You are currently browsing the category archive for the ‘Catatan’ category.

Penghinaan atas Drupadi, sebuah pelecehan luar biasa atas kekalahan suami-suaminya. Akibat permainan dadu di meja perjudian yang diatur oleh Sangkuni yang licik, bahkan sampai mempertaruhkan Drupadi, Pandawa kalah total, dan harus menjadi budak Duryudana, sang penguasa Kurawa. Termasuk Drupadi, sebagai budak, ia ditarik rambutnya, diseret ke sidang istana, dihina dengan perkataan kotor, dan dilucuti pakaiannya. Drupadi yang suci, berlindung pada kekuasaan Tuhan, melalui kekuatan Krisna, kain yang menutupi tubuhnya tidak pernah habis meski ditarik berulang kali oleh Dursasana. Tapi amarah Drupadi tidak terelakkan, melalui sumpah dan kutukannya, dinasti Kuru atau Kurawa akhirnya binasa.

Drupadi, sang ratu yang terluka, tidak akan pernah lagi menggulung rambutnya dan memakai perhiasan di rambutnya, sebelum keramas dengan darah Dursasana, itu sumpahnya. Semua yang bungkam atas penghinaan Drupadi, menerima kutukannya, kalah atau mati. Kenyataannya kelak kemudian hari setelah perang Mahabharata, Kurawa binasa. Dursasana mati dan darahnya dipakai keramas oleh Drupadi. Duryudana mati oleh Bima. Semua Kurawa yang seratus orang itu dibunuh Bima. Para penasehat dan pejabat istana yang hanya bungkam atas penghinaan Drupadi, semua menemui kematian. Hanya Destrarata, raja yang buta, yang masih hidup untuk kalah.

Sumpah Drupadi lahir dari amarah, kecewa, ketidakberdayaan, malu, dan terhina… Habis semua kebanggaan seorang ratu ketika semua orang melihatnya diseret, dijambak, didorong, dilucuti. Apa lagi yang tersisa? Hanya marah, pedih, luka yang sangat mendalam.

Semua menunjuk Drupadi: kamu hanya perempuan hina dan serakah karena bersuamikan 5 orang… 

Bukan, bukan Drupadi yang menginginkan bersuami 5. Hanya kepatuhan pada titah ibunda Kunti yang membawa Drupadi dan Pandawa menjadi demikian.

Inilah gambaran Drupadi yang sederhana, tanpa perhiasan di tangan dan lehernya, dan rambutnya terurai panjang karena sumpahnya.

DRUPADI

Gambar diambil dari: http://tokohwayangpurwa.blogspot.co.id/2013/06/drupadi-gaya-surakarta.html

 

Iklan

embun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi ini saya tulis untuk kawan-kawan di facebook saya awalnya, tapi karena saya maunya make it forever, maka saya tulis ulang disini.

I am Dew

Akulah embun…
hadir di hening pagi
ketika mentari masih sembunyi
only quiet people meet me

beningku untukmu,
meski hanya sepenggal waktu

Akulah embun
kesejukkan untuk dahagamu
kesucian untuk ragamu
kemurnian untuk jiwamu

tanpa warna tanpa rasa,
hanya setia

Akulah embun…
mentari membakarku
angin menghapusku
tapi esok masih ku

di sini untukmu

— dedicated to my last prince

utk wordpress

Cantik

Semua perempuan mendambakan wajah yang cantik. Banyak perempuan yang mati-matian kepingin cantik dengan berbagai cara, tapi belum tentu juga jadi cantik. Banyak kasus wajah berantakan gara-gara suntik ini itu dan bedah ini itu.

Kenapa harus cantik?

Jujur ya. Cantik itu BIKIN PEDE. Apalagi kalau harus menghadapi klien, kelas yang harus diajar, customer yang harus dihandle, dan yang semacamnya. Orang akan senang mendengar kalau melihat tampilan yang cantik. Dan kitanya juga lebih pede kali.

Coba simak satu artikel ini. Tentang salah satu alasan kenapa marketing person harus cantik.

(sumbernya dari sini)

Companies that place a premium on hiring very attractive people had on average higher revenues than similar companies which did not. He says the public clearly rewards businesses with the beautiful faces.

In The New York Times (link is external) interview, Hamermesh found that for beautiful people in general, “Most of us, regardless of our professed attitudes, prefer as customers to buy from better-looking salespeople, as jurors to listen to better-looking attorneys, as voters to be led by better-looking politicians, as students to learn from better-looking professors.”

Apalagi perempuan…

setangguhnya perempuan
sepintarnya perempuan

sesabarnya perempuan
tetap dituntut harus CANTIK

be beautiful outside and inside

yang mau CANTIK outside dan inside (dompetnya) klik disini

Judul hebat ini terinspirasi dari kisah Drupadi dalam Mahabharata. Entah kenapa saya sangat terobsesi dengan sosok Drupadi. Perempuan dengan lima suami! Extraordinary life yang luar biasa berani.

Di aturan agama manapun poliandri dilarang. Sudah jelas. Efeknya tidak baik untuk generasi berikutnya. Sulit menentukan siapa ayah biologis yang harus bertanggungjawab untuk pemeliharaan sang anak. Tapi di beberapa tempat di dunia ini, ada praktek-praktek poliandri dan itu legal dalam budaya mereka. Coba kita telusuri satu-satu.

Yang paling populer beritanya hingga mendunia adalah sosok wanita ini. Rajo Verma, yang menikah dengan lima suami yang bersaudara. Menurut tradisi di India Utara ini, seorang gadis menikah lumrah dengan banyak suami.

wth husbands

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita lengkapnya ada di sini.

