You are currently browsing the category archive for the ‘pendidikan’ category.

Ketika akan memulai tugas akhir kuliah, kadang mahasiswa bingung dengan permasalahan yang akan diteliti, variabel yang akan diungkap dan jenis penelitian yang akan dilakukan. Biasanya ini terjadi karena kurang membaca hasil-hasil penelitian lain yang pernah ada. Hasil penelitian ini bisa berupa skripsi, tesis atau disertasi, bisa juga berupa jurnal penelitian.

Karena pengalaman membantu beberapa teman, maka saya mengumpulkan beberapa jurnal penelitian yang topiknya seputar bidang ilmu psikologi.

Klik saja blog saya yang lain https://gudangjurnalpsikologi.wordpress.com/

Berikut adalah daftar beberapa jurnal yang sempat saya kumpulkan dan link filenya.

1. Gaya Hidup Mahasiswa: http://downloads.ziddu.com/download/23960456/Jurnal-GayaHidupMahasiswa.pdf.html

2. Kecerdasan Emosi pada kelas Akselerasi: http://downloads.ziddu.com/download/23961100/Jurnal-KecerdasanEmosi-Akselerasi.pdf.html

3. Diet dan Body Image: http://downloads.ziddu.com/download/23961106/Jurnal-DietFoodSuplemen-BodyImage.pdf.html

4. Kecerdasan Emosi dan Perilaku Agresif: http://downloads.ziddu.com/download/23961101/Jurnal-KecerdasanEmosi-PerilakuAgresif-Polisi.pdf.html

5. Kesepian dan Isolasi Sosial pada usia lanjut: http://downloads.ziddu.com/download/23961102/Jurnal-Kesepian-IsolasiSosial-LanjutUsia.pdf.html

6. Personal Fable dan Risk Taking pada remaja: http://downloads.ziddu.com/download/23961110/Jurnal-PersonalFable-RiskTaking-Adolescence.pdf.html

 

 

 

 

 

Ketiga anak saya, Raka, Mahesa, dan Ovi, tahun ini berbarengan menghadapi Ujian Nasional. Raka, saat ini di kelas XII SMAN I Depok Sleman, Mahesa, kelas IX SMPN II Ngaglik Sleman, dan Ovi, kelas VI SDN Selomulyo Ngaglik Sleman. Awalnya, rasanya seperti “Gedubrak” begitu, karena saya single mom, menghadapi banyak masalah, karena kasus mantan suami dan perpisahan kami, juga harus maintain their inner stability. Saya sangat menjaga kestabilan kondisi mental mereka akibat terpapar peristiwa yang membuat mereka trauma. Kondisi instabilitas psikologis memang tidak terelakkan, saya berusaha mengembalikan kestabilan dan mempertahankan kesehatan mental mereka supaya proses belajar mereka tidak terganggu. Ini strategi jangka pendek yang bisa saya lakukan. Strategi jangka panjang nanti adalah menghindarkan mereka dari trauma psikologis berkepanjangan akibat perceraian kami. Tentu saja, ini tidak mudah, tapi saya tahu Allah SWT punya rencana indah untuk kami semua. Jadi, saya lakoni peran saya sebagai ibu sebaik-baiknya untuk mereka.

