Mumpung semua orang sedang “pesawat mania” akibat kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 desember lalu, saya menuliskan pengalaman pribadi saya sebagai penumpang pesawat dalam satu perjalanan penerbangan yang menyebalkan…

Kejadian ini sekitar bulan Oktober 2013. Saya sedang dalam perjalanan dari Sorong ke Jayapura dengan maskapai penerbangan yang melayani rute itu (tidak perlu saya sebutkan nama maskapainya yah..). Terbang dari Sorong ke Jayapura sekitar 2 jam tapi harus transit dulu di Manokwari. Jadi Sorong-Manokawari sekitar 1 jam perjalanan dan Manokwari-Jayapura 1 jam juga.

Berangkat dari bandara Sorong, jumlah penumpang cukup banyak hingga hampir memenuhi semua seat. Saya lupa tipe pesawatnya apa dan berapa jumlah seat yg ada, tapi yang saya ingat saya duduk di seat nomer 20an dan di belakang saya masih ada beberapa deret seat yg penuh. Perjalanan Sorong-Jayapura lancar, cuaca cerah, dan kru pesawat bertugas seperti biasa, kami dapat jatah air mineral dan sekotak roti.

Turun di Manokwari, beberapa seat langsung kosong. hampir 60% penumpang turun di Manokwari. Saya dan penumpang lain tujuan Jayapura diminta tetap tinggal di pesawat sampai penumpang yang dari Manokwari naik ke pesawat. Ternyata jumlah penumpang dari Manokwari tidak banyak, jadi sebagian besar seat di belakang saya kosong. Para flight attendance mengecek semua penumpang dan bagasi di kabin pesawat seperti biasa. Tiba-tiba perhatian saya tertuju pada percakapan salah seorang pramugari dengan seorang bapak yang meminta beliau untuk memindahkan tas bawaannya ke bagasi kabin di atas, karena posisi beliau ada di baris yang persis di depan pintu darurat. Penumpang itu seorang bapak berusia sekitar 50 tahun dan bersuku papua (mohon maaf tidak bermaksud memberi penilaian apapun karena yang saya tahu dari penampilan fisik bapak tersebut bersuku papua tapi saya tidak tahu suku mana). Yang saya heran, kenapa bapak itu bisa duduk di baris itu karena biasanya yang diberi seat di dekat pintu darurat sudah dipilih oleh petugas ground adalah tipe orang yang diperkirakan kuat membuka pintu darurat pesawat jika terjadi keadaan darurat. Lalu saya menyimpulkan sendiri, oh barangkali karena banyak seat masih kosong, bapak tersebut boleh memilih seat yang mana dia suka. Posisi saya sendiri ada dua baris di belakang bapak itu dan di sisi seberang, jadi saya bisa melihat dengan jelas percakapan antara pramugari dan bapak itu.

Awalnya pramugari mencoba menjelaskan bahwa tidak boleh ada bagasi di lorong dekat pintu darurat. Lalu meminta bapak itu menaruh di kabin bagasi yang lokasinya di atas. Bapak itu menolak. Dia maunya tasnya ditaruh di dekat kakinya saja. Tas hitam milik bapak itu berupa tas travel yang tidak terlalu besar, tapi saya heran kenapa beliau tidak mau menaruhnya di kabin bagasi di atas. Lalu pramugari menjelaskan lagi kalau bapak mau tasnya ada di bawah, berarti beliau harus pindah tempat duduk karena tidak boleh ada bagasi di lorong pintu darurat. Eh, bapak itu malah marah, dan dengan nada kesal menggumamkan sesuatu yang saya tidak paham. Intinya beliau ngeyel tidak mau pindah tempat duduk. Karena respon yang tidak menyenangkan itu, pramugari menyerah dan membiarkan tasnya ada di dekat kaki si bapak.

Sewaktu penjelasan safety flight oleh pramugari, berhubung bapak itu duduk di seat yang dekat dengan pintu darurat, maka pramugari juga memberikan penjelasan khusus kepada beliau tentang “tugas”nya sebagai penumpang yang duduk di dekat pintu darurat, dan menjelaskan cara-cara membuka pintu darurat pesawat. Saya melihat dengan jelas si bapak sama sekali tidak mau mendengar penjelasan pramugari. Beliau berlagak sok tahu, dan memalingkan muka ke arah lain sambil menggumam tidak jelas. Saya mulai berpikir, wah… ada yang gak beres nih sama si bapak. Beliau tidak paham aturan penumpang pesawat tapi keras kepala seolah sudah tahu segalanya. Wah, bisa kacau penerbangan kalau penumpangnya seperti ini. Saya berdoa, semoga penerbangan lancar.