Memang cara poliandri yang paling sering dilakukan adalah beberapa laki-laki bersaudara, alias kakak beradik yang berbagi istri. Beberapa tempat di India utara, yaitu di seputaran Himalaya masih mengikuti tradisi ini.

Poliandri di Tibet. Ternyata di Tibet masih dilakukan poliandri karena kultur disana mengijinkan wanita bersuami banyak. Ceritanya di sini

himalaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Poliandri di Nepal. Beberapa keluarga mengikuti tradisi yang ada di Nepal, yaitu perempuan menikah dengan laki-laki dan saudaranya. Alam yang keras dan sulit di Nepal membutuhkan tenaga ekstra untuk dapat bercocok tanam, perempuan dengan banyak suami, terbantu karena memiliki kekuatan ekstra dalam satu keluarga. Mereka berbagi tugas. Ketika suami pertama pergi untuk menjual hasil panennya, masih ada suami kedua untuk membantu sehari-hari. Cerita lengkapnya ada di sini dan di sini.

nepal

 

 

 

 

 

 

 

 

Di tempat lain, ada praktek poliandri karena beberapa kondisi yang diluar kebiasaan. Sepeti cerita berbagi istri yang ada di Inggris, seorang wanita tinggal bersama suami dan pacarnya dalam satu rumah. Ceritanya di sini.

Ada yang mau melengkapi cerita poliandri?

 

Let my tears flow
for a love that i’ve lost
and maybe they might with them
take away the feeling of loss
to pave way for a brighter day

Let my tears flow
for it’s as certain as the day dawns
that i shan’t ever find one like i had
for the gift of love come from deep within
and the rest maybe mere pretence

Let my tears flow
on and on and on, let them pass
the sorrows reside in my heart not in my eyes
if i cannot loose what aches me fervently
I can, maybe, like i just did, loose what i love

Let my tears flow
and wash my eyes from the fog of dismay
i may be able to able see clearly what i just lost
though not sure if i can regain or get an equivalent
at least, let me see what i had and let go

Let my tears flow
they are all i have left to loose
and i honestly don’t want to keep them
if i can’t keep a love so divine
why keep the tears the?

Dark Angel

 

 

 

Mumpung semua orang sedang “pesawat mania” akibat kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 desember lalu, saya menuliskan pengalaman pribadi saya sebagai penumpang pesawat dalam satu perjalanan penerbangan yang menyebalkan…

Kejadian ini sekitar bulan Oktober 2013. Saya sedang dalam perjalanan dari Sorong ke Jayapura dengan maskapai penerbangan yang melayani rute itu (tidak perlu saya sebutkan nama maskapainya yah..). Terbang dari Sorong ke Jayapura sekitar 2 jam tapi harus transit dulu di Manokwari. Jadi Sorong-Manokawari sekitar 1 jam perjalanan dan Manokwari-Jayapura 1 jam juga.

Berangkat dari bandara Sorong, jumlah penumpang cukup banyak hingga hampir memenuhi semua seat. Saya lupa tipe pesawatnya apa dan berapa jumlah seat yg ada, tapi yang saya ingat saya duduk di seat nomer 20an dan di belakang saya masih ada beberapa deret seat yg penuh. Perjalanan Sorong-Jayapura lancar, cuaca cerah, dan kru pesawat bertugas seperti biasa, kami dapat jatah air mineral dan sekotak roti.

Turun di Manokwari, beberapa seat langsung kosong. hampir 60% penumpang turun di Manokwari. Saya dan penumpang lain tujuan Jayapura diminta tetap tinggal di pesawat sampai penumpang yang dari Manokwari naik ke pesawat. Ternyata jumlah penumpang dari Manokwari tidak banyak, jadi sebagian besar seat di belakang saya kosong. Para flight attendance mengecek semua penumpang dan bagasi di kabin pesawat seperti biasa. Tiba-tiba perhatian saya tertuju pada percakapan salah seorang pramugari dengan seorang bapak yang meminta beliau untuk memindahkan tas bawaannya ke bagasi kabin di atas, karena posisi beliau ada di baris yang persis di depan pintu darurat. Penumpang itu seorang bapak berusia sekitar 50 tahun dan bersuku papua (mohon maaf tidak bermaksud memberi penilaian apapun karena yang saya tahu dari penampilan fisik bapak tersebut bersuku papua tapi saya tidak tahu suku mana). Yang saya heran, kenapa bapak itu bisa duduk di baris itu karena biasanya yang diberi seat di dekat pintu darurat sudah dipilih oleh petugas ground adalah tipe orang yang diperkirakan kuat membuka pintu darurat pesawat jika terjadi keadaan darurat. Lalu saya menyimpulkan sendiri, oh barangkali karena banyak seat masih kosong, bapak tersebut boleh memilih seat yang mana dia suka. Posisi saya sendiri ada dua baris di belakang bapak itu dan di sisi seberang, jadi saya bisa melihat dengan jelas percakapan antara pramugari dan bapak itu.

Awalnya pramugari mencoba menjelaskan bahwa tidak boleh ada bagasi di lorong dekat pintu darurat. Lalu meminta bapak itu menaruh di kabin bagasi yang lokasinya di atas. Bapak itu menolak. Dia maunya tasnya ditaruh di dekat kakinya saja. Tas hitam milik bapak itu berupa tas travel yang tidak terlalu besar, tapi saya heran kenapa beliau tidak mau menaruhnya di kabin bagasi di atas. Lalu pramugari menjelaskan lagi kalau bapak mau tasnya ada di bawah, berarti beliau harus pindah tempat duduk karena tidak boleh ada bagasi di lorong pintu darurat. Eh, bapak itu malah marah, dan dengan nada kesal menggumamkan sesuatu yang saya tidak paham. Intinya beliau ngeyel tidak mau pindah tempat duduk. Karena respon yang tidak menyenangkan itu, pramugari menyerah dan membiarkan tasnya ada di dekat kaki si bapak.

