IMG00681-20131021-0743Oktober lalu saya ditugaskan ke kota Mulia kabupaten Puncak Jaya Papua. Daerah konflik di wilayah pegunungan Papua. Saya sedikit deg-degan juga, dan banyak pertanyaan dalam benak saya, seberapa gawat kondisi keamanan disana? Karena kabarnya banyak korban jatuh karena penembakan, maupun penyerangan lainnya. Bagaimana cuaca disana? Karena kabarnya sudah sering pesawat tidak jadi mendarat di Mulia karena cuaca yang tidak bersahabat. Dan tentu saja, yang bisa mendarat di landasan Mulia hanya pesawat kecil. Lalu dimana saya tinggal? Tentu saja daerah puncak gunung tidak ada hotel. Mungkin ada, tapi fasilitas sangat minim, belum tentu juga aman, bisa saja terjadi kriminal. Haduh… Cenut-cenut juga rasanya kepikiran soal itu semua.

IMG00645-20131020-1423Bersyukur saya tidak sendiri dalam perjalanan ke Mulia. Saya ditemani salah satu staf dari kantor cabang klien kami di Mulia. Novi namanya. Perempuan asli papua yang sudah cukup lama tinggal di Mulia bahkan mendapatkan jodoh di Mulia, dia baru saja menikah beberapa bulan yang lalu dengan aparat keamanan di kota ini.

IMG00620-20131019-1008Perjalanan ke Mulia ditempuh dalam waktu 1 jam dengan pesawat jenis Caravan, pesawat dengan baling-baling satu di depan dan berpenumpang maks 9 orang. Saya terbang dengan Susi Air. Sumpah baru sekali seumur hidup di usia yg ke 45 ini saya nekat naik pesawat sekecil ini.

IMG00619-20131019-0945Supaya sedikit relaks, saya minum obat anti mabuk. Saya tidak mau terjadi apa-apa dan merepotkan banyak orang. Satu hal yang membuat sedikit tenang, pilot dan copilotnya bule, masih muda, dan ganteng! Hahai…

Perjalanan udara dengan pesawat kecil ini hanya memakan waktu 1 jam. IMG00621-20131019-1011Ternyata terbang dengan pesawat kecil tidak seseram yang saya duga. Saya enjoy sekali menikmati bumi papua dari ketinggian. Sayang saya tidak membawa kamera. Jadi tidak bisa memotret indahnya tanah Papua dari ketinggian. Sebelum mendarat saya sempat terpesona dengan kota Mulia. Posisinya di lembah diantara gunung, jadi pesawat mendarat melalui celah diantara 2 gunung di samping kiri dan kanan. IMG00623-20131019-1136Teman-teman bercerita pernah pesawat ditembak ketika akan mendarat. Hmmmm……. Saya sibuk berdoa semoga landing dengan lancar. Sesaat setelah mendarat, saya sibuk berpotret dengan copilot dan hampir saja melupakan bagasi yang diturunkan begitu saja disamping pesawat dan rawan diambil orang…. Hahaha…

Saya dijemput pihak kantor dan langsung menuju asrama kantor tempat saya menginap. Setelah itu saya ke kantor untuk menuntaskan tugas hari itu. IMG00675-20131021-0732Sebentar kemudian saya sudah kembali ke asrama, karena hari sudah mulai sore dan udara sudah mulai dingin. Asrama kantor letaknya di belakang kantor. Bangunannya dari kayu seperti rumah panggung. Sebagian besar bangunan di Mulia dibangun dari kayu, kecuali beberapa kantor besar yang dibangun dari batu dan semen. Pasokan semen sangat jarang dan mahal, jadi hanya beberapa bangunan penting di kota yang dibangun dengan batu dan semen.

IMG00659-20131020-1437Satu hal yang tidak pernah saya lupakan. Udara yang dingin menusuk ke dalam kulit. Saya tidak mengukur berapa derajat dinginnya tapi wiiiiiih dinginnya superrrrr. Saya sampai bingung sudah pakai jaket tebal, pakai kaos kaki, pakai selimut tebal, masih saja udaranya menusuk sampai masuk ke telinga. Akhirnya kepala saya tutup pakai selendang, baru si udara dingin tidak lagi menusuk menggigit ke dalam telinga, tapi ke perut… Ahai…. Saya pakai segala macam pakaian yang saya bawa sebagai penutup perut. Bisa bahaya kalau perut diserang, diare saya bisa kumat. Eh, beneran… besok paginya saya kena diare… hadududuh untung saya bawa obat-obatan.

