76938

Dalam logika manusia, perempuan itu bodoh. Mungkin. Banyak sekali perempuan yang bodoh atau terpaksa menjadi bodoh karena mengikuti norma sosial, dan aturan-aturan lain. Beberapa contoh kebodohan perempuan, antara lain:

  • Dibohongi, padahal perempuan tahu dia dibohongi laki-laki yang menyelingkuhinya, tapi dia diam saja karena memikirkan keutamaan keluarga atau anak-anak, bukankah itu bodoh?
  • Dijadikan tempat berlindung dan bergantung secara materi, bukannya seharusnya laki-laki yang melindungi dan menafkahi perempuan? Tapi perempuan diajarkan harus ikhlas membantu suaminya dan selalu mensyukuri rejeki sekecil apapun yg dibawa pulang suami. Lalu istrilah yang mencari nafkah, padahal di rumah masih punya beban tugas yang tidak boleh ditinggalkannya. Perempuan menjalani tugas ganda, triple atau bahkan quartet: kerja, anak-anak, rumah tangga, suami. Bodoh kan?
  • Dijanjikan surga dan kemewahan, padahal semua palsu. Lalu jika perempuan  marah dan menagih janji. Laki-laki akan bilang, maafkan.. aku sudah berusaha, tapi belum ada hasil, kasih aku kesempatan sekali lagi…. dan laki-laki berjanji tidak akan mengulangi. Lalu perempuan itu percaya, padahal dilakukan lagi dan lagi dan lagi.  Sudah jelas kan perempuan itu bodoh?
  • Dijadikan budak nafsu dengan alibi ajaran-ajaran agama (bagi yg sudah menikah). You know this: kalau istri menolak suaminya hingga suami marah padanya di malam hari, maka para malaikat akan terus mengutuki sang istri sampai pagi. Saya yakin semua perempuan yang sudah menikah tahu ajaran ini. Wah, saya takut meneruskannya, nanti dikira anti-agama. Saya serahkan saja kepada yang ahlinya kalau soal ini. Tapi menurut saya, perempuan punya hak untuk dirinya sendiri. Adalah hal bodoh jika diam saja diperlakukan tidak adil. Bicara, negosiasi, diskusi, whateverlah.. cari solusi yang terbaik untuk semua, bukan cuma menurut saja.

Parodi ini saya temukan ketika tidak sengaja browsing tentang perempuan. Silahkan disimak. Judulnya “Mengenang Suminah” yg saya temukan di milis Aktivis Minang.

* sodikin:
kamu pergi terlalu lama, sum..
kamu ngerti dong, aku kan laki-laki
tapi aku masih tresno sama kamu
o iya, namanya lestari,
anak desa tambaksari,
kamu harus saling ngerti sama dia,
bantu aku berbuat adil sama kalian,

lho?lho.. kamu jangan begitu,
aku kan suamimu,
dosa kamu berani begitu sama suami,
dilaknat api neraka kamu,

*ibu mertua:
perempuan jaman sekarang suka tidak tahu diri
suami ditinggal lama sendiri,
tidak diurus tidak diopeni,
masih untung sodikin sabar hati,
apa dia mau jadi janda?

* ibu suminah:
kita kan perempuan,
ya, sabar, nduk,
aku sudah bilang sama kamu,
jadi perempuan ya harus sabar,
kita kan perempuan

* ibu-ibu:
lha, memang siapa yang jamin suminah tidak main gila sama laki-laki lain di
singapura?
saya dengar-dengar dari suminten iya lho?
dipikir-pikir si lestari memang cantik, suminah pikir suaminya bisa makan
duitnya saja apa..

* pak haji:
istri yang dijanjikan surga oleh allah adalah istri sabar tabah serta melayani
dan mengabdi pada suami,
yang senantiasa berkata lembut menyenangkan hati suami,
patuh dan menurut pada keinginan suami,
selalu tersenyum dalam berkata-kata,
tampil senantiasa bersih dan wangi,
tidur tidak membelakangi suami,
kentut apalagi.
adalah dosa besar istri yang berani melawan keinginan suami,
apalagi berkata kasar dan memaki, melukai hati suami,
jadi tanya pada dirimu sendiri, suminah
apakah kamu sudah melaksanakan kewajibanmu yang sepatutnya sebagai istri,

tapi allah maha menyayangi,
kamu sekarang masih diberi kesempatan untuk mengabdi pada suami,
tunjukkan rasa cinta kamu, bersikap yang pantas sehingga membantu dia bersikap
adil pada istri-istrinya
kelak hanya istri yang bisa menghormati, melayani, dan mengabdi pada suamilah
yang mendapat tempat di surga.

btw, kalau kamu masih ada masalah,
hubungi bapak ya,
istri bapak baru tiga,
insya allah.

* jusfiq:
suminah, kamu oks juga.

Mimpi Suminah untuk menyediakan kesejahteraan lebih baik untuk keluarganya hanyalah mimpi sederhana seorang perempuan seperti halnya cita-cita semua orang. Hanya saja perempuan selalu takut menggapai cita-citanya sendiri setelah menikah, karena tuntutan dapur, kasur dan sumur, tugas-tugas domestik menjadi lebih dominan daripada impian aktualisasi di bidang publik.

Perbincangan ibu-ibu pada cerita suminah di atas merupakan gambaran reaksi sosial yang mengikuti kesuksesan seorang perempuan. Karena secara norma sosial, perempuan diharapkan menjalankan peran sebagai ibu dan istri yang baik dengan peran-peran domestik. Bukan menjadi individu yang lebih menonjol ketimbang suaminya, baik dari segi materi maupun pencapaian karir.

Perempuan itu bodoh kan? tahu dirinya punya kecakapan dan potensi, tapi mengalah pada peran domestik demi menjaga harmoni.

Suminah, bukan perempuan bodoh. Karena dia menjadi diri sendiri. Mengaktualisasikan diri. Menjadi TKI untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Semua keputusan pasti ada konsekuensinya. Termasuk resiko menjadi wanita mandiri.

Sudah selayaknya perempuan mempunyai keputusan sendiri untuk menentukan pilihan hidupnya. Bukan orang lain yang mengatur hidupnya. Kesuksesan karir bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi perempuan. Sudah pasti kesuksesan ini tidak otomatis menjadikan perempuan menjadi maskulin. Tetap harus ada hal-hal feminin yang terus menjadikannya unik. Perempuan feminin yang sukses. Bukan perempuan bodoh.