Sewaktu penjelasan safety flight oleh pramugari, berhubung bapak itu duduk di seat yang dekat dengan pintu darurat, maka pramugari juga memberikan penjelasan khusus kepada beliau tentang “tugas”nya sebagai penumpang yang duduk di dekat pintu darurat, dan menjelaskan cara-cara membuka pintu darurat pesawat. Saya melihat dengan jelas si bapak sama sekali tidak mau mendengar penjelasan pramugari. Beliau berlagak sok tahu, dan memalingkan muka ke arah lain sambil menggumam tidak jelas. Saya mulai berpikir, wah… ada yang gak beres nih sama si bapak. Beliau tidak paham aturan penumpang pesawat tapi keras kepala seolah sudah tahu segalanya. Wah, bisa kacau penerbangan kalau penumpangnya seperti ini. Saya berdoa, semoga penerbangan lancar.

Ada satu hal lain yang membuat saya terhenyak, yaitu sikap kru fight attendance yang terkesan bercanda ketika menjelaskan mengenai safety flight. Seperti biasanya mereka bekerja secara tim, ada yang memeragakan cara memasang pelampung, dan seterusnya, dan ada yang memberikan penjelasan melalui pengeras suara. Saya sangat kecewa pada para flight attendace itu berhubung sikapnya yang sangat tidak profesional karena becanda dalam bertugas, yaitu dengan menyebutkan bahwa si peraga bernama princess Syahrini sambil tertawa. Setahu saya, ada penumpang di bagian depan yang sudah memperingatkan si pramugari, dan untungnya mereka kembali bersikap serius. Meski masih terdengar suara tertawa si pramugari tersebut, mereka melanjutkan tugas dengan on position dan pesawat take off, alhamdulillah lancar.

Sepanjang perjalanan satu jam di udara, semua lancar. Para flight attendance bertugas seperti biasa membagikan air mineral dan sekotak roti, serta tugas-tugas lainnya. Sampai ketika kapten pesawat mengumumkan sudah dalam posisi akan mendarat di bandara Sentani Jayapura dan flight attendance mengecek kembali posisi kursi, seat bealt, dll, sudah dalam kondisi siap mendarat. Semua lancar. Saya melihat ke jendela karena takjub dengan keindahan danau sentani. Letak bandara sentani di tepi danau sentani luas sekali. Jadi untuk mendaratkan pesawat di bandara ini setahu saya, cukup sulit karena biasanya angin kencang di atas danau. Sekali lagi kapten pesawat meminta flight attendance on position karena sudah dalam posisi siap landing. Dan tiba-tiba…… sayup-sayup terdengar suara dering telepon. Kami para penumpang saling berpandangan. Handphone siapa yang belum dioff? Ternyata benar… Itu handphone si bapak keras kepala tadi, karena dia mengeluarkan handphone yang berdering itu dari tas nya dan menjawabnya “Halo…”. Kontan semua penumpang berteriak “MATIKAN HANDPHONENYA OOOYYY….”, termasuk saya ikut berteriak. Para ibu sudah panik dan berdoa masing-masing. Dengan santainya beliau matikan handphone pelan-pelan dan dimasukan lagi ke dalam tas, tanpa rasa salah, tanpa penjelasan, tanpa emosi, datar…. BBB= Benar-benar bloon. Emosi saya naik, ternyata si bapak ini benar-benar orang bego yang “ngeyel” dan sok tahu. Kenapa orang seperti dibiarkan naik pesawat tanpa diberitahu dulu sebelumnya tentang aturan naik pesawat. Atau memang dia sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu, wah.. kalau begini, berarti sudah bego, gak punya etika, dan maunya sendiri.

Begitu pesawat landing, berhenti, dan kami dipersilahkan turun, saya buru-buru kabur dari tempat duduk saya. Semua orang menggumam dan memperhatikan si bapak keras kepala itu, kami semua tidak habis pikir dengan kelakuan si bapak. Beliau juga nampak santai, tidak ada ekspresi malu, kikuk atau respon bahasa tubuh yang menunjukkan rasa bersalah. Huufff….

Saya mengucap syukur alhamdulillah ketika menginjak tanah bandara sentani. Trimakasih Tuhan sudah diselamatkan dari ulah penumpang yang tidak bertanggung jawab, atau tidak paham. Entahlah… Saya sibuk mengucap syukur berkali-kali. Dari pengalaman ini, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa barangkali sosialisasi tentang menjadi penumpang pesawat memang harus disampaikan, baik melalui media cetak maupun elektronik. Bahwa banyak aturan yang harus dipatuhi penumpang karena utamanya adalah masalah keselamatan penerbangan. Saya jadi teringat masih banyak cerita-cerita mengenai para calon jemaah haji yang barang bawaannya bermacam-macam di bagasi pesawat hanya untuk kebutuhan logistik selama berhaji. Ini juga merupakan bukti bahwa sosialisasi perlu untuk edukasi mereka yang hendak bepergian dengan pesawat. Adakah ide lainnya?

——–

kosakata: ngeyel = sifat yang suka berdalih, ngotot, tidak mau mengalah dalam komunikasi.

