Cerita ini adalah pengalaman pribadi saya ketika mendampingi ibu kandung saya dalam perjuangannya melawan carcinoma mamae.

Ibu saya terlahir tahun 1941 di yogyakarta. Beliau orang yang kuat, tabah, dan survive menjalani kehidupan. Awal pernikahan dengan Bapak, Ibu menjalani kehidupan rumah tangga yang sulit. Berpindah-pindah kota karena mengikuti tugas Bapak. Bahkan Ibu sempat ditinggal ke luar negeri karena Bapak mendapat beasiswa, dan Ibu bekerja sendiri dengan mengurus dua anak dan dua keponakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, jauh dari keluarga Ibu. Kami baru menetap setelah Bapak punya posisi baik di salah satu kantor pemerintahan di Surabaya. Waktu itu kami masih usia SD.

Namun kondisi stabil itu juga tidak berlangsung lama. Bapak meninggal saat tugas tahun 1984 ketika saya masih 16 tahun. Sejak itu, ibu menjadi single mother untuk dua anak remaja. Saya sangat salut pada ibu karena hingga kini ibu tidak pernah menikah lagi. Meski seorang diri membesarkan 2 anak, ibu sanggup menyediakan pendidikan yang sangat layak untuk kami berdua, karena beliau wanita karir yang cukup mapan.

Dalam hal kesehatan, ibu sangat berhati-hati menjaga makanan dan penampilan. Sejak bapak meninggal, ibu ”berpuasa” makan nasi, tapi bentuk olahan beras yang lain, seperti ketupat atau lontong, masih dikonsumsi. Ibu juga punya kecenderungan kolesterol tinggi karena bawaan keturunan dari keluarga besar kakek saya. Jadi sudah sejak lama ibu tidak mengkonsumsi makanan pemicu kolesterol.

Olahraga, jangan ditanya yang satu ini. Ibu sangat rajin ’jalan pagi’ bersama tim kompaknya, para tetangga di kompleks perumahan tempat tinggal Ibu. Hampir setiap hari ibu jalan pagi. Jika minggu, disambung dengan kegiatan senam manula di kompleks ruko dekat rumah. Jadi secara fisik, ibu saya sehat, bugar, fit, dan semacamnya. Namun tidak disangka tiba-tiba awal Januari tahun 2007, ibu menceritakan keluhan tentang benjolan di payudara sebelah kanan. Gejalanya mulai sekitar oktober 2006, tapi karena dianggap hal biasa, ibu mengabaikannya. Awal tahun 2007, Ibu memutuskan berkonsultasi dengan dokter keluarga. Dokter inipun menyarankan untuk berkonsultasi ke klinik kanker untuk pemeriksaan lebih lengkap.

Mendapati hasil yang tak terduga, ibu syok. Diagnosisnya jelas menyebutkan CARCINOMA, tapi dokter tidak menyebutkan stadium berapa. Ada dua benjolan, yang satu di dekat puting, yang satu di dekat ketiak. Ukurannya sekitar 5cm yang di dekat ketiak, dan 3cm yang di dekat puting. Setelah dibicarakan bersama keluarga, saya, adik dan Om (adik ibu), dengan pertimbangan informasi-informasi lain dari keluarga lain yang juga dokter, serta kemantapan hati ibu setelah sholat istikharoh dan sholat malam, akhirnya diputuskan untuk menjalani perawatan dengan kemoterapi sebelum diangkat (operasi). Logika yang bisa saya pahami, dengan kemoterapi sebelum operasi, bisa menonaktifkan sel kanker sehingga mudah untuk diangkat melalui operasi.

Kemoterapi. Awalnya saya ngeri mendengar istilah itu. Apalagi ibu. Jadi mulailah saya mengumpulkan informasi, apa sebenarnya kemoterapi dan tindakan apa saja yang dilakukan. Mengapa harus menginap di rumah sakit minimal dua hari? Saya dan adik survey informasi kemana-mana, ya ke rumah sakit, ya ke saudara atau teman yang dokter, ya ke orang-orang yang pernah menjalani kemoterapi. Tanya mulai bentuk terapi, biaya, hingga efeknya, karena yang paling kita kuatirkan adalah biaya dan efek yang ditimbulkan akibat kemoterapi.

