You are currently browsing the tag archive for the ‘pandawa’ tag.

pandavasBelakangan ini saya sangat suka membaca kisah Drupadi. Bagi saya, perempuan putri raja Drupada ini unik. Panchali, begitu dia disebutnya, adalah seorang putri, seorang permaisuri karena menikah dengan Yudhistira yang menjadi raja Indraprasta, namun ketika Pandawa diasingkan, dia pulalah yang menemani dan mengikuti Pandawa mengasingkan diri ke hutan dan menyamar menjadi rakyat biasa. Dia satu-satunya istri yang boleh tinggal bersama Pandawa. Istri-istri Pandawa yang lain, seperti Arimbi, istri Bima, tetap tinggal di istana asalnya. Kecuali Subadra, istri Pandawa, boleh menemani Arjuna. Drupadilah yang menentukan aturan itu.

Seperti dikisahkan pada mithologi India, Drupadi menjadi istri dari kelima Pandawa. Unik! Bahkan saat itupun tidak lazim perempuan bersuamikan 5 orang, tapi atas nama janji ksatria Pandawa, mereka berbagi istri.

Bagaimana dengan anak-anak Drupadi?

Dikisahkan anak-anak Drupadi ada 5. Salah satunya adalah Sutasoma yaitu anak Drupadi dari Bima. Ke empat anak yang lain masih belum jelas nama-namanya. Lalu, bagaimana menentukan siapa bapaknya? Menurut kisah, Drupadi membagi kurun waktu setahun untuk satu suami. jadi setelah setahun lewat, suaminya harus menunggu giliran 4 tahun berikutnya untuk bersama Drupadi. Mengingat jaman dulu belum ada tes DNA, hebat juga pengaturan seperti ini.

Keberanian Drupadi memang sudah kelihatan sejak kecil. Ada peristiwa masa kecil yang menggambarkan keberanian dan kepintarannya, kisahnya bisa dibaca di sini. Namun Drupadi memiliki sifat manja. Ketika Arjuna tidak ikut bersama saudara-saudara yang lain dan Drupadi ke hutan, Drupadi merengek merindukan Arjuna. Ini membuktikan bahwa Drupadi mencintai Arjuna lebih daripada yang lain. Benarkah? Mungkin saja. Tapi pengabdiannya pada Yudhistira juga tidak diragukan.

Nah, begitulah uniknya Drupadi. Untuk tahu lebih banyak tentang kisah Drupadi, silahkan simak juga di sini.

 

 

 

 

 

Iklan

Saya masih ingat ketika kecil, Ayah saya sering membelikan buku cerita tentang wayang. Salah satunya kisah Mahabharata. Saya suka sekali membaca kisah-kisah di dalam buku itu. Jadi saya sedikit paham beberapa tokoh wayang utama dalam kisah Mahabharata. Tapi ceritanya sudah banyak yang lupa.

Kisah wayang sering dilupakan. Padahal sarat dengan filosofi kehidupan. Ketika anak-anak saya beranjak remaja dan sama sekali tidak tahu tokoh Pandawa, waduh.. saya kelabakan mencari buku tentang Mahabharata. Beruntunglah masih banyak beredar buku-buku tentang wayang. Salah satu buku kisah Mahabharata saya beli untuk dibaca dan dipahami anak-anak saya. Tapi apa yang terjadi…. Bahkan dibuka saja tidak! Ahay… Jaman telah berubah. Generasi baru lebih suka tokoh-tokoh animasi Jepang seperti Naruto, dll. Prihatin ya.. Ya beginilah kondisi kita. Apa mau dikata. Bagaimana menurut kacamata Anda?

p.s.

Bagi yang minat mengetahui apa saja kisah Mahabharata dari buku yang dimaksud di atas, bisa menyimak judul-judul penggalan kisahnya sebagai berikut:

http://downloads.ziddu.com/download/23799558/DAFTAR-KISAH-MAHABHARATA.pdf.html

Jika membutuhkan e-file dari kisah-kisah itu, silahkan kontak saya.

Berikut ini link beberapa judul kisah dalam buku MAHABHARATA karya C. Rajagopalachari yang saya tulis ulang.

Istana Kayu: http://downloads.ziddu.com/download/23899734/ISTANA-KAYU.pdf.html

Pandawa Menyelamatkan Diri: http://downloads.ziddu.com/download/23899690/PANDAWA-MENYELAMATKAN-DIRI.pdf.html

Sayembara Drupadi: http://downloads.ziddu.com/download/23794146/SAYEMBARA-DRUPADI.pdf.html

Dukacita Drupadi: http://downloads.ziddu.com/download/23799299/DUKACITA-DRUPADI.pdf.html

Dewi Kunti: http://downloads.ziddu.com/download/23899763/DEWI-KUNTI.pdf.html

Kematian Pandu: http://downloads.ziddu.com/download/23899767/KEMATIAN-PANDU.pdf.html

 

 

 

Kisah ini saya sadur dari buku Mahabarata yang ditulis oleh C. Rajagopalachari. Drupadi adalah satu tokoh yang menginspirasi saya karena keteguhan dan kekuatan hatinya. Silahkan disimak satu kisah Drupadi ketika awal mula menjadi istri Pandawa. Hmmm poliandri yang sempurna…

drupadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Ketika Dewi Kunti dan para Pandawa hidup menyamar di Ekacakra, mereka mendengar kabar tentang sayembara untuk memperebutkan Drupadi, putri mahkota Kerajaan Panchala. Para brahmana Ekacakra berencana pergi ke Panchala dengan harapan mendapatkan sedekah yang berlimpah serta menyaksikan pesta raya dan arak-arakan pernikahan agung.