Entah kebetulan atau apa. Tapi saya sangat percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Saya sedang belajar untuk “membaca” petunjuk dari alam (baca:universe). Bahwa universe itu akan mengirimkan petunjuk lewat berbagai cara. Nah, kita harus pandai membaca petunjuk itu dan memahami maknanya. Belakangan ini saya senang membaca kisah Pandawa. Bagaimana ketika mereka ditipudaya oleh Kurawa dengan permainan dadu dan terusir dari istana mereka sendiri. Saya tidak tahu mengapa saya sangat suka membacanya. Fokus saya ketika membaca kisah Pandawa sebenarnya ada pada Drupadi. Tapi ternyata bukan itu petunjuk Tuhan. Kemudian ketika saya menemui salah satu teman baik saya. Istrinya sedang hamil tua. Secara spontan, sang istri bercerita tentang kisah hidupnya sendiri yang juga terusir dari rumahnya sendiri. Kebetulan apa lagi ini…. Sejenak saya kuatir karena cerita-cerita ini mungkin saja merujuk kepada saya, apa yang akan terjadi? Ya Tuhan, lindungilah kami…

Saya hanya ingat satu hal… Ikhlas. Seperti yang dilakukan Pandawa. Mereka diharuskan menjalani pengasingan selama 12 tahun, dan jika penyamaran terbongkar, harus memulai pengasingan lagi selama 12 tahun berikutnya.

Pagi ini, ketika saya membereskan buku-buku yang menumpuk di kardus, saya menemukan buku lama yang sudah saya lupakan. Quantum Ikhlas. Ya Tuhan. Inilah petunjukmu. Apapun yang terjadi, harus bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Saya tahu dan paham benar Tuhan selalu melindungi saya. Berkali-kali saya mengalami hal-hal yang membuat saya paham bahwa Tuhan sangat mengasihi saya. Terimakasih Tuhan.

Nah, sekarang apa yang harus saya lakukan? Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, saya melakukan yang saya bisa. Menulis. Semoga dengan menuliskan urutan kejadian ini, menginspirasi banyak pihak untuk ikhlas dan bersyukur.

IMG00478-20130804-1736Sudah setahun sejak saya sendiri, menjadi single parent. Sudah waktunya saya mencari pasangan hidup lagi. Usaha pencarian sudah saya lakukan, tapi jodoh hanya Tuhan yang tahu.

Mengingat kegagalan rumah tangga saya sebelumnya, saya menjadi sangat berhati-hati dan sangat pemilih dalam menetapkan calon pasangan hidup saya kelak. Ada yang memenuhi kriteria saya, tetapi suami orang! Hadeh…. saya gak mau terlibat masalah lebih banyak. Tanggung jawab saya masih banyak. Mendidik anak-anak sampai mereka mandiri itu satu tugas yang tidak mudah dengan single parent. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mencari pasangan hidup baru. Anak-anak saya ajak diskusi. Saya tanya mereka bagaimana kalau ibunya punya suami lagi? Saya tidak mengatakan Bapak baru, karena bapak mereka hanya satu, ya Ayah mereka. Jadi mereka tidak wajib memanggil atau menyebut suami saya kelak dengan sebutan bapak, papa, atau yang sejenisnya. Anak-anak menyerahkan keputusan pada saya untuk mencari pasangan hidup baru. Dan mulailah secara terbuka saya bercerita tentang pria-pria yang mendekati saya. Tentu saja dalam bahasa mereka. Saya bilang pada mereka, ibu sangat memilih, jadi mungkin nanti kalau gak cocok ya gak jadi, lebih baik memilih dengan hati-hati dari sekian banyak pria, daripada kawin-cerai gak jelas, emang gue artis??!!

Sebetulnya kriteria saya gampang, silahkan disimak:

1. Pintar. Ukurannya berpendidikan minimal S2 atau setara S2 begitulah. Karena saya suka diskusi banyak hal dengan pasangan hidup, jadi dia harus bisa mengimbangi cara pikir saya.

2. Kuat dalam keimanan. Karena dia akan memimpin saya sebagai imam hidup saya, maka dia harus bisa membimbing saya menjadi lebih baik. Ukurannya minimal pernah menjalankan ibadah Umroh.

3. Mapan. Dia harus punya tempat tinggal untuk saya. Meskipun saya punya rumah, tapi saya lebih suka menempati rumah baru yang netral (walaupun sewa rumah….). Ini untuk meminimalkan fitnah yang bisa saja muncul dari sana sini. Satu lagi cacatan penting bahwa siapapun yang menjadi pasangan hidup saya kelak, akan menerima saya secara paket, beli satu bonus 3, mau terima saya ya harus terima juga 3 anak saya. Bukan berarti saya mau ongkang-ongkang dan menyerahkan segalanya pada suami baru, saya punya pekerjaan (meskipun freelancer) dan saya bertanggungjawab penuh atas pendidikan anak-anak saya. Suami baru saya kelak tidak wajib bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak saya.

4. Ganteng. Nah, ini dia yang ukurannya susah ya…. Sangat subyektif. Sesuai selera saya. Hehe.

Teman-teman saya banyak yang komentar soal kriteria ini. Paling sering adalah komentar kemustahilan eksistensi pria yang sesuai kriteria saya. Saya dibilang terlalu muluk. Mana ada laki-laki yang mau sama janda anak tiga. Kalaupun ada seumuran saya, pasti lebih memilih perempuan muda tanpa anak dan yang masih produktif menghasilkan keturunan… Tapi saya sangat yakin. Pasti dia ada.

