You are currently browsing the category archive for the ‘Cerita Lain’ category.

My best friends always arround me. Betapa bersyukurnya aku dengan anugrah ini. Ketika saat-saat kesendirian dan kepedihan melanda, selalu saja ada teman sharing untuk meringankan beban rasa. Entah itu kenalan baru, atau teman masa kecil yang tiba-tiba mencari kabar tentang aku.  Subhnallah. Ini anugrah Allah buatku.

Share your feel, your think, your emotion, everything about you to someone you trust. Ini akan meringankan beban. Rasanya seperti menaruh sekarung sampah, ups maaf teman, maksudnya bukan membuang sampah, tapi kita bisa saling belajar dengan kehidupan lain di luar kehidupan kita. Tidak sengaja kita berkaca bahwa ada kehidupan yang lebih berat, lebih pahit, dan lebih sakit, tapi mereka bisa survive, lalu kenapa kita tidak? Percaya satu hal, bahwa Allah tidak akan memberikan masalah untuk kita hadapi diluar kemampuan kita. Masalah itu semua untuk membuat kita kuat. Aku percaya itu. Jadi kalau hidupku tidak seperti sekarang ini, mungkin aku akan jadi wanita manja yang cuma bisa bergantung pada orang lain. Tapi Allah punya cara sendiri untuk membuatku kuat.

Ini sekedar tips ringan buat yang sedang galau, SHARE it with someone u trust. Beda teman, beda pendapat atas masalah kita. Terima saja masukan dari mereka. Kadang membuat kita semakin galau, ya itulah proses, tapi dengan begitu kita tahu banyak perspektif dan solusi untuk menghadapi problem yang sama. Tapi hati-hati memilih teman sharing. Ada teman yang bisa jadi tempat untuk kita tumpahkan semua emosi, sedih, kecewa, marah, yah.. orang lagi galau, ya tumpahlah semuanya. Tapi ada juga yang balik menceritakan masalah dia sendiri. Dengarkan saja. Dari cerita dia, bisa diambil hikmah, seperti berkaca pada sebuah cermin. Kadang kita jadi tahu, betapa buruk diri kita dibandingkan “cermin” di depan kita. Atau justru sebaliknya, kita bersyukur masih tampak bagus dibanding “cermin” kita tadi. Nah, ini tipe teman lain lagi. Ada yang langsung mengkritik kita, whuups, langsung merosot rasanya, tambah galau. Tapi dengan begitu, kita tahu dimana letak kesalahan kita. Kita tidak akan pernah tahu kita salah, kalau tidak ada orang lain yang mengingatkan kita kan?

friends

Drupadi-Solo-05Saya pernah menulis sekilas tentang Drupadi di blog ini. Tapi cuma sekilas, tentang keteguhan hatinya atas penindasan laki-laki.

Drupadi, sosok misterius. Versi India menyebutkan bahwa Drupadi adalah istri kelima orang Pandawa. Tapi versi Jawa menyebutkan ia istri Yudhistira, putra tertua Pandawa. Perbedaan cerita itu sudah merupakan misteri. Versi India, Drupadi mempunyai 5 anak dari kelima suaminya, sedang versi Jawa putranya hanya satu yaitu Pancawala.

Kisah poliandri Drupadi saja sudah menarik. Ini mengisyaratkan bahwa perempuan bisa berkuasa atas laki-laki. Drupadi menentukan siapa yang berhak jadi suaminya pada tahun ini, tahun berikutnya, dan tahun berikutnya lagi. Diantara mereka memang terjadi saling kecemburuan, namun memegang janji ksatria di kisah itu adalah lebih utama daripada sekedar keluhan pribadi.

Drupadi dimenangkan Arjuna dalam sayembara yg diadakan Drupada, ayah Drupadi. Arjuna dan kelima saudaranya yang sedang dalam pengasingan di hutan membawa pulang Drupadi. Arjuna melapor pada ibunya, Kunti, bahwa ia telah mendapat hasil. Ibunya tanpa menoleh langsung berucap, bagilah dengan saudara-saudaramu. Ketika menoleh barulah Kunti terkejut karena yang dibawa Arjuna adalah Drupadi. Oleh karena ucapannya tidak bisa ditarik lagi, maka jadilah Drupadi bersuami 5 orang Pandawa. Dan karena bakti anak kepada ibunya, Pandawa bersedia berbagi istri.