kids

Nah, minggu lalu, saya diundang pihak sekolah Raka, dan Asa, untuk Sosialisasi pelaksanaan Ujian Nasional. Saya datang dan mendengarkan dengan takjub. Saya dan semua orang tua di ruangan aula itu, terhening ketika melihat jadwal ujian praktek, ujian sekolah, dan ujian nasional yang saling sinambung harus mereka jalani dalam 2 bulan ke depan. Wow, ini pasti berat untuk mereka. Belum lagi jadwal try-out, intensifikasi, dan lain sebagainya yang intinya untuk memberikan latihan untuk persiapan UN 2013. Hmmm. Saya cuma bisa menghela napas panjang. Oke, jika sebegini padatnya jadwal belajar mereka di sekolah, plus les ini itu, hingga pulang sore hari, maka yang bisa saya lakukan adalah menjaga mereka tetap sehat, memotivasi mereka untuk tetap semangat di sekolah, dan tidak perlu menyuruh mereka belajar di rumah. Hati nurani saya tidak tega menyuruh mereka belajar lagi di rumah, padahal di sekolah sudah seabreg latihan, try-out, intensifikasi, les, dsb. Tugas saya hanya mengingatkan tugas sekolah mereka untuk besok, membantu menyiapkan apa yang dibutuhkan untuk sekolah esok hari, just like that. Alhamdulillah mereka anak-anak yang punya disiplin diri kuat. Raka paling getol belajar. Nilainya memang cukup bagus, dari sekian kali try-out di sekolah, peringkatnya berkisar di urutan 20an dari sekitar 150an siswa di sekolah. Jadi, ketika saya pulang dari sosialisasi UN di sekolahnya, saya serahkan jadwal dan hasil try out, dan cuma bilang, jaga kesehatan ya nak. Raka punya aspirasi bagus untuk pendidikannya. Dia ingin kuliah di jurusan teknologi industri pertanian UGM. Kalaupun tidak lolos di UGM, dia sudah punya planning yang lain. Yang buat saya bangga adalah bahwa dia ingin meneruskan kuliah S2 di IPB. Pasti ada jalan nanti. I believe that. Kalau Asa, saya yakin prestasinya cukup bagus dan bisa meneruskan sekolah di SMA Negeri. Begitu juga Ovi, gak ada masalah berarti untuk prestasi akademiknya.

Saya ibu yang bangga akan daya tahan dan daya juang mereka untuk tetap fokus pada pendidikan mereka. Saya tahu banyak orangtua yang punya masalah dengan kenakalan anak, apalagi dihadapkan pada masalah perceraian orangtua. Saya sangat bersyukur punya 3 anak-anak manis yang kuat dan tabah.

kids

Hari ini saya ditugasi anak saya mengambilkan raportnya untuk tahun pertama di SMA. Seperti biasa ritual pengambilan raport dimulai dengan penjelasan kepala sekolah di aula SMA. Ketika sedang mengantri untuk mengisi daftar hadir, di belakang saya ada pasangan bapak ibu. Dari sekilas pembicaraan yang saya tangkap adalah mengenai pembayaran uang pendidikan. Biaya pendidikan itu sebetulnya bisa diangsur sejak bulan pertama masuk sekolah. Tapi biasalah kita selalu menunda-nunda pembayaran hingga hari bahkan detik terakhir. Sepertinya itu juga yang dialami si ibu yang mengantri di belakang saya. Kalau dilihat dari penampilannya, bahkan dari jenis handphone yang dibawanya, gak mungkin ibu ini tidak bisa membayar uang pendidikan yang jumlahnya mungkin sama dengan harga handphone yang dia bawa. Makanya saya tergelitik untuk menguping pembicaraan mereka.

Saya dengar si ibu kebingungan ditagih pihak sekolah pada saat mengisi daftar hadir, karena diminta mengisi lembar konfirmasi dengan tanda tangan kepala sekolah bahwa akan melunasi biaya pendidikan. Atau jika ingin dilunasi, maka bukti pelunasan bisa digunakan untuk pengambilan raport. Lalu si ayah, yg rupanya baru saja datang menyusul si ibu, bertanya, “lha kan kemarin sudah kukasih?”. Lalu si ibu menjawab dengan enteng “Duit sing kuwi wis tak enggo tuku handphone”… (Uang yang itu sudah kupakai beli handphone)… Gubrakkk… Mana bisa se enteng itu bilang ke suami, laporan macam apa itu? Ibu macam apa dia? Batin saya. Bisa-bisanya mengalahkan soal pendidikan anak hanya untuk update handphone? Ckckckckck…. (tiba-tiba banyak cicak di kepala saya)

Untungnya suaminya orang super sabar dan berduit super. Dibayarkanlah kekurangan biaya pendidikan tanpa ada perang mulut diantara mereka. Entah nanti sesampai di rumah…. hahaha…. Ending yang aneh menurut saya. Tapi begitulah realitas hidup. Ada yang bertugas mengumpulkan uang… Ada juga yang punya tugas menghabiskan uang… Betul kan? Lha kalo tidak untuk dihabiskan, lalu untuk apa si ayah mengumpulkan uang banyak-banyak?