Saya bukan seperti Syahrini yang glamour dan bisa dipamer-pamerin. Saya juga bukan seperti Musdalifah yang kaya raya sebagai tempat lelaki bergantung hidup. Saya perempuan biasa yang berjuang sendiri menghadapi hidup. Saya hanya butuh teman untuk menjalani hari-hari tua saya, dan menemani saya saat anak-anak sudah menjadi dewasa dan mandiri.

Sudah tentu saya berusaha tapi jodoh itu rahasia Tuhan. Saya tidak pernah tahu apakah pria yang cocok dengan kriteria saya nantinya itu adalah jodoh saya. Yang saya tahu, God has amazing plan. Semua rencana Tuhan adalah yang terbaik untuk saya. Kiranya Tuhan mengijinkan saya berjodoh dengan pria terbaik. Amin. Inilah salah satu resolusi saya untuk tahun 2014. Tulisan ini saya buat pas akhir tahun 2013.

IMG00681-20131021-0743Oktober lalu saya ditugaskan ke kota Mulia kabupaten Puncak Jaya Papua. Daerah konflik di wilayah pegunungan Papua. Saya sedikit deg-degan juga, dan banyak pertanyaan dalam benak saya, seberapa gawat kondisi keamanan disana? Karena kabarnya banyak korban jatuh karena penembakan, maupun penyerangan lainnya. Bagaimana cuaca disana? Karena kabarnya sudah sering pesawat tidak jadi mendarat di Mulia karena cuaca yang tidak bersahabat. Dan tentu saja, yang bisa mendarat di landasan Mulia hanya pesawat kecil. Lalu dimana saya tinggal? Tentu saja daerah puncak gunung tidak ada hotel. Mungkin ada, tapi fasilitas sangat minim, belum tentu juga aman, bisa saja terjadi kriminal. Haduh… Cenut-cenut juga rasanya kepikiran soal itu semua.

IMG00645-20131020-1423Bersyukur saya tidak sendiri dalam perjalanan ke Mulia. Saya ditemani salah satu staf dari kantor cabang klien kami di Mulia. Novi namanya. Perempuan asli papua yang sudah cukup lama tinggal di Mulia bahkan mendapatkan jodoh di Mulia, dia baru saja menikah beberapa bulan yang lalu dengan aparat keamanan di kota ini.

IMG00620-20131019-1008Perjalanan ke Mulia ditempuh dalam waktu 1 jam dengan pesawat jenis Caravan, pesawat dengan baling-baling satu di depan dan berpenumpang maks 9 orang. Saya terbang dengan Susi Air. Sumpah baru sekali seumur hidup di usia yg ke 45 ini saya nekat naik pesawat sekecil ini.

IMG00619-20131019-0945Supaya sedikit relaks, saya minum obat anti mabuk. Saya tidak mau terjadi apa-apa dan merepotkan banyak orang. Satu hal yang membuat sedikit tenang, pilot dan copilotnya bule, masih muda, dan ganteng! Hahai…

Perjalanan udara dengan pesawat kecil ini hanya memakan waktu 1 jam. IMG00621-20131019-1011Ternyata terbang dengan pesawat kecil tidak seseram yang saya duga. Saya enjoy sekali menikmati bumi papua dari ketinggian. Sayang saya tidak membawa kamera. Jadi tidak bisa memotret indahnya tanah Papua dari ketinggian. Sebelum mendarat saya sempat terpesona dengan kota Mulia. Posisinya di lembah diantara gunung, jadi pesawat mendarat melalui celah diantara 2 gunung di samping kiri dan kanan. IMG00623-20131019-1136Teman-teman bercerita pernah pesawat ditembak ketika akan mendarat. Hmmmm……. Saya sibuk berdoa semoga landing dengan lancar. Sesaat setelah mendarat, saya sibuk berpotret dengan copilot dan hampir saja melupakan bagasi yang diturunkan begitu saja disamping pesawat dan rawan diambil orang…. Hahaha…

Saya dijemput pihak kantor dan langsung menuju asrama kantor tempat saya menginap. Setelah itu saya ke kantor untuk menuntaskan tugas hari itu. IMG00675-20131021-0732Sebentar kemudian saya sudah kembali ke asrama, karena hari sudah mulai sore dan udara sudah mulai dingin. Asrama kantor letaknya di belakang kantor. Bangunannya dari kayu seperti rumah panggung. Sebagian besar bangunan di Mulia dibangun dari kayu, kecuali beberapa kantor besar yang dibangun dari batu dan semen. Pasokan semen sangat jarang dan mahal, jadi hanya beberapa bangunan penting di kota yang dibangun dengan batu dan semen.

IMG00659-20131020-1437Satu hal yang tidak pernah saya lupakan. Udara yang dingin menusuk ke dalam kulit. Saya tidak mengukur berapa derajat dinginnya tapi wiiiiiih dinginnya superrrrr. Saya sampai bingung sudah pakai jaket tebal, pakai kaos kaki, pakai selimut tebal, masih saja udaranya menusuk sampai masuk ke telinga. Akhirnya kepala saya tutup pakai selendang, baru si udara dingin tidak lagi menusuk menggigit ke dalam telinga, tapi ke perut… Ahai…. Saya pakai segala macam pakaian yang saya bawa sebagai penutup perut. Bisa bahaya kalau perut diserang, diare saya bisa kumat. Eh, beneran… besok paginya saya kena diare… hadududuh untung saya bawa obat-obatan.

IMG00640-20131020-1414Hari kedua, saya sempat jalan-jalan di seputar kota. Ada bangunan yang dianggap sebagai ikon kota Mulia, semacam tugu begitu. Saya sempat foto di tugu perdamaian, saya sebut saja begitu. Kota ini indah dengan panorama gunung-gunung tinggi di sekitarnya. Jalan utama kota dibuat 2 jalur dengan aspal bagus.

