Belakangan ini saya mencoba mengintrospeksi diri, apa yang sudah saya lakukan setiap hari selama ini. Pagi hari saya selalu berpacu dengan waktu. Menyiapkan sarapan anak-anak sekolah terburu-buru, mandi dan dandan kilat bahkan tidak sempat menyisir rambut. Dulu masih sempat memasak untuk makan siang anak-anak, tapi sekarang… boro-boro.. pasti abis mandi sudah menyambar ransel dan tas kerja. Selalu terburu-buru berangkat kantor setiap hari. Dari Senin sampai Jumat. Apalagi hari Jumat, bahkan berangkat lebih pagi karena ada program senam di kantor. Sabtu biasanya saya habiskan di kantor untuk lembur, membenahi file-file, atau sekedar beres-beres berkas. Jika ada tugas mendadak keluar kota, harus siap berangkat, saya harus mengabaikan kebutuhan ibu yang sedang sakit, bahkan pamitpun sambil berlari, juga mengabaikan kebutuhan anak-anak, nantilah.. tunggu ibu pulang. Padahal ketika pulang dari luar kota, saya sudah kembali sibuk dengan tuntutan laporan, tindak lanjut, dan sebagainya. Mungkin bisa dibilang saya ini workaholic dan perfeksionis, semua saya lalukan sebaik mungkin, bahkan saya tidak peduli dengan kondisi usia yang sudah tidak muda lagi. Selama ini saya mengaku menikmati kesibukan ini. Tapi apa yang sebetulnya saya cari? Materi? Rasanya dari bulan ke bulan tetap segitu saja meski pekerjaan semakin tinggi durasinya dan bahkan overload, menghandle beberapa pekerjaan sekaligus, terutama di pertengahan tahun. Saya selalu beralasan, saya harus mengerjakan ini, saya harus begitu, saya harus kesana, siapa yang mengharuskan saya? Dan kenapa saya selalu memaksakan diri untuk sempurna?
Sampai akhirnya datang waktu liburan cuti bersama, selama 4 hari libur, saya bengong, mau ngapain selama 4 hari? Saya gak punya kehidupan lain selain kerja dan kantor. Kasihan sekali deh gue! Saya mulai berpikir, ada apa dengan saya? Kenapa selalu saja saya jealous melihat ibu-ibu muda yang menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, sekedar bermain di Time Zone, jalan-jalan, atau berenang, atau makan bersama. Saya benar-benar jealous. Coz saya tidak bisa melakukan itu semua. Hiks. Kenapa? Pasti ada yang salah dengan saya. Itu kesimpulan saya sementara. Tapi apa? Apa yang saya cari? Apa yang saya coba hindari? (Kalau yang ini sepertinya ada) Saya mencari materi dengan sibuk-sibuk di kantor? Tidak juga. Gaji kan sudah tetap selama setahun. Lalu apa pula yang saya hindari? Yang ini jelas, saya hindari hidup boros. Karena kalau di itung-itung logika, gaji saya cuma cukup untuk makan. Tapi amazing. Selalu saja Allah SWT mencukupkan kebutuhan kami sekeluarga. Jadi kalau pas hari libur panjang, kami tidak pernah kemana-mana, karena tidak ada budget. Seringkali saya tidur atau sekedar leyeh-leyeh sambil nonton tv seharian. Kalau ada rejeki, paling-paling kami belikan makanan enak dari resto untuk dimakan rame-rame di rumah. Sumpah…. saya selalu jealous kalau melihat orang yang boros gaya hidupnya. Astaghfirullah…. Padahal agama mengajarkan bahwa orang yang murah hati dan gemar sedekah pasti akan merasakan ketenangan hidup. Seperti prinsip yang dianut Tukul, senang berbagi dengan orang lain karena ibarat gentong yg mengucurkan “air sedekah”, malah akan selalu di isi terus “air rizki” nya oleh Allah SWT. Subhanalllah… Sikap saya terhadap keduniawian memang belum seperti Tukul, tapi sungguh saya kagum dengan prinsip hidup seperti itu. Seandainya saya bisa….. pasti akan tenang hidupnya….
Oleh sebab itu semua, saya rajin belajar segala sesuatu yang berbau spiritualitas. Semakin saya belajar ini itu, semakin saya tidak paham. Apa sebenarnya hakekat kehidupan. Apakah itu yang saya cari? Entahlah……
Saya cuma seorang ibu biasa yang dikaruniai 3 buah hati sempurna. Bagi saya itu adalah karunia tiada tara. Anak-anak yang sehat dan sempurna. Mencoba menjadi multitasking mom adalah perjuangan besar yang sampai saat ini masih belum bisa saya jalani dengan baik. Selalu saja ada yang salah… Saya hanya mencari ketenangan, tanpa resah memikirkan materi, tanpa resah memikirkan kerjaan belum selesai, tanpa resah memikirkan parenting anak-anak saya, tanpa resah memikirkan masa depan, tanpa resah memikirkan apa yang belum saya capai….. Ikhlas… simple word yg tidak mudah aplikasinya…