Bali, sudah terkenal dengan kecantikan alamnya, kecantikan seni budayanya, yang menarik minat wisatawan manca negara terus mengalir ingin sekedar melihat, menikmati liburan, menikah atau berbulan madu di Bali.

gadis baliSeluruh Bali adalah keindahan. Lihat saja pesona gadis-gadis Bali ini. Saya menyimpan kekaguman pada wanita-wanita Bali dengan kekuatan kecantikan luar dalam. Gadis-gadis Bali cantik karena mereka merasa cantik, mereka percaya diri dengan segala yang ada pada diri mereka,  ini memancar keluar dalam aura kecantikan khas gadis Bali. Bukan itu saja, wanita-wanita Bali punya tugas untuk menyiapkan, dan mengikuti ritual di Pura. Berbagai persiapan ritual di Pura seperti sesaji wajib dipersiapkan oleh wanita-wanita Bali, bahkan mereka lebih mementingkan ritual itu daripada kewajiban yang lain.

Perjalanan saya ke Bali membawa pulang kenangan kecantikan wanita-wanita Bali, keindahan pantai Sanur yang tenang, keindahan seni budaya Ubud,  dan keindahan alam Jatiluwih Tabanan Bali dengan sistem irigasi sawahnya yang magnificent!

bebas baliKondisi alam Jatiluwih Tabanan memang sangat indah, hamparan sawah hijau di bagian lembah, dikelilingi gunung-gunung yang seolah menjadi pelindung sekaligus penyedia sumber air dari hutan-hutan di gunung yang mengitari lembah. Ketika saya turun ke sawah, tracking di sepanjang jalan kecil di pinggir sawah, hanya rasa syukur terucap: “Ya Allah, this is so beautiful, thank God for this moment in my life!”.

Ternyata banyak tradisi budaya di balik keindahan Subak (sistem irigasi sawah) di Jatiluwih ini. Warga setempat masih kuat menjaga tradisi budaya ini. Padi-padi yang tumbuh itu hampir seragam, belakangan saya tahu bahwa warga setempat punya hari-hari khusus untuk menanam padi, dan tradisi turun temurun ini masih sangat kuat diyakini warga, sehingga tumbuhnya padi hampir sama usianya. Jika dilihat lebih dekat, memang tanaman padi Bali ini sepertinya berbeda dengan yang saya temui di Jawa. Saking penasarannya, saya sampai menyentuh dan melihat dari dekat satu batang padi yang sudah berisi bulir-bulir padi hijau. Batangnya lebih tinggi daripada batang padi Jawa, dan lebih kokoh tegak berdiri, tidak mudah rebah kena tiupan angin dan hujan. Mungkin juga karena posisi hamparan sawah itu berada di lembah, gunung-gunung itu dengan sendirinya sudah melindungi sawah berisi batang-batang padi. Satu hal lagi yang membuat saya sangat kagum pada kekuatan tradisi Subak. Hampir di setiap petak sawah, atau atau di persimpangan parit pengairan air, selalu ada pura kecil, nuansa religi sangat kuat ketika melewati petak demi petak sawah itu. Sawah-sawah itu terjaga kebersihannya dari kotoran, dedaunan, atau bekas sampah lain. Bagi warga desa, sawah adalah tempat suci, jadi selayaknya tempat suci, harus bersih dari segala macam kotoran, baik sampah dedaunan yang bisa mengganggu kelancaran aliran air, atau kotoran akibat perbuatan manusia.

bali subak

Keyakinan yang dianut secara turun temurun di Jatiluwih dan masyarakat Bali adalah bahwa Subak merupakan perwujudan dari Tri  Hita Karana  berasal dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebahagiaan dan “Karana” yang berarti penyebab. Jadi, Tri Hita Karana berarti “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan” atau tiga hubungan yang harmonis yang menyebabkan kebahagian. Ketiga hubungan tersebut meliputi : 1. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa, 2. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesamanya, dan 3. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya. Ketiga hubungan yang harmonis tadi diyakini akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan ini, yang diwujudkan dalam 3 unsur, yaitu : parahyangan, pawongan, dan palemahan. Parahyangan adalah kiblat setiap manusia (umat Hindu) untuk mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta, wujud konkritnya dalam bentuk tempat suci. Pawongan merupakan pengejawantahan dari sebuah pengakuan yang tulus dari manusia itu sendiri, bahwa manusia tak dapat hidup menyendiri tanpa bersama-sama dengan manusia lainnya (sebagai makhluk sosial). Sedangkan Palemahan adalah merupakan bentuk kesadaran manusia bahwa manusia hidup dan berkembang di alam, bahkan merupakan bagian dari alam itu sendiri. Nilai-nilai tradisi ini memang hanya ada di Bali, karena melekat kuat dengan agama Hindu yang sebagian besar dianut warga Bali.

Nah, pertanyaan di bilik nurani saya adalah, bisakah nilai-nilai kebaikan ini dikembangkan dan diyakini pula di wilayah lain? Hormat pada alam, tentu alam akan kembali menghormati manusia. Tidak ada lagi banjir. Hidup bersih, hidup hijau dengan alam. Harapan, atau sekedar impian?