Ada satu hal lain yang membuat saya terhenyak, yaitu sikap kru fight attendance yang terkesan bercanda ketika menjelaskan mengenai safety flight. Seperti biasanya mereka bekerja secara tim, ada yang memeragakan cara memasang pelampung, dan seterusnya, dan ada yang memberikan penjelasan melalui pengeras suara. Saya sangat kecewa pada para flight attendace itu berhubung sikapnya yang sangat tidak profesional karena becanda dalam bertugas, yaitu dengan menyebutkan bahwa si peraga bernama princess Syahrini sambil tertawa. Setahu saya, ada penumpang di bagian depan yang sudah memperingatkan si pramugari, dan untungnya mereka kembali bersikap serius. Meski masih terdengar suara tertawa si pramugari tersebut, mereka melanjutkan tugas dengan on position dan pesawat take off, alhamdulillah lancar.

Sepanjang perjalanan satu jam di udara, semua lancar. Para flight attendance bertugas seperti biasa membagikan air mineral dan sekotak roti, serta tugas-tugas lainnya. Sampai ketika kapten pesawat mengumumkan sudah dalam posisi akan mendarat di bandara Sentani Jayapura dan flight attendance mengecek kembali posisi kursi, seat bealt, dll, sudah dalam kondisi siap mendarat. Semua lancar. Saya melihat ke jendela karena takjub dengan keindahan danau sentani. Letak bandara sentani di tepi danau sentani luas sekali. Jadi untuk mendaratkan pesawat di bandara ini setahu saya, cukup sulit karena biasanya angin kencang di atas danau. Sekali lagi kapten pesawat meminta flight attendance on position karena sudah dalam posisi siap landing. Dan tiba-tiba…… sayup-sayup terdengar suara dering telepon. Kami para penumpang saling berpandangan. Handphone siapa yang belum dioff? Ternyata benar… Itu handphone si bapak keras kepala tadi, karena dia mengeluarkan handphone yang berdering itu dari tas nya dan menjawabnya “Halo…”. Kontan semua penumpang berteriak “MATIKAN HANDPHONENYA OOOYYY….”, termasuk saya ikut berteriak. Para ibu sudah panik dan berdoa masing-masing. Dengan santainya beliau matikan handphone pelan-pelan dan dimasukan lagi ke dalam tas, tanpa rasa salah, tanpa penjelasan, tanpa emosi, datar…. BBB= Benar-benar bloon. Emosi saya naik, ternyata si bapak ini benar-benar orang bego yang “ngeyel” dan sok tahu. Kenapa orang seperti dibiarkan naik pesawat tanpa diberitahu dulu sebelumnya tentang aturan naik pesawat. Atau memang dia sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu, wah.. kalau begini, berarti sudah bego, gak punya etika, dan maunya sendiri.

Begitu pesawat landing, berhenti, dan kami dipersilahkan turun, saya buru-buru kabur dari tempat duduk saya. Semua orang menggumam dan memperhatikan si bapak keras kepala itu, kami semua tidak habis pikir dengan kelakuan si bapak. Beliau juga nampak santai, tidak ada ekspresi malu, kikuk atau respon bahasa tubuh yang menunjukkan rasa bersalah. Huufff….

Saya mengucap syukur alhamdulillah ketika menginjak tanah bandara sentani. Trimakasih Tuhan sudah diselamatkan dari ulah penumpang yang tidak bertanggung jawab, atau tidak paham. Entahlah… Saya sibuk mengucap syukur berkali-kali. Dari pengalaman ini, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa barangkali sosialisasi tentang menjadi penumpang pesawat memang harus disampaikan, baik melalui media cetak maupun elektronik. Bahwa banyak aturan yang harus dipatuhi penumpang karena utamanya adalah masalah keselamatan penerbangan. Saya jadi teringat masih banyak cerita-cerita mengenai para calon jemaah haji yang barang bawaannya bermacam-macam di bagasi pesawat hanya untuk kebutuhan logistik selama berhaji. Ini juga merupakan bukti bahwa sosialisasi perlu untuk edukasi mereka yang hendak bepergian dengan pesawat. Adakah ide lainnya?

——–

kosakata: ngeyel = sifat yang suka berdalih, ngotot, tidak mau mengalah dalam komunikasi.