IMG00478-20130804-1736Sudah setahun sejak saya sendiri, menjadi single parent. Sudah waktunya saya mencari pasangan hidup lagi. Usaha pencarian sudah saya lakukan, tapi jodoh hanya Tuhan yang tahu.

Mengingat kegagalan rumah tangga saya sebelumnya, saya menjadi sangat berhati-hati dan sangat pemilih dalam menetapkan calon pasangan hidup saya kelak. Ada yang memenuhi kriteria saya, tetapi suami orang! Hadeh…. saya gak mau terlibat masalah lebih banyak. Tanggung jawab saya masih banyak. Mendidik anak-anak sampai mereka mandiri itu satu tugas yang tidak mudah dengan single parent. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mencari pasangan hidup baru. Anak-anak saya ajak diskusi. Saya tanya mereka bagaimana kalau ibunya punya suami lagi? Saya tidak mengatakan Bapak baru, karena bapak mereka hanya satu, ya Ayah mereka. Jadi mereka tidak wajib memanggil atau menyebut suami saya kelak dengan sebutan bapak, papa, atau yang sejenisnya. Anak-anak menyerahkan keputusan pada saya untuk mencari pasangan hidup baru. Dan mulailah secara terbuka saya bercerita tentang pria-pria yang mendekati saya. Tentu saja dalam bahasa mereka. Saya bilang pada mereka, ibu sangat memilih, jadi mungkin nanti kalau gak cocok ya gak jadi, lebih baik memilih dengan hati-hati dari sekian banyak pria, daripada kawin-cerai gak jelas, emang gue artis??!!

Sebetulnya kriteria saya gampang, silahkan disimak:

1. Pintar. Ukurannya berpendidikan minimal S2 atau setara S2 begitulah. Karena saya suka diskusi banyak hal dengan pasangan hidup, jadi dia harus bisa mengimbangi cara pikir saya.

2. Kuat dalam keimanan. Karena dia akan memimpin saya sebagai imam hidup saya, maka dia harus bisa membimbing saya menjadi lebih baik. Ukurannya minimal pernah menjalankan ibadah Umroh.

3. Mapan. Dia harus punya tempat tinggal untuk saya. Meskipun saya punya rumah, tapi saya lebih suka menempati rumah baru yang netral (walaupun sewa rumah….). Ini untuk meminimalkan fitnah yang bisa saja muncul dari sana sini. Satu lagi cacatan penting bahwa siapapun yang menjadi pasangan hidup saya kelak, akan menerima saya secara paket, beli satu bonus 3, mau terima saya ya harus terima juga 3 anak saya. Bukan berarti saya mau ongkang-ongkang dan menyerahkan segalanya pada suami baru, saya punya pekerjaan (meskipun freelancer) dan saya bertanggungjawab penuh atas pendidikan anak-anak saya. Suami baru saya kelak tidak wajib bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak saya.

4. Ganteng. Nah, ini dia yang ukurannya susah ya…. Sangat subyektif. Sesuai selera saya. Hehe.

Teman-teman saya banyak yang komentar soal kriteria ini. Paling sering adalah komentar kemustahilan eksistensi pria yang sesuai kriteria saya. Saya dibilang terlalu muluk. Mana ada laki-laki yang mau sama janda anak tiga. Kalaupun ada seumuran saya, pasti lebih memilih perempuan muda tanpa anak dan yang masih produktif menghasilkan keturunan… Tapi saya sangat yakin. Pasti dia ada.

Saya bukan seperti Syahrini yang glamour dan bisa dipamer-pamerin. Saya juga bukan seperti Musdalifah yang kaya raya sebagai tempat lelaki bergantung hidup. Saya perempuan biasa yang berjuang sendiri menghadapi hidup. Saya hanya butuh teman untuk menjalani hari-hari tua saya, dan menemani saya saat anak-anak sudah menjadi dewasa dan mandiri.

Sudah tentu saya berusaha tapi jodoh itu rahasia Tuhan. Saya tidak pernah tahu apakah pria yang cocok dengan kriteria saya nantinya itu adalah jodoh saya. Yang saya tahu, God has amazing plan. Semua rencana Tuhan adalah yang terbaik untuk saya. Kiranya Tuhan mengijinkan saya berjodoh dengan pria terbaik. Amin. Inilah salah satu resolusi saya untuk tahun 2014. Tulisan ini saya buat pas akhir tahun 2013.