Menurut dokter, ibu dipilihkan jenis kemoterapi yang efeknya relatif lebih ringan. Ibu menjalani apa yang disebut siklus kemoterapi, yaitu waktu yang diperlukan untuk pemberian satu kemoterapi. Untuk kasus Ibu, dokter menyarankan satu siklus adalah setiap 3 minggu sekali. Ada berbagai pilihan siklus sebenarnya, namun semua tergantung kebutuhan dan kondisi pasien, begitu menurut dokternya. Jadi, Ibu menjalani 6 siklus kemoterapi dengan interval antar siklus adalah setiap 3 minggu. Ini berarti Ibu harus menjalani 6 kali siklus setiap 3 minggu sampai kemoterapinya selesai diberikan. Misalnya, kemoterapi pertama tangal 1 Mei 2007, maka kemoterapi kedua dilakukan tanggal 22 Mei 2007. Begitu seterusnya sampai 6 kali siklus.

Jumlah kemoterapi ini tidak boleh ditawar-tawar, misalkan hanya diberikan satu atau dua kali saja lalu berhenti. Jika interval waktunya terlewat atau melebihi tanggal yang ditetapkan, maka siklus dianggap hilang atau harus dimulai dari siklus pertama lagi. Hukumnya dalam pemberian kemoterapi adalah diberikan semuanya atau tidak sama sekali. Bila diberikan hanya satu atau dua kali saja, tidak ada manfaatnya, karena kanker tidak akan dapat disembuhkan bahkan menjadi lebih tahan atau resisten terhadap pemberian kemoterapi berikutnya, selain itu efek sampingnya juga hebat namun tidak memberikan manfaat, juga secara ekonomi memboroskan biaya yang tidak perlu dan hanya membuang-buang waktu saja. Efek lainnya adalah bisa saja kanker justru berkembang dan stadium kankernya meningkat, yang tadinya stadium dua menjadi stadium empat misalnya. Bisa juga kanker akan kambuh kembali di tempat semula dia tumbuh Evaluasi dilakukan setelah 3 kali siklus kemoterapi. Jadi dokter memeriksa kembali kondisi dan status carcinoma pada saat selesai siklus ketiga (http://konsultasikesehatan.epajak.org/kanker).

Begitulah yang dijalani Ibu, kemo demi kemo dilalui. Efek kemo memang luar biasa. Mulai dari perut mual, gak doyan makan, badan lemes, sedikit pusing, rambut rontok itu sudah pasti, ruam kulit (sedikit merah dan gosong), dan banyak efek lain yang mungkin setiap orang berbeda-beda. Tapi begitu ambil keputusan kemo, harus terus diselesaikan. 3 kali kemo, Ibu dievaluasi. Lalu dilanjut 3 kali lagi. Evaluasi lagi. Setelah selesai 6 siklus terapi, ibu harus menjalani operasi pengangkatan benjolan kanker di payudara dan bawah ketiak. Evaluasi atas kemoterapi diketahui bahwa kedua benjolan di payudara ibu berkurang sekitar 1-2cm. Jadi inilah saatnya harus diangkat/dioperasi. Setelah operasi, perlu kemoterapi lagi sekitar 4 siklus.

Operasi dilakukan bulan Agustus 2007. Usai operasi, ibu merasa sehat. Efek psikologis operasi juga kelihatan. Ibu merasa sudah membuang ”bom” di dadanya yang bisa saja meledak setiap waktu. Kalau bom itu hilang, bisa hidup lebih lama tanpa kuatir ”meledak”. Karena saya orang psikologi, jadi saya sangat memperhatikan efek psikologis yang terjadi di setiap tahap pengobatan.