Di ujung kota ini ada bandara Mulia. Satu-satunya akses keluar masuk yang relatif aman dan cepat adalah pesawat. Jalan darat bisa ditempuh tapi berbahaya dan butuh waktu lama, bisa seharian ke Wamena.

IMG00689-20131021-1406Di tengah kota ada pasar, orang gunung biasa menukar hasil bumi yang mereka tanam di gunung dengan kebutuhan bahan pokok seperti minyak goreng, gula, kopi, dan lain-lain. Mereka berjalan kaki dari gunung-gunung di sekitar kota Mulia. Bisa seharian mereka turun gunung untuk menjual sayur, buah atau hasil bumi lainnya, mereka tidur di pasar, dan baru kembali esoknya membawa bahan pokok.

IMG00651-20131020-1430Ada satu kompleks yang dipagari, letaknya masih di dalam kota, yang isinya adalah penduduk asli yang tinggal di rumah Honai, rumah asli penduduk Mulia.

Agak mendaki di daerah bukit, dekat batas kota, ada kompleks perkantoran untuk kegiatan pemerintahan di Mulia. Perumahan penduduk kota, dekat di daerah pasar, dengan berbagai macam fasilitas rumah ibadah, rumah sakit, sekolah, dan tempat olahraga. Saya tertarik mendaki ke atas bukit yang lebih tinggi karena keindahan alam di sekitarnya, tapi teman-teman yang mengantar saya mengatakan agak bahaya naik ke daerah itu.  IMG00648-20131020-1427Lagipula sore sudah tiba, sebentar lagi jam malam tiba. Di Mulia berlaku jam malam, setelah pukul 6 WIT, tidak boleh ada kegiatan diluar, rawan kejahatan dan penyerangan. Jadi kami berbalik arah kembali ke arah asrama. Mampir sebentar di warung bakso yang seporsi harganya 25 ribu rupiah…. Aiih

IMG00667-20131020-1447Semalam diserang kedinginan parah membuat saya lebih menyiapkan diri di malam kedua. Untunglah malam kedua hujan, jadi tidak sedingin malam pertama. Tapi listrik mulai bleret… karena sumber listrik adalah PLTA. Kalau hujan, air kotor, mengganggu peralatan pembangkit listrik. Selain itu juga sinyal ilang!! Saya jadi bengong mau ngapain. Bener-bener serasa berada di dunia antah berantah. Penerangan minim, komunikasi dengan dunia luar tidak ada. Keluar rumah juga tidak bisa. Jadi cuma bisa menahan dingin meringkuk di kamar dan berusaha tidur walaupun tidak ngantuk dan berharap malam segera lewat.

IMG00655-20131020-1435Besoknya, saya kembali ke Jayapura. Saya menumpang pesawat jenis yang sama, tapi dengan maskapai Enggang Air, pilotnya lokal, tidak seperti Susi Air yang pilotnya bule, muda dan ganteng. Ehem…. Perjalanan kembali ke Jayapura sedikit melewati awan mendung dan hujan, dengan pesawat kecil terasa sekali goncangan angin dan hujan, jadi serasa goyang Caisar sedikit di ketinggian. Akhirnya dalam sejam mendarat di bandara Sentani saya kegirangan luar biasa, seperti kembali ke peradaban. Begitulah kota Mulia. Meski hanya 2 malam, serasa 2 abad lamanya, apalagi ketika komunikasi terputus dengan dunia luar. Tapi keindahan kota ini tidak pernah saya lupakan.

Keterangan:

Honai=rumah asli penduduk Mulia berbentuk setengah bola seperti rumah teletubbies, namun terbuat dari kayu yang dijajar melingkar dan atapnya ditutup dengan rumput ilalang kering.

IMG00755-20131201-0515Ini pengalaman terbang saya yang luar biasa. Seperti kutu loncat. Sebentar terbang kesini, sebentar terbang kesana. Saya pinjam bahasa kawan saya “miber rono rene” (terbang kesana kemari). Tuntutan tugas, sudah pasti. Jadi harus dijalani semuanya sampai tuntas. Sebelumnya, saya sudah pernah beberapa kali terbang ke Papua, termasuk terbang ke Mulia, daerah konflik di Puncak Jaya, tapi tidak serumit kali ini. Mari kita simak perjalanan saya:

1. Sabtu 23 november 2013, berangkat dari Jogja ke Jakarta. Karena kantor saya di Jakarta, jadi harus mengikuti briefing singkat untuk persiapan tugas yang harus dijalankan di Papua. Saya terbang dengan Lion Air JT565 boarding pukul 07.00 WIB seat 7E. Delay sih, biasa Lion. Tapi gak lama, cuma sekitar setengah jam. Sekitar satu jam kemudian, saya sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta Jakarta.

IMG00791-20131212-1312Tiba di bandara Soetta Jakarta, saya gabung dengan Fera, rekan kerja dari Surabaya. Kami meluncur menuju kantor di seputaran Blok S. Sampai di kantor, kami mengikuti briefing untuk penjelasan tugas masing-masing personel dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk mendukung tugas masing-masing. Kami ada bersembilan orang dalam tim kerja kami PT. Magnify Solution. Kami harus berangkat ke bandara Soetta sore hari, untuk mengantisipasi macet, dan cek in lebih awal karena bagasi yang super buanyaakkk…. Materi training ada sekitar 5 box harus ikut bersama kami ke Jayapura.

