Penghinaan atas Drupadi, sebuah pelecehan luar biasa atas kekalahan suami-suaminya. Akibat permainan dadu di meja perjudian yang diatur oleh Sangkuni yang licik, bahkan sampai mempertaruhkan Drupadi, Pandawa kalah total, dan harus menjadi budak Duryudana, sang penguasa Kurawa. Termasuk Drupadi, sebagai budak, ia ditarik rambutnya, diseret ke sidang istana, dihina dengan perkataan kotor, dan dilucuti pakaiannya. Drupadi yang suci, berlindung pada kekuasaan Tuhan, melalui kekuatan Krisna, kain yang menutupi tubuhnya tidak pernah habis meski ditarik berulang kali oleh Dursasana. Tapi amarah Drupadi tidak terelakkan, melalui sumpah dan kutukannya, dinasti Kuru atau Kurawa akhirnya binasa.

Drupadi, sang ratu yang terluka, tidak akan pernah lagi menggulung rambutnya dan memakai perhiasan di rambutnya, sebelum keramas dengan darah Dursasana, itu sumpahnya. Semua yang bungkam atas penghinaan Drupadi, menerima kutukannya, kalah atau mati. Kenyataannya kelak kemudian hari setelah perang Mahabharata, Kurawa binasa. Dursasana mati dan darahnya dipakai keramas oleh Drupadi. Duryudana mati oleh Bima. Semua Kurawa yang seratus orang itu dibunuh Bima. Para penasehat dan pejabat istana yang hanya bungkam atas penghinaan Drupadi, semua menemui kematian. Hanya Destrarata, raja yang buta, yang masih hidup untuk kalah.

Sumpah Drupadi lahir dari amarah, kecewa, ketidakberdayaan, malu, dan terhina… Habis semua kebanggaan seorang ratu ketika semua orang melihatnya diseret, dijambak, didorong, dilucuti. Apa lagi yang tersisa? Hanya marah, pedih, luka yang sangat mendalam.

Semua menunjuk Drupadi: kamu hanya perempuan hina dan serakah karena bersuamikan 5 orang… 

Bukan, bukan Drupadi yang menginginkan bersuami 5. Hanya kepatuhan pada titah ibunda Kunti yang membawa Drupadi dan Pandawa menjadi demikian.

Inilah gambaran Drupadi yang sederhana, tanpa perhiasan di tangan dan lehernya, dan rambutnya terurai panjang karena sumpahnya.

DRUPADI

Gambar diambil dari: http://tokohwayangpurwa.blogspot.co.id/2013/06/drupadi-gaya-surakarta.html