Setelah seminggu jungkir balik menyediakan segala sesuatu untuk dua anak saya yang mengikuti MOS SMPN dan MOS SMUN, ternyata masih berlanjut! Wadaw.. Raka, anak sulungku, masih harus mengikuti MOPP=Masa Orientasi Pelajar Primordia di SMUN 1 Depok Sleman. Kegiatannya mulai siang sampe sore. Pagi  sekolah seperti biasa.

Hari pertama, wajib pake kaos putih polos, bawa handuk “good morning”, kaos kaki putih panjang 10cm, bawa tulisan identitas dari karton, bawa bekal makan siang : oseng kangkung & tahu kuning goreng, bawa aqua 650ml. Aqua botol adanya 330ml dan 600ml, untuk bisa jadi 650ml, di akal sedikit. Haha.

Hari kedua, semua sama kecuali bawa buah pisang kuning yang ukurannya sejengkal orang dewasa, dan bawa minuman jus madu.

Hari ketiga, pakaian sama, bekalnya yang beda. Bawa bekal oseng buncis & tempe segitiga goreng. Yang begini ini, bisa bikin ibunya sibuk setiap hari masak mulai subuh. Aqua masih tetap seperti hari pertama.

Hari ke empat, sama dengan hari ketiga, ada tambahan bawa tomat seukuran genggaman orang dewasa, dan jus madu lagi.

Hari kelima, bekalnya dengan menu baru, oseng jipang (labu siam) & ayam goreng.

Hari ke enam, bekalnya sama dengan hari kelima, plus minuman bee jelly.

Kegiatannya di sekolah selama MOPP secara umum belajar baris berbaris. Plus permainan keakraban antara siswa baru dan seniornya.

Menyenangkan….

Ketika anak-anak kita beranjak remaja, tugas sebagai orangtua bertambah. Menjelaskan tentang sex education! Itu wajib hukumnya. Tapi jujur, orang timur kadang bingung mau memulai komunikasi dengan anak. Kita semua tahu teknologi informasi sudah sedemikian hebat sehingga anak bisa download video apapun di ponselnya. Kasus video porno seleb kita juga sudah dinikmati anak-anak ABG. Semakin gempar ekspos media, semakin besar rasa ingin tahu anak.

Lalu bagaimana menjelaskan sex education yang benar? Satu yang penting, jangan menunda. Mungkin dalam pikiran kita, nanti saja, anakku baru ABG koq. Kita bisa lihat perkembangan fisik dan kematangan psikologis anak dari kebiasaan sehari-hari. Kalau kita rasa cukup untuk menerima sex education, maka kita sebagai ortu harus take action! Lalu, persiapkan dengan seksama, apa yang akan disampaikan pada anak. Bukan maksud untuk menakut-nakuti, sekali lagi, melainkan untuk melindungi anak.

Mungkin artikel ini bisa menjawab sedikit kegundahan para orangtua. Silahkan disimak :

http://www.parentsconnect.com/articles/6_tips_talk_sex.jhtml#!

Sedikit rangkumannya, tips untuk bicara tentang sex education pada anak :

  • Buat percakapan khusus. Tidak memberitahu anak sambil melakukan pekerjaan lain atau sambil lalu. Tanpa interupsi dari sms atau telpon. Buat suasana khusus berkomunikasi dengan anak, dengan begitu anak punya atensi khusus dan bisa paham dengan baik dan benar.
  • Menginformasikan pada anak, bukan menginterogasi. Tujuannya bukan untuk mencaritahu anak sudah terlibat sex atau belum, melainkan untuk melindungi anak dari bahaya PMS (penyakit menular seksual). Jika anak ditanyai, dia akan diam seribu bahasa.
  • Mulai dengan tema pokok/utama. Sampaikan bahwa PMS bisa menular dalam hitungan detik, dalam sekali waktu, dan bisa berpengaruh untuk kehidupan selanjutnya.
  • Tunjukkan fakta nyata. Kumpulkan fakta yang bisa mendukung apa yang akan disampaikan. Fakta bisa dari buku, artikel, atau berita dari media. www.cdc.gov/std.
  • Ajak berpikir. Percakapan bersifat singkat dan langsung. Tidak perlu berbelit-belit.