Kisah ini sekaligus memaknai pengabdian putra-putra kepada ibunda. Seorang ibu, adalah tempat terhormat di mata putra-putranya. Menjadi ibu berarti memiliki kekuatan untuk membentuk keturunannya. Jika pembentukan itu baik, maka keturunan akan baik, jika pembentukan buruk, maka buruklah pula hasilnya.

Yang menarik lagi adalah sikap drupadi yang lantang menolak ketika dijadikan taruhan oleh Yudhistira saat bermain judi dengan Kurawa. Perempuan yang berani mengemukakan pendapat. Ketika Yudhistira sudah kehilangan harta, istana, dan adik-adiknya semua karena kalah di meja judi, Kurawa meminta Drupadi. Yudhistira menuruti Kurawa dan menjadikan Drupadi sebagai taruhan. Ia menyuruh prajurit menjemput Drupadi. Drupadi menolak datang di perjamuan judi. Sampai akhirnya Dursasana dari Kurawa yang menarik rambutnya dan menyeret Drupadi ke meja judi. Ketika Pandawa disuruh melepaskan pakaian istana, karena sudah kalah, Drupadi juga menolak, hingga Dursanana menelanjanginya. Berkat bantuan Kresna, kain yang disingkap Dursasana tidak pernah habis, dan Drupadi selamat dari malu. Drupadi yang marah telah dipermalukan, bersumpah tidak akan menggelung rambutnya kecuali sudah keramas dengan darah Dursasana. Melihat kondisi Drupadi ini, membuat Bima, putra kedua Pandawa, merasa sangat gerang dan bersumpah akan membunuh Dursasana. Kelak ketika perang, Bima benar-benar membunuh Dursasana, meminum darahnya, dan membawa pulang darah Dursasana untuk keramas Drupadi. Kekuatan perempuan yang mendorong laki-laki mampu bertindak luar biasa.

Drupadi adalah perempuan yang bebas dan mandiri, cerdas dalam mengemukakan pendapat, tetapi tetap lembut dalam perlawanan. Dia tahu dia tidak akan menang menghadapi Dursasana yang jelas-jelas bukan tandingannya. Tapi dengan menggerakkan Bima, dia mampu menumbangkan arogansi dan penindasan.

Makna dibalik kisah Drupadi, adalah bahwa perempuan itu menyimpan kekuatan, yang mungkin tidak disadari sebelumnya. Dalam tutur kata penuh kelembutan namun menyiratkan ketegasan sikap. Dalam budi pekerti dan laku agung, menyampaikan kebijakan tanpa kekerasan.

p.s.

Simak juga kisah sayembara drupadi, dan derita drupadi

Sosok Drupadi atau Draupadi ternyata juga dipuja-puja di India, simak tulisan Lauren Weadick tentang Drupadi di sini.

Saya juga menyimpan tulisan Pradip Bhattacharya yang mengulas tentang kisah Pandawa dan Drupadi di sini.

76938

Dalam logika manusia, perempuan itu bodoh. Mungkin. Banyak sekali perempuan yang bodoh atau terpaksa menjadi bodoh karena mengikuti norma sosial, dan aturan-aturan lain. Beberapa contoh kebodohan perempuan, antara lain:

