Hari ini saya ditugasi anak saya mengambilkan raportnya untuk tahun pertama di SMA. Seperti biasa ritual pengambilan raport dimulai dengan penjelasan kepala sekolah di aula SMA. Ketika sedang mengantri untuk mengisi daftar hadir, di belakang saya ada pasangan bapak ibu. Dari sekilas pembicaraan yang saya tangkap adalah mengenai pembayaran uang pendidikan. Biaya pendidikan itu sebetulnya bisa diangsur sejak bulan pertama masuk sekolah. Tapi biasalah kita selalu menunda-nunda pembayaran hingga hari bahkan detik terakhir. Sepertinya itu juga yang dialami si ibu yang mengantri di belakang saya. Kalau dilihat dari penampilannya, bahkan dari jenis handphone yang dibawanya, gak mungkin ibu ini tidak bisa membayar uang pendidikan yang jumlahnya mungkin sama dengan harga handphone yang dia bawa. Makanya saya tergelitik untuk menguping pembicaraan mereka.

Saya dengar si ibu kebingungan ditagih pihak sekolah pada saat mengisi daftar hadir, karena diminta mengisi lembar konfirmasi dengan tanda tangan kepala sekolah bahwa akan melunasi biaya pendidikan. Atau jika ingin dilunasi, maka bukti pelunasan bisa digunakan untuk pengambilan raport. Lalu si ayah, yg rupanya baru saja datang menyusul si ibu, bertanya, “lha kan kemarin sudah kukasih?”. Lalu si ibu menjawab dengan enteng “Duit sing kuwi wis tak enggo tuku handphone”… (Uang yang itu sudah kupakai beli handphone)… Gubrakkk… Mana bisa se enteng itu bilang ke suami, laporan macam apa itu? Ibu macam apa dia? Batin saya. Bisa-bisanya mengalahkan soal pendidikan anak hanya untuk update handphone? Ckckckckck…. (tiba-tiba banyak cicak di kepala saya)

Untungnya suaminya orang super sabar dan berduit super. Dibayarkanlah kekurangan biaya pendidikan tanpa ada perang mulut diantara mereka. Entah nanti sesampai di rumah…. hahaha…. Ending yang aneh menurut saya. Tapi begitulah realitas hidup. Ada yang bertugas mengumpulkan uang… Ada juga yang punya tugas menghabiskan uang… Betul kan? Lha kalo tidak untuk dihabiskan, lalu untuk apa si ayah mengumpulkan uang banyak-banyak?