Masa Orientasi Siswa Baru dimulai. Anak sulungku, Raka ikut MOS SMUN 1 Depok, adiknya, Asa, ikut MOS SMPN 2 Ngaglik. Ada-ada saja yang disuruh bawa. Hari pertama, Raka disuruh bawa bekal makan siang sendiri, isinya nasi, lauk oseng kangkung, tempe goreng dan buah pisang, tempatnya di kotak kerdus, dan sendok plastik bebek. Budget untuk makan siang lengkap ini tidak boleh lebih dari 5 ribu. Wow… Ini mah makanan sehari-hari kita. Jadilah ibunya masak sejak subuh, menyiapkan bekal Raka dan sarapan pagi untuk 3 anakku.
Asa, disuruh bawa tanaman puring plus pupuk kandang. Nah, kalau ini ayahnya yang mencarikan plus menyiapkan, jadi Asa tinggal bawa ke sekolah. Untuk bekal, Asa minta dibuatkan nasi goreng untuk makan siang di sekolah.

Hari kedua, Raka disuruh bawa bekal makan siang nasi kuning! Alamak… yang ini aku gak bisa buat…. akhirnya pesan tetangga yang sering jual nasi kuning di kompleks sebelah. Komplit lauknya. Buahnya jeruk, budget masih 5ribu.
Asa disuruh bawa sepenggal puisi. Temanya terserah. Nah, yg ini sih gampang. Gak neko-neko.

Hari ketiga, Raka bawa bekal oseng kacang panjang telor ceplok + pisang. Ini sih gampang…. Asa ikut tour ke keliling kota, jadi gak disuruh bawa-bawa, sudah ada konsumsi dari sekolah.

Hari keempat, Raka tour ke Borobudur. Asa sekolah seperti biasa, tapi siang ada kegiatan MOS, nah.. ini yang repot. Bawa bekal nasi golong + tempe bacem. Minumnya harus air mineral botol merk aqua club. Pake kaos putih polos, topi dari besek, talinya tali rafia warna kuning yang dikepang. Pake tas dari kresek, harus warna kuning, tali selempang tasnya dari rafia warna kuning, dikepang juga. Pake kaos kaki sebelah kanan hitam panjang, sebelah kiri putih pendek. Tali sepatu dari tali rafia warna kuning. Buat identitas nama & kelas dari kertas arturo kuning, dipasangi tali rafia yg dikepang utk dikalungkan di leher. Haha… ribet amat… Orangtuanya juga yang repot. Seisi rumah repot.

Hari kelima, dan ke enam, Raka sekolah biasa, cuma disuruh bawa tanaman untuk “tamanisasi”. Asa pagi masih sekolah biasa, siang MOS. Seperangkat peralatan masih sama, cuma bekalnya yang beda. Bekal hari kelima harus nasi pecel, untuk hari keenam harus nasi kuning. Yang lucu siswa putri, selama 3 hari pelajaran baris berbaris itu, kunciran rambutnya nambah, hari pertama 5 kuncir, hari kedua 10 kuncir, hari ketiga 15 kuncir. Bersyukur anakku laki-laki, jadi gak ribet kuncir menguncir.

Buat saya, pengalaman ini melelahkan, tapi menyenangkan! Kita jadi punya pengalaman mendampingi anak selama MOS. Kalau ada yang punya pengalaman serupa, sharing dong…

***) Saya kira MOS berakhir di minggu pertama saja, ternyata masih ada MOPP = Masa Orientasi Pelajar Primordia… waduh, apapula ini?? Simak catatannya di next artikel.