IMG00640-20131020-1414Hari kedua, saya sempat jalan-jalan di seputar kota. Ada bangunan yang dianggap sebagai ikon kota Mulia, semacam tugu begitu. Saya sempat foto di tugu perdamaian, saya sebut saja begitu. Kota ini indah dengan panorama gunung-gunung tinggi di sekitarnya. Jalan utama kota dibuat 2 jalur dengan aspal bagus.

Di ujung kota ini ada bandara Mulia. Satu-satunya akses keluar masuk yang relatif aman dan cepat adalah pesawat. Jalan darat bisa ditempuh tapi berbahaya dan butuh waktu lama, bisa seharian ke Wamena.

IMG00689-20131021-1406Di tengah kota ada pasar, orang gunung biasa menukar hasil bumi yang mereka tanam di gunung dengan kebutuhan bahan pokok seperti minyak goreng, gula, kopi, dan lain-lain. Mereka berjalan kaki dari gunung-gunung di sekitar kota Mulia. Bisa seharian mereka turun gunung untuk menjual sayur, buah atau hasil bumi lainnya, mereka tidur di pasar, dan baru kembali esoknya membawa bahan pokok.

IMG00651-20131020-1430Ada satu kompleks yang dipagari, letaknya masih di dalam kota, yang isinya adalah penduduk asli yang tinggal di rumah Honai, rumah asli penduduk Mulia.

Agak mendaki di daerah bukit, dekat batas kota, ada kompleks perkantoran untuk kegiatan pemerintahan di Mulia. Perumahan penduduk kota, dekat di daerah pasar, dengan berbagai macam fasilitas rumah ibadah, rumah sakit, sekolah, dan tempat olahraga. Saya tertarik mendaki ke atas bukit yang lebih tinggi karena keindahan alam di sekitarnya, tapi teman-teman yang mengantar saya mengatakan agak bahaya naik ke daerah itu.  IMG00648-20131020-1427Lagipula sore sudah tiba, sebentar lagi jam malam tiba. Di Mulia berlaku jam malam, setelah pukul 6 WIT, tidak boleh ada kegiatan diluar, rawan kejahatan dan penyerangan. Jadi kami berbalik arah kembali ke arah asrama. Mampir sebentar di warung bakso yang seporsi harganya 25 ribu rupiah…. Aiih

IMG00667-20131020-1447Semalam diserang kedinginan parah membuat saya lebih menyiapkan diri di malam kedua. Untunglah malam kedua hujan, jadi tidak sedingin malam pertama. Tapi listrik mulai bleret… karena sumber listrik adalah PLTA. Kalau hujan, air kotor, mengganggu peralatan pembangkit listrik. Selain itu juga sinyal ilang!! Saya jadi bengong mau ngapain. Bener-bener serasa berada di dunia antah berantah. Penerangan minim, komunikasi dengan dunia luar tidak ada. Keluar rumah juga tidak bisa. Jadi cuma bisa menahan dingin meringkuk di kamar dan berusaha tidur walaupun tidak ngantuk dan berharap malam segera lewat.

IMG00655-20131020-1435Besoknya, saya kembali ke Jayapura. Saya menumpang pesawat jenis yang sama, tapi dengan maskapai Enggang Air, pilotnya lokal, tidak seperti Susi Air yang pilotnya bule, muda dan ganteng. Ehem…. Perjalanan kembali ke Jayapura sedikit melewati awan mendung dan hujan, dengan pesawat kecil terasa sekali goncangan angin dan hujan, jadi serasa goyang Caisar sedikit di ketinggian. Akhirnya dalam sejam mendarat di bandara Sentani saya kegirangan luar biasa, seperti kembali ke peradaban. Begitulah kota Mulia. Meski hanya 2 malam, serasa 2 abad lamanya, apalagi ketika komunikasi terputus dengan dunia luar. Tapi keindahan kota ini tidak pernah saya lupakan.

Keterangan:

Honai=rumah asli penduduk Mulia berbentuk setengah bola seperti rumah teletubbies, namun terbuat dari kayu yang dijajar melingkar dan atapnya ditutup dengan rumput ilalang kering.