Kisah ini saya sadur dari buku Mahabarata yang ditulis oleh C. Rajagopalachari. Drupadi adalah satu tokoh yang menginspirasi saya karena keteguhan dan kekuatan hatinya. Silahkan disimak satu kisah Drupadi ketika awal mula menjadi istri Pandawa. Hmmm poliandri yang sempurna…

drupadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Ketika Dewi Kunti dan para Pandawa hidup menyamar di Ekacakra, mereka mendengar kabar tentang sayembara untuk memperebutkan Drupadi, putri mahkota Kerajaan Panchala. Para brahmana Ekacakra berencana pergi ke Panchala dengan harapan mendapatkan sedekah yang berlimpah serta menyaksikan pesta raya dan arak-arakan pernikahan agung.

Naluri keibuan Dewi Kunti dapat mengetahui bahwa anak-anaknya ingin pergi ke Panchala untuk mengikuti sayembara itu. Agar mereka tidak malu mengutarakan niat mereka, dengan halus ia berkata kepada Yudhistira: “Kita sudah lama tinggal di negeri ini. Sudah saatnya kita pergi dan melihat-lihat negeri lain. Ibu sudah bosan melihat gunung, lembah, sungai, dan alam sekitar sini. Sedekah yang kita peroleh juga semakin sedikit. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Mari kita pergi ke Kerajaan Panchala yang konon subur dan makmur. “Dewi Kunti yang bijaksana dan cerdas bisa membaca pikiran anak-anaknya dan bisa membuat anak-anaknya tidak perlu malu mengungkapkan keinginan mereka.

Maka berangkatlah para brahmana ke Panchala dan para Pandawa ikut bersama mereka dengan menyamar sebagai brahmana. Setelah menempuh perjalanan yang jauh, mereka akhirnya tiba di kota kerajaan yang indah. Para Pandawa menumpang di rumah tukang kendi dengan tetap menyamar sebagai brahmanauntuk menghindari perhatian. Meskipun dari luar Drupada dan Durna tampak tidak bermusuhan, Drupada masih belum dapat melupakan atau memaafkan penghinaan yang dilakukan oleh Durna. Salah satu doa permohonan Drupada adalah menikahkan putrinya dengan Arjuna. Durna sangat mencintai muridnya itu sehingga kecil kemungkinan akan melihat mertua muridnya sebagai musuh. Berkat Arjuna, jika terjadi perang, pihak Drupada akan menjadi jauh lebih kuat. Awalnya Drupada sangat sedih ketika mendengar kabar kebakaran di istana Waranawata. Tapi kemudian, ia sedikit lega ketika mendengar kabar bahwa para Pandawa bisa meloloskan diri.

Panggung perkawinan telah dihias dengan sangat indah dan dikelilingi bangunan-bangunan peristirahatan untuk menampung para tamu dan peserta sayembara. Berbagai hiburan dan pesta meriah sudah disiapkan untuk memeriahkan pernikahan Drupadi. Rencananya pesta pernikahan akan dilangsungkan selama empat belas hari.

Di tengah arena diletakkan sebuah busur besi raksasa yang sangat besar dan berat. Orang yang ingin menyunting putri Raja Drupada harus bisa mengangkat busur itu dan membidik sasaran yang telah ditentukan dengan anak panah. Sasaran itu digantungkan di belakang roda cakra yang terus berputar tanpa henti. Dengan demikian, dibutuhkan kemmpuan yang melebihi kemmapuan manusia biasa untuk bisa memenangkan sayembara ini. Drupada mengatakan bahwa siapapun yang ingin mempersunting anaknya harus bisa mengangkat busur itu dan mengenai sasaran yang telah ditentukan. 