Helo Kids Pengalaman ini amat berharga buat saya, karena banyak hal yang saya pelajari dan mengambil hikmah dari acara ini. Awalnya, seorang teman baik saya meminta saya menjadi juri lomba story telling yang diadakan oleh pihak kantornya. Teman saya ini bekerja di suatu distributor product direct selling berupa program belajar untuk anak-anak. Berbarengan dengan kegiatan pameran yang mereka adakan, juga diadakan lomba storytelling untuk umum. Oleh karena dana yang terbatas, maka mereka hanya mampu membayar 1 orang juri yang capable. Yang seorang lagi adalah “orang dalam”, jadi bersifat sukarela karena bagian dari panitia. Nah, karena masih butuh 1 orang juri, teman saya meminta saya menjadi juri. “Tapi gak ada fee nya lho mbak”, begitu dia menegaskan, sambil menjelaskan panjang lebar tentang maksud dan tujuan penyelenggaran lomba serta visi dan misi perusahaan. Oke, saya mau. Meski gak punya kapabilitas, saya beranikan diri saja, niatnya sih memperkaya pengalaman.

So, hari itu saya duduk sebagai juri lomba mendongeng. Cerita yang di dongengkan adalah salah satu dari paket buku Halo Balita. Para juri sudah sepakat untuk criteria penilaian. Saya sih ngikut saja,… Soal tehnik mendongeng, pasti sudah dinilai oleh juri-juri yang lain, jadi saya melihat performance mereka berdasarkan tampilan mereka beraksi di pangung. Jadi, hari itu saya berperan menjadi anak kecil yang mendengarkan para kakak, om dan tante yang menceritakan isi buku halo balita. Kalau dongengannya hidup, interaktif, ekspresif dan bisa menghibur saya, nilai tinggi langsung saya berikan, tapi kalo saya tidak suka, ya nilainya cukup saja.

Peserta yang tampil bervariasi, mulai dari peserta yang baru belajar mendongeng, ada juga yang sudah trampil mendongeng dan pandai menirukan berbagai suara, seperti suara mobil, pesawat, suara anak kecil, suara nenek-nenek, suara doraemon, dan lain-lain. Ada mahasiswa, ibu rumah tangga, dan guru yang mendaftar menjadi peserta. Ada satu peserta (mahasiswa cowok nih) yang tampil menggunakan kimono, lucu juga, karena gak nyambung dengan tema cerita, tapi saya salut dengan usaha kreatifnya. Ada peserta yang saking semangatnya sampai suaranya melengking tinggi, bikin sakit telinga, anak kecil mungkin malah jadi takut nih. Ada peserta yang dicuekin, mungkin masih pemula dan skill untuk menarik perhatian penonton juga terbatas. Satu hal yang saya pelajari, bahwa mendongeng itu butuh latihan, jadi butuh jam terbang gitulah…. Semakin banyak pengalaman mendongeng, semakin trampil seseorang mendongeng. Tapi ternyata untuk menjadi story teller juga butuh bakat. Jika seseorang punya gift untuk menjadi pendongeng, akan nampak dari performancenya. Auranya muncul meski tehnik mendongengnya masih belepotan. Hufftt…. Susah juga menemukan peserta terbaik nih. Juri bingung. Jadi juri tidak mudah ternyata.

Di akhir acara, kami para juri terpaksa harus mengambil 3 terbaik untuk menjadi pemenang yang mendapat trophy + buku Hello Kids. Tapi akhirnya kami menentukan 2 peserta lagi sebagai peserta berbakat dan mendapat hadiah hiburan.

Satu tugas lagi telah selesai, saya banyak mengambil hikmah dari acara ini. Salut pada semua peserta!! Jadi, yang butuh story teller untuk acara ultah anak, saya punya stok nih. Daripada badut, mending story teller kan? Manfaat story telling banyak loh… Seperti disebutkan di http://www.perkembangananak.com, mendongeng merupakan suatu cara yang paling efektif untuk memberikan nasehat, pesan, pencerahan, dan motivasi kepada anak. Mendongeng sebetulnya mirip dengan memberikan contoh nyata ke dalam imajinasi anak. Dengan perasaan senang anak akan lebih mudah menyerap dan memahami isi cerita yang disampaikan kepadanya. Pilihlah kisah atau cerita yang menarik bagi anak, sesuai dengan umurnya, dikemas dengan cara yang dapat menembus perasaan secara mudah, dan doronglah ia untuk melakukan kebaikan tersebut (Muhammad Rasyid Dimas, 2005)

Silahkan mencoba mendongeng untuk anak, adik, keponakan, atau cucu. Atau share pengalaman mendongeng dengan saya, disini.

