Secara intuitif, saya sering mengamati perilaku rekan-rekan kerja di kantor. Beberapa diantara mereka juga kadang-kadang meminta pendapat profesional kepada saya sebagai psikolog, karena saya satu-satunya orang psikologi di kantor.  Kantor saya tidak punya divisi HRD, karena sifat pekerjaannya by project. Turn over sangat tinggi memang, tapi begitulah adanya. Tidak ada pengembangan karir, pelatihan, bahkan objective performance appraisal, karena sifat pekerjaannya itu tadi. Tidak suka, ya walk out!

Burnout, sudah sangat sering terjadi. Mereka (rekan-rekan kerja saya) punya cara masing-masing untuk mengatasi masalah satu ini. Yang paling parah, karena sudah bertahun-tahun bertahan, mereka bersikap mati rasa! No  involvement with job, just doing whatever they’ve been told to be done. Tragis.

Burnout merupakan istilah psikologis di dunia kerja ketika individu mengalami  kelelahan berkepanjangan dan penurunan minat bekerja (Wikipedia). Burnout merupakan sindrom psikologi yang terdiri atas tiga dimensi, yaitu kelelahan emosional, depersonalisasi dan reduced personal accomplishment atau penurunan pencapaian diri individu (Hariono, 2010).

a. Emotional exhaustion (kelelahan emosional).
Kelelahan emosional merupakan inti dari sindrom burnout. Kelelahan emosional ditandai dengan terkurasnya sumber-sumber emosional, misalnya perasaan frustrasi, putus asa, sedih, dan tidak berdaya, tertekan, mudah tersinggung dan mudah marah tanpa alasan yang jelas.

b. Depersonalisasi.
Merupakan perkembangan dari dimensi kelelahan emosional. Gambaran depersonalisasi adalah adanya sikap negatif, kasar, menjaga jarak, dengan penerima pelayanan, menjauhnya seseorang dari lingkungan sosial, dan cenderung tidak peduli dengan lingkungan serta orang-orang disekitarnya. Sikap lainnya yang muncul adalah kehilangan idealisme, berpendapat negatif dan bersikap sinis.

c. Reduced Personal Accomplishment (penurunan hasrat pencapaian diri).
Disebabkan perasaan bersalah karena telah memberi pelayanan yang tidak baik, karena sebagai pemberi layanan dituntut untuk selalu memiliki perilaku yang positif.

Timbulnya burnout disebabkan oleh beberapa faktor yang diantaranya yaitu :

a. Karakteristik Individu
Sumber dari dalam diri individu merupakan salah satu penyebab timbulnya burnout. Sumber tersebut dapat digolongkan atas dua faktor yaitu :

1) Faktor demografi, mengacu pada perbedaan jenis kelamin antara wanita dan pria. Pria rentan terhadap stres dan burnout jika dibandingkan dengan wanita. Wanita lebih lenturterhadap burnout jika dibandingkan dengan pria, karena dipersiapkan dengan lebih baik atau secara emosional lebih mampu menangani tekanan yang besar. Tetapi pria yang burnout cenderung mengalami depersonalisasi sedangkan wanita yang burnout cenderung mengalami kelelahan emosional.
2) Faktor perfeksionis, yaitu individu yang selalu berusaha melakukan pekerjaan sampai sangat sempurna sehingga akan sangat mudah merasakan frustrasi bila kebutuhan untuk tampil sempurna tidak tercapai. Karena individu yang perfeksionis rentan terhadap burnout.

b. Lingkungan kerja dapat menentukan kemungkinan munculnya burnout seperti beban kerja yang berlebihan, konflik peran, jumlah individu yang harus dilayani, tanggung jawab yang harus dipikul, pekerjaan rutin dan yang bukan rutin, ambiguitas peran, dukungan sosial dari rekan kerja yang tidak memadai, dukungan sosial dari atasan tidak memadai, control yang rendah terhadap pekerjaan dan kurangnya stimulasi dalam pekerjaan.

c. Keterlibatan emosional dengan penerimaan pelayanan atau pelanggan, bekerja melayani orang lain membutuhkan banyak energi karena harus bersikap sabar dan memahami orang lain dalam keadaan krisis, frustrasi, ketakutan dan kesakitan. Pemberi dan penerima pelayanan turut membentuk dan mengarahkan terjadinya hubungan yang melibatkan emosional, dan secara tidak sengaja dapat menyebabkan stres secara emosional kerena keterlibatan antar mereka dapat memberikan penguatan positif atau kepuasan bagi kedua belah pihak, atau sebaliknya.