  • Dibohongi, padahal perempuan tahu dia dibohongi laki-laki yang menyelingkuhinya, tapi dia diam saja karena memikirkan keutamaan keluarga atau anak-anak, bukankah itu bodoh?
  • Dijadikan tempat berlindung dan bergantung secara materi, bukannya seharusnya laki-laki yang melindungi dan menafkahi perempuan? Tapi perempuan diajarkan harus ikhlas membantu suaminya dan selalu mensyukuri rejeki sekecil apapun yg dibawa pulang suami. Lalu istrilah yang mencari nafkah, padahal di rumah masih punya beban tugas yang tidak boleh ditinggalkannya. Perempuan menjalani tugas ganda, triple atau bahkan quartet: kerja, anak-anak, rumah tangga, suami. Bodoh kan?
  • Dijanjikan surga dan kemewahan, padahal semua palsu. Lalu jika perempuan  marah dan menagih janji. Laki-laki akan bilang, maafkan.. aku sudah berusaha, tapi belum ada hasil, kasih aku kesempatan sekali lagi…. dan laki-laki berjanji tidak akan mengulangi. Lalu perempuan itu percaya, padahal dilakukan lagi dan lagi dan lagi.  Sudah jelas kan perempuan itu bodoh?
  • Dijadikan budak nafsu dengan alibi ajaran-ajaran agama (bagi yg sudah menikah). You know this: kalau istri menolak suaminya hingga suami marah padanya di malam hari, maka para malaikat akan terus mengutuki sang istri sampai pagi. Saya yakin semua perempuan yang sudah menikah tahu ajaran ini. Wah, saya takut meneruskannya, nanti dikira anti-agama. Saya serahkan saja kepada yang ahlinya kalau soal ini. Tapi menurut saya, perempuan punya hak untuk dirinya sendiri. Adalah hal bodoh jika diam saja diperlakukan tidak adil. Bicara, negosiasi, diskusi, whateverlah.. cari solusi yang terbaik untuk semua, bukan cuma menurut saja.

Parodi ini saya temukan ketika tidak sengaja browsing tentang perempuan. Silahkan disimak. Judulnya “Mengenang Suminah” yg saya temukan di milis Aktivis Minang.

* sodikin:
kamu pergi terlalu lama, sum..
kamu ngerti dong, aku kan laki-laki
tapi aku masih tresno sama kamu
o iya, namanya lestari,
anak desa tambaksari,
kamu harus saling ngerti sama dia,
bantu aku berbuat adil sama kalian,

lho?lho.. kamu jangan begitu,
aku kan suamimu,
dosa kamu berani begitu sama suami,
dilaknat api neraka kamu,

*ibu mertua:
perempuan jaman sekarang suka tidak tahu diri
suami ditinggal lama sendiri,
tidak diurus tidak diopeni,
masih untung sodikin sabar hati,
apa dia mau jadi janda?

* ibu suminah:
kita kan perempuan,
ya, sabar, nduk,
aku sudah bilang sama kamu,
jadi perempuan ya harus sabar,
kita kan perempuan

* ibu-ibu:
lha, memang siapa yang jamin suminah tidak main gila sama laki-laki lain di
singapura?
saya dengar-dengar dari suminten iya lho?
dipikir-pikir si lestari memang cantik, suminah pikir suaminya bisa makan
duitnya saja apa..

* pak haji:
istri yang dijanjikan surga oleh allah adalah istri sabar tabah serta melayani
dan mengabdi pada suami,
yang senantiasa berkata lembut menyenangkan hati suami,
patuh dan menurut pada keinginan suami,
selalu tersenyum dalam berkata-kata,
tampil senantiasa bersih dan wangi,
tidur tidak membelakangi suami,
kentut apalagi.
adalah dosa besar istri yang berani melawan keinginan suami,
apalagi berkata kasar dan memaki, melukai hati suami,
jadi tanya pada dirimu sendiri, suminah
apakah kamu sudah melaksanakan kewajibanmu yang sepatutnya sebagai istri,

tapi allah maha menyayangi,
kamu sekarang masih diberi kesempatan untuk mengabdi pada suami,
tunjukkan rasa cinta kamu, bersikap yang pantas sehingga membantu dia bersikap
adil pada istri-istrinya
kelak hanya istri yang bisa menghormati, melayani, dan mengabdi pada suamilah
yang mendapat tempat di surga.

btw, kalau kamu masih ada masalah,
hubungi bapak ya,
istri bapak baru tiga,
insya allah.

