IMG00467-20130724-0730Bulan lalu saya sempat menginjak tanah Merauke. Lokasi paling ujung di Indonesia ini ternyata tidak seburuk yang saya kira. Di Merauke cukup makmur dengan pertanian, peternakan dan pengelolaan lahan yang bagus. Banyak keturunan orang Jawa tinggal di Merauke. Mereka menyebut diri mereka sebagai Jamer alias Jawa-Merauke. Karena terlahir dari keluarga Jawa, tapi belum pernah menginjak tanah Jawa! Ahay…

Pada jaman “oder-baru” banyak transmigran dari Jawa bermukim di Merauke. Mereka mulai mengolah lahan yang lunak. Para transmigran ini bertani dan beternak. Mereka cukup sukses bertani karena tanahnya bagus. Mereka menyebut tanah disana berlumpur. Di Merauke tidak pernah ada bangunan lebih dari 2 lantai, pasti goyang dan ambles, karena tanahnya lunak, begitu kata warga setempat. Namun kondisi tanah yang lunak dan subur ini menguntungkan transmigran dari Jawa, hasil tani dan ternak mereka dipasok untuk wilayah Papua, bahkan ternak babi dari Merauke laris diborong ke Wamena, begitu katanya.

Pada awalnya, ketika mendapat tugas ke Merauke, saya sempat deg-degan. Apa aman perjalanan pesawat ke sana? Jenis pesawat apa yang saya naiki? Bagaimana cuaca di seputar Merauke? Maklum, banyak cerita tidak sedap tentang bumi Papua, terutama kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga banyak terjadi kecelakaan pesawat.

Untungnya, saya tidak harus berangkat dari Jakarta menuju Merauke. Tapi singgah dulu di Jayapura ke kantor pusat klien kami. Besoknya sesuai waktu yang telah diatur oleh klien, saya berangkat dengan penerbangan pagi menggunakan Lion Air menuju Merauke. Pesawatnya cukup besar dan penumpangnya cukup banyak, seperti yang biasa saya tumpangi dengan rute Jakarta – Yogyakarta. Waktu tempuh Jayapura – Merauke sekitar 1 jam dengan kondisi cuaca yang cukup bagus. Saya merasa tenang, berdoa dan berniat bekerja dengan baik Berdoa juga untuk kepulangan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Karena perubahan cuaca mendadak di wilayah Papua sering terjadi, dan jadwal penerbangan bisa berubah sewaktu-waktu. Penerbangan Jayapura Merauke hanya dilayani maskapai Lion Air dan Merpati Nusantara Airlines. Saya sudah menikmati terbang dengan 2 maskapai ini, karena perjalanan saya kembali ke Jayapura menggunakan MNA.

Setiba di bandara Merauke, saya cukup terkejut. Weih, ini bandara sekecil ini! Mirip terminal bis di kota kabupaten! Bukan maksud saya mem-primitifkan keadaan ini, tapi inilah kenyataannya. Jadi jangan dibayangkan fasilitas bandara seperti di Jakarta atau Surabaya yah… Begitu sampai di bandara, saya mencari toilet, sudah kebiasaan…. Toilet disediakan, hanya saja fasilitasnya seadanya. Silahkan dibayangkan sendiri. Untunglah saya dijemput pihak klien, jadi saya tidak perlu bingung masalah transportasi ke tempat tujuan.

Setelah seharian bekerja, petang hari selesai, saya dijamu makanan khas Merauke yaitu Daging Rusa Lada Hitam. Hmmmm gurih, empuk, mak nyuss pokoke. Setelah itu saya diantar ke hotel. Di Merauke ada beberapa Hotel yang bagus, salah satunya Swiss-Bell Merauke yang terletak di Jalan Raya Mandala, Bambu Pemali, Merauke. Swiss-Bell Hotel Merauke tidak bertingkat ke atas kamar-kamarnya, tetapi menjorok ke belakang. Tapi sayangnya saya tidak menginap disitu. Haha.

Saya menginap di Itese Hotel, lokasinya tidak jauh dari kantor klien kami. Itese Hotel cukup bagus, bersih dan terang, lampu kamar cukup banyak. Fasilitasnya juga cukup lengkap. Hotel ini memiliki cafe di dalam, saya cukup lega, karena saya pikir, saya bisa pesan ini itu kalau kelaparan malam-malam. Tapi ternyata saya salah. Cafe di hotel itu sudah tutup sejak sore, jadi kalau ingin cari makanan harus berjalan ke luar hotel. Ini terjadi di hari kedua. Saya kelaparan, dan mencari makanan keluar. Untungnya ada warung nasi goreng seperti angkringan di Jawa, saya langsung saja pesan, dan penjualnya juga orang Jawa…. Bapak penjual nasi goreng ini juga keturunan Jawa dari para transmigran di wilayah ini.

Daging rusa begitu populer dan menjadi khas di Merauke karena masih banyak stok rusa liar untuk santapan lezat daging rusa lada hitam. Juga buaya, yang diambil kulitnya untuk dibuat souvenir khas Merauke berupa dompet, tas, sepatu, ikat pinggang, dll yang dibuat pengrajin setempat. Jadi untuk oleh-oleh khas Merauke, bawakan saja dompet atau tas kulit buaya. Sayang sekali saya tidak sempat ke perbatasan Indonesia – Papua Nugini yang ditandai semacam tugu. Perjalanan ke perbatasan dari kota Merauke cukup memakan waktu, yaitu sekitar 2 jam, menurut warga setempat.

Begitulah sekelumit kisah tentang Merauke dari sisi pengalaman pribadi saya. Kota ini kecil tapi cukup nyaman. Situasi jalanan tidak setegang Jayapura. memang sedikit sulit mencari fasilitas swalayan untuk kebutuhan sehari-hari, yang ada hanya toko kelontong biasa. Nah, bagi yang ingin berkunjung, silahkan menikmati Merauke yang indah.