Ciri-ciri individu yang mengalami burnout kira-kira seperti ini : merasa terjepit, kehabisan tenaga dan kosong. Merasa kecewa, sinis, mudah tersinggung dan tegang. Kepada orang lain terlihat marah atau depresi dan menarik diri. Setiap masalah kecil dapat menyulut rekasi kemarahan atau kehinaan. Saran-saran baik atau penawaran bantuan semuanya tidak didengar. Korban burnout merasa bahwa kehidupan dan pekerjaannya telah kehilangan arti. Apa yang dahulunya menggairahkan dan menantang sekarang menjadi membosankan. Hari kerja seakan urusan yang menyakitkan dan membuatnya frustasi. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, terlalu banyak gangguan yang tidak perlu yang harus ditahan, terlalu banyak masalah sepele yang harus diperhatikan dan tidak ada penghargaan yang dapat dibanggakan pada akhir hari kerja. Banyak orang yang menjadi korban burnout menjadi pengawas jam yang kronis, “santai”, Menghindari tanggungjawab atau orang yang sering mangkir atau mereka pergi kerja dengan cara seperti robot.

Kristi Poerwandari (Kompas.com) memberi tips cara mengatasi burnout sebagai berikut :

a. Mengelola beban kerja secara realistis, menyadari bahwa tidak semua persoalan dapat segera dibereskan secara tuntas.

b. Menyeimbangkan gaya hidup, seperti mengonsumsi makanan sehat, tidur dan istirahat cukup, berolahraga, dan mempertahankan koneksi dengan orang-orang dekat sebagai kelompok dukungan.

c. Mengurangi ketegangan dengan berbagai cara fisik (olah napas, relaksasi, olah tubuh), menyelang-seling aktivitas stres tinggi (misalnya rapat penting, lobi) dengan aktivitas bertegangan rendah (bercakap dengan bawahan), menggunakan waktu jeda atau istirahat untuk recharge energi seperti ngobrol dengan teman dekat, nonton drama-komedi, duduk di depan kolam ikan, atau melakukan hobi.

d. Menyadari atau mewaspadai tanda-tanda awal stres kerja (konflik dengan rekan dan atasan, beban berlebih) dan segera mengambil langkah mengelola atau mengatasinya.

e. Bila masih saja merasa sangat tidak nyaman dan tidak lagi terhubung dengan tempat kerja, bahkan terus berpikir ingin pergi, mungkin memang saatnya bagi kita untuk menemukan atau mengonstruksi yang baru.

Saran menangggulangi burnout dapat juga disimak disini. Namun sebelum itu terjadi, ada baiknya cek kondisi burn out Anda.

Uji  “Burnout” Anda
(terlalu banyak jawaban “YA” merupakan tanda peringatan )
YA/TIDAK

1. ________ Apakah anda selalu merasa tertekan untuk mencapai keberhasilan ?
2. ________ Apakah anda cepat lelah ? merasa letih dan tidak energik?
3. ________ Apakah anda perlu selalu mencari hiburan untuk menghindari perasaan bosan?
4. ________ Apakah orangorang mengjengkelkan anda dengan berkata : “Anda tidak kelihatan begitu sehat akhir-akhir ini”?
5. ________ Apakah anda bekerja makin keras tetapi menghasilkan makin sedikit?

6. ________Apakah satu bidang kehidupan anda secara tidak seimbang menjadi penting bagi anda?
7.________ Apakah anda semakin sinis dan kecewa?
8.________ Apakah anda tidak dapat bersantai?
9.________ Apakah anda tidak luwes ketika memutuskan sesuatu?
10. ________Apakah anda sering terserang oleh kesedihan yang tidak dapat anda jelaskan?
11.________ Apakah anda melupakan perjanjian, batas akhir atau milik-milik pribadi?
12.________Apakah anda makin mudah tersinggung?makin mudah marah? makin kecewa dengan orang-orang       disekitar anda?
13. ________ Apakah anda begitu menyatu dengan kegaitan-kegiatan anda, sehingga bila mereka gagal, anda juga  merasa gagal?
14. ________ Apakah anda selalu khawatir dalam menjaga citra anda?
15. ________ Apakah anda terlalu sibuk untuk melakukan sesuatu bahkan hal-hal rutin seperti menelpon seseorang dan membaca laporan?
16. ________ Apakah anda tidak mampu tertawa dengan lelucon-lelucon tentang diri anda sendiri?
17. ________ Apakah anda tidak dapat berbicara dengan orang lain ?
18. ________ Apakah anda merasa terputus ketika kegiatan dalam hari kerja habis?
19. ________ Apakah sasaran anda tidak jelas, berubah-rubah antara jangka panjang dan jangka pendek?
20. ________ Apakah kesenangan anda sukar dipahami?

Informasi lebih lanjut, bisa disimak disini.

Referensi :

Hariono, F. A. 2010. Burnout Pada Agen Call Center. Skripsi. Fak. Psikologi. Universitas Gunadarma. Jakarta.

http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/10/05495918/Mengatasi..quot.Burnout.quot..di.Tempat.Kerja

Http://teknikkepemimpinan.blogspot.com/2010/09/fenomena-burnout-dalam-organisasi.html