Diantara kegelisahan, kesuraman, kekurangan, ketidakberdayaan yang sedang meliputiku, ada rasa syukur tak terhingga melihat anak sulungku, lulus SMP dengan NUN yang sangat memuaskan!!… Kami dibuat surprised dengan nilainya yang jauh meningkat. Alhamdulillah. Sujud syukur kami kepadamu ya Allah, sudah dimudahkan mendidik putra kami.

Anak sulungku itu tirakatnya gedhe… Mulai dari ngurangi kegiatan nge band, fokus belajar, sholat malam, rajin puasa… Wah, aku saja sampai geleng kepala liat anakku. Umurnya aja baru 15 tahun, tapi sudah cukup mandiri. Sejak SD aku jarang ngajari anakku yang sulung ini belajar… (kelakuan!!.. Maafkan ibumu ini nak..) Dia belajar mandiri, mengatur waktu sendiri, tanpa harus di suruh-suruh. Kadang kita cukup mengingatkan saja.

Ada pengalaman menarik waktu mendekati UNAS SMP kemarin. Dia belajar terus siang malam sampai gak keluar rumah. Aku gak tega melihat dia memforsir diri sendiri belajar terus begitu. Malah kugoda terus, kenapa sih koq belajar mulu? Sudah lupakan dulu, main game aja sana….. Begitulah usahaku membuat dia relax dan santai menghadapi ujian. Seusai ujian hari pertama, aku biarkan main game dan main gitar sesukanya, nanti malamnya buka-buka buku sedikit sekedar refreshing, besok biar santai ujiannya. Begitulah sampai ujian selesai. Jadi saat ujian dia bisa relax tapi mantap.

Alhamdulillah dengan cara begitu anakku berhasil dapat NUN sangat baik. Tentu saja semua tidak terlepas dari kemudahan Allah. Alhamdulillah, anakku ini rajin sholat hajat dan sholat dhuha. Sholat sebelum ujian ini sangat membantu untuk menenangkan pikiran dan hati.

Aku sangat bangga. Semoga kamu jadi orang yang sukses anakku…. Gapai impianmu! Kamu pasti bisa!! We love you……

Anak kedua saya, kelas 6 SD, saat ini sedang menghadapi ujian nasional untuk SD yang disebut Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional. Oleh karena sistem pendidikan sudah dibuat seperti ini, ya kami, orangtuanya, terpaksa manut saja, padahal sebetulnya sih gak setuju… 🙂

siap ujian

siap ujian

Tiba-tiba, 10 hari menjelang UASBN, kepala sekolah memanggil semua orangtua siswa kelas 6 SD Negeri S (tidak perlu saya sebutkan) untuk rapat membahas mengenai unas. Pertemuan itu sifatnya hanya sosialisasi mengenai hasil latihan ujian nasional tingkat propinsi yang hasilnya mengecewakan *versi kepala sekolah*, karena jauh dibandingkan dengan kakak kelasnya.. *dalam hati saya protes.. hey.. setiap anak itu spesial bu.. jangan disamakan antara satu dengan yang lain.. kalo hasil latihan unas tahun ini buruk, ya harus diliat secara global dong… mungkin soalnya yang terlalu sulit, atau faktor lain… bisa saja kan?*

Lanjut, berdasarkan nilai tadi yang dianggap menurunkan reputasi sekolah, maka pihak sekolah meminta orangtua siswa, dalam 10 hari menjelang UASBN ini, dapat memacu *glek.. saya menahan kesal… emangnya anak kami kuda pacu??*… putra putrinya supaya meningkatkan belajarnya dan dapat meraih nilai bagus dan berhasil mendapatkan sekolah lanjutan yang sesuai dengan keinginan orangtuanya .. *weiks… bener-bener bikin emosi ni kepala sekolah…. emang yang sekolah tu sapa? orangtuanya atau anaknya? Kalau saya sejak dulu selalu menyerahkan keputusan untuk memilih sekolah pada si anak… kan mereka yang sekolah… walaupun dengan arahan khusus pada anak, tapi tetap keputusan di tangan anak… bahkan sejak memilih sekolah taman kanak-kanak!!… anak-anak juga manusia, dan mereka punya hak!!… *

Tapi saya mencoba menanggapi pernyataan kepala sekolah tadi dengan bijak. Barangkali ini cuma masalah istilah, mungkin niatnya memang ingin meningkatkan prestasi belajar siswanya, caranya saja yang kurang pas… jadi saya lanjut mendengarkan.