Usai operasi, ibu dinyatakan bersih dari kanker. Memang masih harus cek 3 bulan, 6 bulan dan tahunan serta mengkonsumsi obat khusus penderita kanker yang saya kenal namanya Tamoplex. Evaluasi tahun pertama lancar. Masih bersih dari kanker. Evaluasi tahun kedua mulai nampak ada metastase (penyebaran). Ibu harus menjalani kemo lagi, tapi karena teknis kemo yang agak berat, harus bolak balik ke rumah sakit, padahal Ibu seorang diri tinggal di rumah di Surabaya. Saya dan adik saya tinggal di kota lain. Jadi dipilih mengkonsumsi obat yang namanya Zeloda. Zeloda ini diminum dalam rentang waktu 14 hari, lalu dievaluasi. Setiap kali saya bilang dievaluasi itu berarti pemeriksaan laboratorium lengkap, minimal itu, bisa jadi termasuk foto thorax, USG abdomen, dan lain-lain yang diperlukan. Efek Zeloda hampir sama dengan kemoterapi. Lemas, mual dan ruam kulit. Ibu bisa bertahan terus minum Zeloda sampai 4 dosis, itu berarti sekitar 4 bulan. Bulan kelima mulai muncul bosan dengan rutinitas pengobatan. Bosan dengan ketergantungan pada obat. Ibu mulai beralih ke alternatif. Masih mengkonsumsi Tamoplex, tapi sepertinya tidak mampu menahan metastase sel kanker. Bulan berikutnya muncul banyak keluhan, batuk yang tak kunjung sembuh, sakit di dada, sakit di tulang ekor, dan sebagainya. Selang 3 bulan setelah lepas Zeloda, Ibu menjalani cek rutin. Hasilnya sangat membuat ibu syok, lagi. Paru-paru sebelah kiri sudah separuh tertutup cairan. Sel kankernya merupakan jenis sel yang senang membuat cairan. Supaya mengurangi rasa sakit dan sesak di dada, cairan itu harus diambil dengan cara disedot. Dokternya menawarkan proses penyedotan di Yogyakarta saja, tempat tinggal saya, supaya lebih mudah teknis penyedotan dan pengobatan setelah itu. Tawaran itu saya sambut dengan suka cita. Jadilah Ibu saya boyong ke Jogja, besoknya langsung proses observasi, cek ini itu, lalu penyedotan, lalu kemoterapi lagi. Sungguh perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan. Tidak hanya bagi penderita tapi juga bagi seluruh keluarga yang terlibat, karena tidak mungkin penderita kanker berobat sendiri ke rumah sakit tanpa ditunggu orang yang bertanggung jawab. Setidaknya ada berkas administrasi yang harus di tanda tangani oleh pihak keluarga. Apalagi jika kondisi penderita sudah semakin lemah, harus ada pihak keluarga yang siap membantu di sampingnya.

Begitulah, cerita tentang Ibu. Sampai saat ini masih menjalani kemoterapi. Secara medis, tahap pengobatan kanker memang harus melalui kemoterapi. Ibu hanya percaya pada pengobatan medis. Itulah kuncinya. Kepercayaan dan keyakinan akan sembuh itu sudah separuh dari pengobatan. Jadi menurut saya, penyakit itu munculnya dari pikiran. Law of Attraction berperan. Apa yang kita pikirkan, itu pula yang terjadi. Bagaimana supaya tidak memikirkan yang aneh-aneh? Agar tidak terjadi yang aneh-aneh? Ikhlas dan bersyukur…. Semoga kisah ini dapat menjadi sumber ilmu, ide, insight, apapun namanya… yang penting membawa kebaikan untuk orang lain. Amin.

 

p.s.

Ibu meninggal bulan Juli 2011. Setelah bertahun-tahun berjuang melawan cancer. Ibu pulang dengan tenang… We love you mom..

Berikut ini link mengenai apa itu Carcinoma Mamae alias Breast Cancer yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, seperi http://www.cancer.org, http://www.emro.who.int, dsb.

http://downloads.ziddu.com/download/23840532/breast-cancer.pdf.html

http://downloads.ziddu.com/download/23840615/management-breast-cancer.pdf.html