* jusfiq:
suminah, kamu oks juga.

Mimpi Suminah untuk menyediakan kesejahteraan lebih baik untuk keluarganya hanyalah mimpi sederhana seorang perempuan seperti halnya cita-cita semua orang. Hanya saja perempuan selalu takut menggapai cita-citanya sendiri setelah menikah, karena tuntutan dapur, kasur dan sumur, tugas-tugas domestik menjadi lebih dominan daripada impian aktualisasi di bidang publik.

Perbincangan ibu-ibu pada cerita suminah di atas merupakan gambaran reaksi sosial yang mengikuti kesuksesan seorang perempuan. Karena secara norma sosial, perempuan diharapkan menjalankan peran sebagai ibu dan istri yang baik dengan peran-peran domestik. Bukan menjadi individu yang lebih menonjol ketimbang suaminya, baik dari segi materi maupun pencapaian karir.

Perempuan itu bodoh kan? tahu dirinya punya kecakapan dan potensi, tapi mengalah pada peran domestik demi menjaga harmoni.

Suminah, bukan perempuan bodoh. Karena dia menjadi diri sendiri. Mengaktualisasikan diri. Menjadi TKI untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Semua keputusan pasti ada konsekuensinya. Termasuk resiko menjadi wanita mandiri.

Sudah selayaknya perempuan mempunyai keputusan sendiri untuk menentukan pilihan hidupnya. Bukan orang lain yang mengatur hidupnya. Kesuksesan karir bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi perempuan. Sudah pasti kesuksesan ini tidak otomatis menjadikan perempuan menjadi maskulin. Tetap harus ada hal-hal feminin yang terus menjadikannya unik. Perempuan feminin yang sukses. Bukan perempuan bodoh.

Seperti biasa setiap minggu malam saya selalu menunggu Mario Teguh dengan wejangan-wejangannya yang super. Tapi minggu kemarin, saya cuma kebagian menonton sedikit. Saya penasaran, lalu saya ulang menonton di you tube. Saya sangat tertarik pas di bagian ketika seorang pemuda bertanya… lalu dijawab pak Mario dengan menanyakan kepada audience dan si penanya, wanita seperti apa yang menjadi dambaannya untuk menjadi kekasih atau istrinya, kemudian pak Mario mulai menulis di board nya gambarna wanita ideal menurut para pria, seperti ini gambarannya:

Cantik

Kaya

Baik

Sayang

Soleha

Glamor (lalu pak Mario menggumamkan “Alhamdulillah ya”  disambung dgn “sesuatu”, dan diikuti tawa audience)

Sexi

Anggun

Gemulai

Setia

Inilah gambaran wanita ideal dimata pria.

Ada 10 kata di board itu, tunggu…. Ada yg aneh…. Saya menunggu kata “pintar”, tapi kata itu tidak pernah muncul hingga daftar kata itu diakhiri pak Mario dan meneruskan wejangannya. Saya heran sekaligus takjub. Sekian puluh (mungkin ratusan) penonton di metro tv waktu itu, tidak ada satupun laki-laki diantara penonton yang menginginkan perempuan pintar menjadi istri atau pasangannya… Glek.. kenapa??? Big question ini terus menghantui saya. Apakah karena laki-laki tidak mau superioritasnya terganggu krn istrinya lebih pintar? Apakah laki-laki merasa “tidak aman” punya istri pintar?

Lalu saya mulai browsing, seperti apa sih wanita ideal… Beberapa artikel tidak pernah menyebut “pintar” sebagai syarat ideal. Sampai akhirnya saya sampai di web Lovelytoday. Disini disebut ada 10 syarat wanita ideal, yaitu:

1. Trustworthy/Dapat dipercaya

2. Respectful/Hormat & Menghargai

3. Full of understanding/Pengertian

4. Maturity/Dewasa

5. Buat Pria merasa dibutuhkan

6. Smart/Pintar

7. Motherly/Keibuan

8. Attractive/Menarik

9. Sense of Humor/ Selera humor

10. Independency/Mandiri

Akhirnya, ada juga yg menginginkan wanita pintar sbg syarat wanita ideal.