Sampai di sesi tanya jawab, banyak hal yang mengagetkan saya, ternyata sebagian besar orangtua siswa banyak yang belum paham sama sekali sistem dan mekanisme UASBN. Bahkan UASBN itu apa juga mereka masih samar. Pertanyaan lugu yang disampaikan, kalau sudah ada UASBN, kenapa masih ada ujian praktek? Lalu kenapa nilai ujian praktek tidak bisa “mengangkat” nilai UASBN? Itu pertanyaan dari seorang bapak…. Ada lagi yang lebih lugu, apakah semua perbincangan ini bisa dicatatkan? Karena ternyata si ibu lugu ini buta huruf *waks… maaf, saya benar-benar kaget, hari gini… masih ada yang buta huruf loh…..*

Ketika kepala sekolah dengan tegas menunjukkan nilai latihan unas itu, dan menunjukkan bahwa banyak siswa yang tidak memenuhi SKM – standar kelulusan minimal yang ditetapkan, saya justru kuatir, pasti setelah rapat ini, para orangtua bakal memarahi anaknya, mengurung anak di rumah, dan memata-matai setiap gerakan supaya tidak lepas dari buku pelajaran!…. OMG, semoga saja ini tidak terjadi.

Hal terbaik yang disampaikan kepala sekolah adalah mengajak siswa rajin berdoa dan sholat sebelum hari H UASBN. Bahkan sehari sebelum hari H, akan diadakan doa bersama semua siswa, orangtua siswa, guru-guru, dan penduduk sekitar, di mushola sekolah. Tetep saja terlontar kekecewaan kepala sekolah karena anak laki-laki lebih sulit disuruh sholat…. *duhh… bahasanya… jangan disuruh dong… diajaklah… jangankan anak-anak… orang dewasapun sulit berangkat sholat meski sudah disuruh-suruh…. betul tidak??*

Sedikit saja catatan saya, berdasarkan pengalaman mendampingi 2 anak saya yang menghadapi unas.

  • Latih anak belajar lebih rutin ketika masuk kelas 6 SD, atur kembali jadwal kegiatan lain.
  • Bimbingan belajar boleh saja, tapi berdasarkan pengalaman saya, anak justru menjadi jenuh dan overload ketika mendekati hari H. Sedikit bijak dalam mengatur bimbingan belajar (kursus) ini.  Lihat kondisi anak.
  • Menjelang hari H, sebaiknya anak tidak terbebani dengan sistem belajar semalam. Sebelumnya mereka sudah banyak latihan soal, saya kira lebih baik mempelajari latihan soal dan lebih banyak istirahat supaya pikiran lebih fresh.
  • Jaga kesehatan anak. Ini yang paling penting! Menjelang hari H, banyak istirahat, perhatikan makannya, perhatikan pula kegiatannya. Terlalu lama belajar membuat anak lelah dan mudah sakit. Pertahankan kondisi sehat hingga hari UASBN selesai.

Begitulah catatan kecil saya ketika menghadapi anak yang menghadapi ujian. Semoga tips kecil ini bisa bermanfaat.

Myself


Bending the rules

Kategori

Tes Kepribadian

Personality Disorder Test Results
Paranoid |||||||||||||| 54%
Schizoid |||||||||||||||||||| 82%
Schizotypal |||||||||||||| 54%
Antisocial |||||| 26%
Borderline |||||||||||| 46%
Histrionic |||||||||||| 42%
Narcissistic |||||||||||| 42%
Avoidant |||||||||||| 50%
Dependent |||||||||||||| 58%
Obsessive-Compulsive |||||||||||||| 58%
Take Free Personality Disorder Test
personality tests by similarminds.com

Ziddu

Kontak

Tweet me

Follow mayadewisavitri on Twitter

Just click

aglocoptr.com

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1.301 pengikut lainnya