Banyak pangeran yang gagah berani dari berbagai kerajaan mengikuti sayembara. Putra-putra Destarata juga hadir, demikian pula dengan Karna, Krishna, Sisupala, Jarasanda, dan Salya. Disamping para peserta sayembara, banyak sekali penonton dan tamu ingin menyaksikan pesta besar itu. Sorak sorai mereka seperti gemuruh ombak lautan. Ratusan alat gamelan ditabuh bertalu-talu. Dari arah istana, keluar arak-arakan megah. Paling depan tampak Dristadyumna menunggang gajah dan kemudian disusul Drupadi yang duduk di atas singgasana di punggung gajah. Dengan wajah segar setelah mandi air kembang dan mengenakan pakaian sutra yang berkibar-kibar ditiup angin, masuk ke arena sayembara. Kehadiran dan kecantikannya yang sempurna menyemarakkan suasana. Dengan tersipu dan karangan bunga di tangan, Drupadi memandang para pangeran yang gagah perkasa. Mereka hanya bisa diam karena terpukau dengan kecantikan Drupadi. Setelah itu ia turun dari punggung gajah. Para brahmana mulai membaca mantra dan membakar persembahan yang telah disediakan. Ketika kidung-kidung suci dilantunkan, tetabuhan gamelan berhenti. Suasana menjadi tenang. Kemudian Dristadyumna menuntun tangan Drupadi ke tengah arena. Kemudia ia berkata dengan lantang dan jelas:  “Mohon perhatian yang mulia sekalian. Disini diletakkan busur. Disana sasarannya. Dan ini anak panah yang akan digunakan. Ia yang dapat melepaskan lima anak panah secara berurutan melalui lubang roda cakra itu dan tepat mengenai sasaran, memenangkan sayembara ini. Jika ia berasal dari keluarga baik-baik, ia boleh mempersunting adikku, Drupadi. ” Kemudian ia membacakan nama dan riwayat peserta sayembara untuk adiknya.

Banyak pangeran yang termasyur mencoba peruntungan mereka. Satu per satu maju ke arena. Tetapi busur itu terlalu berat, demikian pula dengan anak panahnya. Dengan perasaan malu dan sesal, mereka kembali ke tempat duduk mereka. Sisupala, Jarasanda, Salya, dan Duryudana juga gagal mengangkat busur itu.

Ketika Karna maju ke tengah arena, para penonton sudah mengira dialah yang akan memenangkan sayembara. Tapi anak panahnya meleset seujung rambut. Selain itu, begitu anak panah dilepaskan, busurnya terpelanting lepas dari pegangan. Para penonton berteriak riuh. Ada yang berseru bahwa sayembara ini terlalu berat. Tidak mungkin ada yang sanggup memenangkannya. Sayembara ini hanya dimaksudkan untuk mempermalukan para pangeran. Tiba-tiba keributan itu terhenti. Diantara mereka muncul seorang brahmana muda. Dengan tenang ia melangkah menuju tempat dimana busur itu diletakkan.

Brahmana muda itu adalah Arjuna yang menyamar. Ketika ia berdir, para penonton mulai ribut kembali. Golongan brahmana sendiri terpecah menjadi dua. Mereka berdebat. Ada yang mengatakan bahwa sungguh baik ada yang mewakili golongan mereka. Yang lain berpendapat, seorang brahmana tidak pantas mengikuti sayembara dan bersaing dengan para pangeran. Ksatria sakti seperti Karna dan Salya saja gagal, apalagi seorang brahmana. Dari antara hiruk pikuk itu, terdengar suara lantang:  “Tunggu dan lihatlah bentuk badan dan raut wajah brahmana muda itu, aku yakin ia akan memenangkan sayembara ini. Dia terlihat begitu yakin dan jelas kalau dia tahu apa yang harus dilakukannya. Mungkin, secara fisik seorang brahmana memang lemah, tapi itu kan hanya kekuatan fisik. Bagaimana dengan kekuatan memusatkan pikiran? Mengapa tidak kita beri dia kesempatan?” Dan para penonton mengelu-elukannya, tanda memberikan dukungan.

Arjuna mendekati tempat busur itu diletakkan dan bertanya kepada Dristadyumna: “Bolehkah seorang brahmana mencoba busur ini?” Dristadyumna menjawab: “Brahmana muda, adikku akan menikahi siapapun yang berhasil mengangkat busur ini dan mengenai sasaran. Apa yang telah diucapkan tidak akan dicabut.”

Kemudian brahmana muda itu diam sejenak, mengheningkan cipta. Ia memohon restu pada Narayana, Hyang Widhi. Ia angkat busur itu dengan mudah.  Ia memasang kelima anak panah pada tali busur dan melihat sekeliling sambil tersenyum.  Para penonton terdiam. Mereka menunggu dengan hati berdebar-debar. Lalu, tanpa jeda atau keraguan ia lepaskan kelima anak panah itu secara berurutan meluncur masuk ke dalam roda cakra yang terus berputar dan tepat mengenai sasaran. Sasaran itu jatuh ke tanah! Para penonton bersorak sorai dan gamelan segera ditabuh.

Untuk mengetahui kisah selengkapnya, silahkan download disini:

http://downloads.ziddu.com/download/23794146/SAYEMBARA-DRUPADI.pdf.html

Simak juga tulisan saya yang lain tentang Drupadi, ada Drupadi: kekuatan perempuan, dan Derita Drupadi.