IMG_6608

Tidak mudah menjadi seorang single mom. A divorce single mom. Banyak perempuan yang ragu menjadi single mom, dan rela didzolimi suami, asal tidak menyandang predikat janda. Termasuk saya. Ketika masih bersuami, saya bertahan sekian tahun untuk menyelamatkan rumah tangga. Meski secara ekonomi saya mampu, (karena saya bekerja, meski bukan pekerjaan dengan penghasilan besar, tapi saya punya power secara ekonomi, yang banyak perempuan lain tidak punya), saya memilih untuk bertahan.

Sahabat-sahabat saya, yang tahu persis perjalanan rumah tangga saya, merasa gemas dengan kebodohan saya. “May, kamu itu berpendidikan tinggi, tapi goblok dalam menyelesaikan masalah rumah tangga”. Dan saya membiarkan semua berlalu dalam komunikasi yang tidak jelas. Kami (saya dan mantan suami) tidak pernah berkomunikasi dengan baik, bicara iya, sekedar bicara, tapi tidak mencari solusi. Hingga masalah menjadi semakin kompleks, karena sudah sekian tahun benang ruwet itu dibiarkan ruwet. Waktu itu saya menyerah. Tidak ada solusi. Cuma satu kemungkinan, divorce. Tapi itu akan menyakiti anak-anak. Dan waktu itu saya memilih menyakiti diri sendiri daripada menyakiti anak-anak. Stupid. Bagaimana mungkin saya bisa menolong anak-anak kalau saya saja tidak bisa menolong diri sendiri. Sekarang saya bisa berpikir seperti itu. Kemarin mana punya nyali? Selalu ketakutan anak-anak akan mengalami trauma. Memang, itu tidak terhindarkan. They’ve been hurt. Tapi dengan rasa sakit itu, justru mereka semakin kuat. Begitu juga saya.

Hingga saat itu tiba. Allah SWT sudah mengatur solusi terindah buat saya. Sampai waktu itu tiba pun saya masih bertahan untuk tidak membubarkan rumah tangga hanya karena masalah narkoba, masalah perselingkuhan, dan masalah hutang piutang yang ditimpakan kepada saya. Dan sahabat-sahabat saya mulai teriak-teriak semakin kencang. Tapi mereka diam, ketika pilihan dan keputusan ada di tangan saya. Waktu itu saya bertahan. Keputusan yang tolol. Beranalogi dengan kapal, biduk rumah tangga kami sudah pecah, dan saya berenang membawa anak-anak dalam pelukan saya untuk survive, sambil menuntun laki-laki yang seharusnya menjadi imam untuk kami.

Ikhlas? Hmmm, bicara memang mudah tapi prakteknya luar biasa. Saya tahu persis rasanya menjadi istri narapidana narkoba, karena saya pernah menjalaninya. Bukan itu saja, saya harus menanggung hutang dan dikejar-kejar orang yang telah ditipunya. Sampai akhirnya saya memilih untuk lepas dari semua itu. Karena saya tidak lagi melihat ketulusan dia untuk memperbaiki rumah tangga. Meski dia bersimpuh mencium kaki saya, semua itu hanya ucapan belaka. Sudah jelas-jelas ada di balik jeruji, tapi saya tidak melihat ada perubahan dalam sikap, dia masih terlibat dengan wanita idamannya, dia masih menuntut saya harus mengurus ini itu.  Sementara saya harus mengurus anak-anak, bekerja untuk tetap bisa hidup, dan membereskan semua masalahnya. Hingga saya pun sempat kena sangsi karena tidak fokus dalam bekerja, terlalu sibuk mengurus masalah keluarga. Hey, cukup sudah pengorbanan saya. Semua rasanya sia-sia jika tidak ada sikap tulus darinya berubah.

Saya menggugat. Sebuah kekuatan luar biasa datang dalam diri saya. Saya harus bisa menolong diri sendiri sebelum menolong anak-anak. Analoginya adalah, jika terjadi kondisi tekanan udara turun di kabin pesawat, yang pertama harus dilakukan adalah memakai masker oksigen untuk kita dahulu, baru memakaikannya untuk orang lain yang kita sayangi. Nah, saya harus bisa mandiri. Sahabat-sahabat saya memberi support. Dan ternyata benar. Ketika putusan itu telah jatuh. Saya merasa lega luar biasa. Saya melihat anak-anak baik-baik saja. Mereka sudah saya kasih penjelasan panjang lebar tentang keputusan saya. Mereka melihat ibunya happy, so mereka juga happy. Saya yakin, keputusan ini membuat mereka menjadi lebih kuat.

Mungkin banyak perempuan yang ragu karena sulit dan mahal mengurus perceraian di pengadilan. Well, sometimes iya. Tapi kita harus smart. Alhamdulillah saya dimudahkan dalam urusan ini. Banyak teman-teman yang membantu. Dari mulai sharing, sampai support ini itu. So, saya juga tidak keberatan jika ada diantara Anda pembaca yang ingin tahu lebih banyak tentang pengalaman saya, atau sekedar sharing. Karena saya banyak dimudahkan dalam urusan saya, maka saya dengan senang hati akan membagi pengalaman ini untuk Anda yang membutuhkan. Silahkan kontak saya via email, YM (maya.dewi@yahoo.co.id) atau inbox di facebook saya.