Tapi saya masih penasaran. Kenapa perempuan pintar tidak disukai pria? Menurut Anda kenapa?

Belakangan ini saya mencoba mengintrospeksi diri, apa yang sudah saya lakukan setiap hari selama ini. Pagi hari saya selalu berpacu dengan waktu. Menyiapkan sarapan anak-anak sekolah terburu-buru, mandi dan dandan kilat bahkan tidak sempat menyisir rambut. Dulu masih sempat memasak untuk makan siang anak-anak, tapi sekarang… boro-boro.. pasti abis mandi sudah menyambar ransel dan tas kerja. Selalu terburu-buru berangkat kantor setiap hari. Dari Senin sampai Jumat. Apalagi hari Jumat, bahkan berangkat lebih pagi karena ada program senam di kantor. Sabtu biasanya saya habiskan di kantor untuk lembur, membenahi file-file, atau sekedar beres-beres berkas. Jika ada tugas mendadak keluar kota, harus siap berangkat, saya harus mengabaikan kebutuhan ibu yang sedang sakit, bahkan pamitpun sambil berlari, juga mengabaikan kebutuhan anak-anak, nantilah.. tunggu ibu pulang. Padahal ketika pulang dari luar kota, saya sudah kembali sibuk dengan tuntutan laporan, tindak lanjut, dan sebagainya. Mungkin bisa dibilang saya ini workaholic dan perfeksionis, semua saya lalukan sebaik mungkin, bahkan saya tidak peduli dengan kondisi usia yang sudah tidak muda lagi. Selama ini saya mengaku menikmati kesibukan ini. Tapi apa yang sebetulnya saya cari? Materi? Rasanya dari bulan ke bulan tetap segitu saja meski pekerjaan semakin tinggi durasinya dan bahkan overload, menghandle beberapa pekerjaan sekaligus, terutama di pertengahan tahun. Saya selalu beralasan, saya harus mengerjakan ini, saya harus begitu, saya harus kesana, siapa yang mengharuskan saya? Dan kenapa saya selalu memaksakan diri untuk sempurna?
Sampai akhirnya datang waktu liburan cuti bersama, selama 4 hari libur, saya bengong, mau ngapain selama 4 hari? Saya gak punya kehidupan lain selain kerja dan kantor. Kasihan sekali deh gue! Saya mulai berpikir, ada apa dengan saya? Kenapa selalu saja saya jealous melihat ibu-ibu muda yang menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, sekedar bermain di Time Zone, jalan-jalan, atau berenang, atau makan bersama. Saya benar-benar jealous. Coz saya tidak bisa melakukan itu semua. Hiks. Kenapa? Pasti ada yang salah dengan saya. Itu kesimpulan saya sementara. Tapi apa? Apa yang saya cari? Apa yang saya coba hindari? (Kalau yang ini sepertinya ada) Saya mencari materi dengan sibuk-sibuk di kantor? Tidak juga. Gaji kan sudah tetap selama setahun. Lalu apa pula yang saya hindari? Yang ini jelas, saya hindari hidup boros. Karena kalau di itung-itung logika, gaji saya cuma cukup untuk makan. Tapi amazing. Selalu saja Allah SWT mencukupkan kebutuhan kami sekeluarga. Jadi kalau pas hari libur panjang, kami tidak pernah kemana-mana, karena tidak ada budget. Seringkali saya tidur atau sekedar leyeh-leyeh sambil nonton tv seharian. Kalau ada rejeki, paling-paling kami belikan makanan enak dari resto untuk dimakan rame-rame di rumah. Sumpah…. saya selalu jealous kalau melihat orang yang boros gaya hidupnya. Astaghfirullah…. Padahal agama mengajarkan bahwa orang yang murah hati dan gemar sedekah pasti akan merasakan ketenangan hidup. Seperti prinsip yang dianut Tukul, senang berbagi dengan orang lain karena ibarat gentong yg mengucurkan “air sedekah”, malah akan selalu di isi terus “air rizki” nya oleh Allah SWT. Subhanalllah… Sikap saya terhadap keduniawian memang belum seperti Tukul, tapi sungguh saya kagum dengan prinsip hidup seperti itu. Seandainya saya bisa….. pasti akan tenang hidupnya….
Oleh sebab itu semua, saya rajin belajar segala sesuatu yang berbau spiritualitas. Semakin saya belajar ini itu, semakin saya tidak paham. Apa sebenarnya hakekat kehidupan. Apakah itu yang saya cari? Entahlah……
Saya cuma seorang ibu biasa yang dikaruniai 3 buah hati sempurna. Bagi saya itu adalah karunia tiada tara. Anak-anak yang sehat dan sempurna. Mencoba menjadi multitasking mom adalah perjuangan besar yang sampai saat ini masih belum bisa saya jalani dengan baik. Selalu saja ada yang salah… Saya hanya mencari ketenangan, tanpa resah memikirkan materi, tanpa resah memikirkan kerjaan belum selesai, tanpa resah memikirkan parenting anak-anak saya, tanpa resah memikirkan masa depan, tanpa resah memikirkan apa yang belum saya capai….. Ikhlas… simple word yg tidak mudah aplikasinya…

