Cerita ini menggugah hati saya. Terutama pemahaman mengenai kebahagiaan dan cinta, bahwa kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia, kita  harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi. Membaca kalimat-kalimat ini, membuat saya merasa terjebak dalam dependensi.

Juga tentang alasan mempertahankan pernikahan berpijak pada anak yang sangat tidak bertanggung jawab, karena membebankannya pada anak. …. bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Ini tentang kewajiban seorang ibu dalam tanggung jawabnya membesarkan anak. Saya setuju. Seperti sebait lagu anak-anak: kasih ibu…. hanya memberi, tak harap kembali. Seharusnya dalam kasih seorang ibu, tidak ada pamrih. Seharusnya tugas ibu hanya memberi, tidak ada imbalan kepatuhan, apalagi balas budi.

Lalu, ada juga yang ini : Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Kelihatannya sangat kontradiktif dengan yang banyak dialami pasangan bermasalah. Biasanya akan lebih mementingkan keutuhan keluarga daripada kepuasan individual, karena bakal dianggap sangat egois. Sebagian besar orang yang memegang prinsip “keutuhan” ini bisa selamat melanjutkan keutuhan itu. Tapi ada juga yang tidak.

Bagi saya, apapun prinsip yang dipegang setiap orang dalam menjalani kehidupannya, jalankan dengan teguh. Jika itu keyakinanmu, maka lakukan dengan benar. Jadi jika kita meyakini apa yang kita lakukan akan menghasilkan yang terbaik, maka hasilnya akan baik. Bagaimana kalau kita salah? Pertolongan Tuhan itu ada dimana saja, Tuhan akan menuntun kita kembali ke jalan yang terbaik. Karena Tuhan Maha Pengasih.

Itulah yang bisa saya simpulkan dari ceritanya Dee. Meski saya baru tahu catatan Dee ini dua tahun lebih setelah dia menulisnya, tetap memberi wawasan baru tentang makna pernikahan, kebahagiaan dan Tuhan. Simak ceritanya.

Dee Idea: Catatan Tentang Perpisahan.