejati adalah kepercayaan diri. Kepercayaan adalah kuncinya. Kekuatan selain itu sebenarnya palsu. Ada kutipan berbunyi, “Kekuatan berasal dari laras senjata”. Kekuatan seperti itu palsu. Kekuatan timbul dari kepercayaan

DA : Bagaimana orang berkuasa, terutama kepala negara, memakainya?

HH : Harus jujur, transparan, tulus, penuh kasih dan bervisi besar. Maka dia menjadi pemimpin sejati. Itu pandangan saya. Benar atau salah, saya tak tahu, silahkan nilai sendiri

DA : Anda sendiri memiliki kekuasaan besar.

HH : Tidak, saya hanya pengungsi. (tertawa)

DA : Ada pesan bagi warga Indonesia?

HH : Negara Anda memiliki umat Muslim terbanyak. Sebagai negara dengan latar belakang sejarah yang panjang saya rasa Anda bisa memberikan kontribusi efektif. Kedamaian dan juga harmoni diantara penganut agama. Karena latar belakang Anda yang beragam. Saat saya berkunjung ke Borobudur dan juga Bali, ada umat Hindu, Kristen, Budha dan juga Muslim. Seperti di India, selama berabad-abad masyarakat disana bersatu. Negara Anda mempunyai potensi menciptakan harmoni antar umat beragama. Negara Anda mempunyai suatu kesempatan untuk melakukannya.

DA : Yang Mulia, apa Anda khawatir siapa yang akan menggantikan Anda?

HH : Tidak. Jangan khawatir. Semenjak tahun 1969 mereka pernah menanyakannya. Saya langsung mengumumkannya secara resmi Institusi Dalai Lama apakah harus berlanjut atau tidak itu terserah rakyat Tibet. Saya tak khawatir. Jika kematian saya datang, masyarakat merasa bahwa Dalai Lama tidak lagi relevan, maka institusi ini akan berakhir.(tertawa)

DA : Terimakasih Yang Mulia atas waktunya.
HH : Terimakasih
DA : Itu luar biasa. Terimakasih