Cerita ini menggugah hati saya. Terutama pemahaman mengenai kebahagiaan dan cinta, bahwa kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia, kita  harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi. Membaca kalimat-kalimat ini, membuat saya merasa terjebak dalam dependensi.

Juga tentang alasan mempertahankan pernikahan berpijak pada anak yang sangat tidak bertanggung jawab, karena membebankannya pada anak. …. bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Ini tentang kewajiban seorang ibu dalam tanggung jawabnya membesarkan anak. Saya setuju. Seperti sebait lagu anak-anak: kasih ibu…. hanya memberi, tak harap kembali. Seharusnya dalam kasih seorang ibu, tidak ada pamrih. Seharusnya tugas ibu hanya memberi, tidak ada imbalan kepatuhan, apalagi balas budi.

Lalu, ada juga yang ini : Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Kelihatannya sangat kontradiktif dengan yang banyak dialami pasangan bermasalah. Biasanya akan lebih mementingkan keutuhan keluarga daripada kepuasan individual, karena bakal dianggap sangat egois. Sebagian besar orang yang memegang prinsip “keutuhan” ini bisa selamat melanjutkan keutuhan itu. Tapi ada juga yang tidak.

Bagi saya, apapun prinsip yang dipegang setiap orang dalam menjalani kehidupannya, jalankan dengan teguh. Jika itu keyakinanmu, maka lakukan dengan benar. Jadi jika kita meyakini apa yang kita lakukan akan menghasilkan yang terbaik, maka hasilnya akan baik. Bagaimana kalau kita salah? Pertolongan Tuhan itu ada dimana saja, Tuhan akan menuntun kita kembali ke jalan yang terbaik. Karena Tuhan Maha Pengasih.

Itulah yang bisa saya simpulkan dari ceritanya Dee. Meski saya baru tahu catatan Dee ini dua tahun lebih setelah dia menulisnya, tetap memberi wawasan baru tentang makna pernikahan, kebahagiaan dan Tuhan. Simak ceritanya.

Dee Idea: Catatan Tentang Perpisahan.

Myself


Bending the rules

Kategori

Tes Kepribadian

Personality Disorder Test Results
Paranoid |||||||||||||| 54%
Schizoid |||||||||||||||||||| 82%
Schizotypal |||||||||||||| 54%
Antisocial |||||| 26%
Borderline |||||||||||| 46%
Histrionic |||||||||||| 42%
Narcissistic |||||||||||| 42%
Avoidant |||||||||||| 50%
Dependent |||||||||||||| 58%
Obsessive-Compulsive |||||||||||||| 58%
Take Free Personality Disorder Test
personality tests by similarminds.com

Ziddu

Kontak

Tweet me

Follow mayadewisavitri on Twitter

Just click

aglocoptr.com

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1.301 pengikut lainnya