2. Sabtu malam, 23 November 2013, saya bersama tim kerja terbang menuju Papua. Pesawat kami Garuda GA650 boarding pukul 20.40 WIB dengan rute Jakarta-Makasar-Biak-Jayapura. Saya duduk di seat 42A. Perjalanan Jakarta-Makasar ditempuh sekitar 2 jam. Transit di bandara Sultan Hasanudin Makasar sekitar 30 menit. Kemudian lanjut terbang lagi ke Biak sekitar 2,5 jam. Di Biak sekitar 30 menit, lanjut ke Jayapura. Perjalanan Biak-Jayapura sekitar 1 jam. Tapi tujuan saya tidak ke Jayapura, tapi turun di Biak bersama rekan kerja, Ari. Saya sudah pernah ke Biak sebelumnya, sekitar bulan Juli 2013.

IMG00792-20131212-1317Kami sampai di Biak hari minggu subuh.  Di Biak tidak ada taxi seperti di Jawa. Sebagian besar kota di Papua belum tersentuh transportasi Taxi, jadi problem kami biasanya masalah miskomunikasi penjemputan. Bersyukur soal penjemputan sudah diatur oleh Ari. Saya tinggal di Biak, Ari lanjut ke Serui dan Waren. Tim kerja yang lain bertujuh, lanjut ke Jayapura. Sebagian dari mereka harus lanjut ke kota tujuan masing-masing, ada yang ke Timika, Wamena, dan Kaimana.

Karena hari Minggu, saya sempatkan istirahat 1 hari penuh sebelum in action esok harinya. Waktu istirahat ini saya gunakan sepenuhnya untuk beristirahat di hotel. Maklum faktor usia. Perjalanan masih panjang, saya tidak mau kelelahan gara-gara kebanyakan aktivitas yang tidak perlu, seperti begadang, atau jalan-jalan.

Hari berikutnya, Senin 25 November 2013, saya menuju tempat kerja dan melaksanakan tugas seharian penuh sampai selesai. Sambil berkoordinasi untuk penerbangan saya esok harinya. Ya, esoknya saya harus terbang ke Merauke pagi hari. Jadi malam itu saya tidur cepat, bangun subuh untuk persiapan ke bandara Frans Kaisiepo Biak untuk cek in Merpati Biak-Merauke.

3. Selasa pagi, 26 November 2013, saya terbang dengan Merpati Nusantara Airlines menuju Merauke, tapi karena tidak ada penerbangan langsung, saya transit di Jayapura. Jadi hari ini dua kali terbang, Biak-Jayapura MZ7660, boarding pukul 07.00 WIT dengan seat number 20B. Perjalanan Biak-Jayapura sekitar 1 jam.

IMG00793-20131212-1352 Sampai di Bandara Sentani Jayapura, saya masih harus menunggu penerbangan Merpati ke Merauke pukul 12.00 WIT.  Karena belum sempat sarapan, saya mencari cafe di sekitar bandara. Lumayan ada makanan untuk mengisi perut. Perjalanan Jayapura-Merauke saya tempuh dengan Merpati MZ 826, boarding pukul 12.05 WIT.  Merpati ternyata delay. Saya berangkat hampir pukul 13.00 WIT. Tapi saya lega, karena saya pergi sesuai schedule.

Saya tiba di bandara Merauke sekitar pukul 14.00 WIT. Ada sedikit keterlambatan penjemputan. Karena saya lapar, saya mencari kantin di luar bandara. Saya sudah pernah ke Merauke sekitar bulan Juli 2013, saya ingat ada banyak kantin di luar bandara.  Ada yang menarik di bandara ini. Ketika kita menunggu bagasi di sabuk berjalan, sudah ada bapak-bapak diujung yang berteriak kode bagasi satu persatu. Jadi kita cukup tunggu sampai kode bagasi kita diteriakkan bapak itu, baru kita mendekat ke sabuk berjalan. Penumpang tidak perlu berebut tempat di pinggir sabuk berjalan. Efektif juga cara bapak ini.

Setelah dijemput, saya langsung menuju hotel. Saya langsung beristirahat, esoknya harus ke tempat kerja dan harus selesai sehari itu juga, karena jadwal saya berikutnya adalah ke Sorong. Hari Rabu 27 November 2013 saya bertugas seharian penuh di Merauke sampai malam. Karena laporan harus selesai, saya sedikit begadang menyusun laporan sampai malam. Untunglah pesawat saya esok harinya ke Jayapura dijadwalkan pukul 8.30 WIT. Jadi tidak terlalu buru-buru bangun subuh hari.

4. Kamis, 28 November 2013. Perjalanan saya berikutnya adalah ke Sorong. Tapi karena tidak dapat tiket connecting ke Sorong dari Merauke, maka penerbangan ke Sorong diatur dari Jayapura. Jadi saya menuju Jayapura hari Kamis ini dan menunggu penerbangan ke Sorong di hari berikutnya. Saya terbang dengan rute Merauke-Jayapura menggunakan Lion Air JT797, boarding pukul 08.30 WIT, dengan seat number 34B.

IMG00794-20131212-1510Sampai di Bandara Sentani satu jam kemudian, saya bergabung dengan Fera yang terbang dari Timika. Kami sudah ditunggu driver kantor menuju kota Jayapura. Perjalanan Sentani-Jayapura ditempuh dengan mobil selama 1 jam di jam-jam lancar, tetapi saat jam sibuk dan macet, bisa molor sampai 2 jam. Waktu tempuh bandara-kota ini perlu menjadi informasi penting untuk Anda yang akan berkegiatan di Jayapura. Hari Kamis itu saya dan Fera langsung membantu tim kerja yang lain untuk kegiatan training di hari itu.

5. Jumat, 29 November 2013, saya terbang ke Sorong dari Jayapura bersama Lola. Pesawat ke Sorong dijadwalkan pukul 06.30 WIT. Jadi saya dan Lola harus berangkat dari Hotel pukul 05.00 WIT pagi. Beruntung pagi itu perjalanan lancar dan kami tiba on time di bandara Sentani. Kami terbang dengan Xpressair XN801, boarding 06.30, saya duduk di seat 8F.

IMG00795-20131212-1532Perjalanan Jayapura-Sorong harus melalui Manokwari dan transit sekitar 30 menit di Manokwari. Jayapura-Manokwari ditempuh dalam waktu 1 jam. Kemudian Manokwari-Sorong ditempuh dalam waktu 1 jam juga. Ini adalah perjalanan pertama kali saya ke Sorong. Dan kami harus langsung bertugas di tempat kerja setibanya di Sorong.

Sampai di bandara Sorong, kami sudah dijemput dan singgah sebentar ke hotel tempat kami menginap. Saya dan Lola bergegas merapikan diri dan segera menuju tempat kerja. Seharian penuh kami bekerja dan baru selesai pukul 7  malam.  Malam itu kami sempat jalan-jalan seputar kota Sorong hingga agak malam. Padahal besoknya, saya harus kembali ke Jayapura, dan Lola harus menuju Waisai dengan kapal. Untungnya jadwal perjalanan kami siang hari, jadi masih agak santai di pagi harinya.

6. Sabtu, 30 November 2013, saya terbang kembali ke Jayapura dari Sorong dengan Xpressair XN800, boarding pukul 13.20, seat number 14C. Perjalanan Sorong-Jayapura dengan transit di Manokwari sekitar 30 menit. Perjalanan Sorong-Manokwari sekitar 1 jam, dan Manokwari-Jayapura sekitar 1 jam juga.

IMG00796-20131212-1536

Saya terbang kembali ke Jayapura, sedangkan Lola melanjutkan perjalanan laut ke Waisai. Ketika di Manokwari, saya bertemu Rudi, rekan kerja yang bertugas di Manokwari. Kami tiba di bandara Sentani dan sudah dijemput oleh driver menuju Jayapura langsung menuju hotel tempat kami menginap.

Hari Minggu 1 Desember 2013 saya dan tim kerja beristirahat penuh. Besoknya Senin 2 Desember 2013 sampai dengan Rabu 4 Desember 2013, kami semua bekerja di Jayapura sesuai dengan tugas masing-masing. Rabu malam semua tugas dan laporan sudah diselesaikan, karena besoknya kami semua sudah kembali ke Jakarta.

7. Kamis, 5 Desember 2013, kami semua terbang kembali ke Jakarta dengan Garuda GA655, boarding pukul 14.00 WIT. Saya duduk di seat 36B. Rute penerbangan adalah Jayapura-Makasar-Jakarta. Jayapura-Makasar ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Dan Makasar-Jakarta ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam.

IMG00797-20131212-1556Ada sedikit masalah ketika kami tiba di Makasar. Pesawat mengalami kerusakan, dan kami harus pindah pesawat. Delay hingga berjam-jam hingga kami semua kelelahan. Bersyukur perjalanan Makasar-Jakarta lancar dan selamat.

Kami tiba di bandara Soetta Jakarta sudah larut malam, saya sudah tidak perhatikan waktu lagi karena sudah luar biasa lelah. Kami langsung menuju penginapan, dan saya langsung tepar!

Besoknya, hari Jumat 6 Desember 2013 kami menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Hari itu saya gunakan untuk beristirahat total. Saya baru kembali ke Jogja hari Sabtu, esok harinya.

8. Sabtu, 7 Desember 2013, saya terbang ke Jogja dengan Air Asia QZ7558, dengan boarding pukul 04.30 WIB, dan seat number 31B. Jadi pagi-pagi buta saya harus ke bandara Soetta untuk cek in. Aiiih…

IMG00799-20131212-1559Syukurlah perjalanan Jakarta-Jogja selama 1 jam berjalan lancar. Saya tiba di Bandara Adisucipto Yogyakarta dengan penuh rasa syukur mengingat perjalanan terbang yang luar biasa ini. Tidak pernah terbayangkan di usia saya yang sudah tidak muda lagi, harus menghadapi tantangan perjalanan seperti itu. Tapi Alhamdulillah semua bisa saya jalani dengan baik dan lancar, tiba kembali di Jogja dengan kondisi sehat walafiat.

Inilah sebagian perIMG-20131210-WA008sonel tim kami ketika menunggu waktu boarding time di bandara Sentani, Jayapura. Dari kiri, saya, Yudha, Lola, Ari, Fera, Rudi. Minus Bayu, Galih dan Pak Rusdi.

Myself


Bending the rules

Kategori

Tes Kepribadian

Personality Disorder Test Results
Paranoid |||||||||||||| 54%
Schizoid |||||||||||||||||||| 82%
Schizotypal |||||||||||||| 54%
Antisocial |||||| 26%
Borderline |||||||||||| 46%
Histrionic |||||||||||| 42%
Narcissistic |||||||||||| 42%
Avoidant |||||||||||| 50%
Dependent |||||||||||||| 58%
Obsessive-Compulsive |||||||||||||| 58%
Take Free Personality Disorder Test
personality tests by similarminds.com

Ziddu

Kontak

Tweet me

Follow mayadewisavitri on Twitter

Just click

aglocoptr.com

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1.301 pengikut lainnya