Naluri keibuan Dewi Kunti dapat mengetahui bahwa anak-anaknya ingin pergi ke Panchala untuk mengikuti sayembara itu. Agar mereka tidak malu mengutarakan niat mereka, dengan halus ia berkata kepada Yudhistira: “Kita sudah lama tinggal di negeri ini. Sudah saatnya kita pergi dan melihat-lihat negeri lain. Ibu sudah bosan melihat gunung, lembah, sungai, dan alam sekitar sini. Sedekah yang kita peroleh juga semakin sedikit. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Mari kita pergi ke Kerajaan Panchala yang konon subur dan makmur. “Dewi Kunti yang bijaksana dan cerdas bisa membaca pikiran anak-anaknya dan bisa membuat anak-anaknya tidak perlu malu mengungkapkan keinginan mereka.

Maka berangkatlah para brahmana ke Panchala dan para Pandawa ikut bersama mereka dengan menyamar sebagai brahmana. Setelah menempuh perjalanan yang jauh, mereka akhirnya tiba di kota kerajaan yang indah. Para Pandawa menumpang di rumah tukang kendi dengan tetap menyamar sebagai brahmanauntuk menghindari perhatian. Meskipun dari luar Drupada dan Durna tampak tidak bermusuhan, Drupada masih belum dapat melupakan atau memaafkan penghinaan yang dilakukan oleh Durna. Salah satu doa permohonan Drupada adalah menikahkan putrinya dengan Arjuna. Durna sangat mencintai muridnya itu sehingga kecil kemungkinan akan melihat mertua muridnya sebagai musuh. Berkat Arjuna, jika terjadi perang, pihak Drupada akan menjadi jauh lebih kuat. Awalnya Drupada sangat sedih ketika mendengar kabar kebakaran di istana Waranawata. Tapi kemudian, ia sedikit lega ketika mendengar kabar bahwa para Pandawa bisa meloloskan diri.

Panggung perkawinan telah dihias dengan sangat indah dan dikelilingi bangunan-bangunan peristirahatan untuk menampung para tamu dan peserta sayembara. Berbagai hiburan dan pesta meriah sudah disiapkan untuk memeriahkan pernikahan Drupadi. Rencananya pesta pernikahan akan dilangsungkan selama empat belas hari.

Di tengah arena diletakkan sebuah busur besi raksasa yang sangat besar dan berat. Orang yang ingin menyunting putri Raja Drupada harus bisa mengangkat busur itu dan membidik sasaran yang telah ditentukan dengan anak panah. Sasaran itu digantungkan di belakang roda cakra yang terus berputar tanpa henti. Dengan demikian, dibutuhkan kemmpuan yang melebihi kemmapuan manusia biasa untuk bisa memenangkan sayembara ini. Drupada mengatakan bahwa siapapun yang ingin mempersunting anaknya harus bisa mengangkat busur itu dan mengenai sasaran yang telah ditentukan. 

Banyak pangeran yang gagah berani dari berbagai kerajaan mengikuti sayembara. Putra-putra Destarata juga hadir, demikian pula dengan Karna, Krishna, Sisupala, Jarasanda, dan Salya. Disamping para peserta sayembara, banyak sekali penonton dan tamu ingin menyaksikan pesta besar itu. Sorak sorai mereka seperti gemuruh ombak lautan. Ratusan alat gamelan ditabuh bertalu-talu. Dari arah istana, keluar arak-arakan megah. Paling depan tampak Dristadyumna menunggang gajah dan kemudian disusul Drupadi yang duduk di atas singgasana di punggung gajah. Dengan wajah segar setelah mandi air kembang dan mengenakan pakaian sutra yang berkibar-kibar ditiup angin, masuk ke arena sayembara. Kehadiran dan kecantikannya yang sempurna menyemarakkan suasana. Dengan tersipu dan karangan bunga di tangan, Drupadi memandang para pangeran yang gagah perkasa. Mereka hanya bisa diam karena terpukau dengan kecantikan Drupadi. Setelah itu ia turun dari punggung gajah. Para brahmana mulai membaca mantra dan membakar persembahan yang telah disediakan. Ketika kidung-kidung suci dilantunkan, tetabuhan gamelan berhenti. Suasana menjadi tenang. Kemudian Dristadyumna menuntun tangan Drupadi ke tengah arena. Kemudia ia berkata dengan lantang dan jelas:  “Mohon perhatian yang mulia sekalian. Disini diletakkan busur. Disana sasarannya. Dan ini anak panah yang akan digunakan. Ia yang dapat melepaskan lima anak panah secara berurutan melalui lubang roda cakra itu dan tepat mengenai sasaran, memenangkan sayembara ini. Jika ia berasal dari keluarga baik-baik, ia boleh mempersunting adikku, Drupadi. ” Kemudian ia membacakan nama dan riwayat peserta sayembara untuk adiknya.

Banyak pangeran yang termasyur mencoba peruntungan mereka. Satu per satu maju ke arena. Tetapi busur itu terlalu berat, demikian pula dengan anak panahnya. Dengan perasaan malu dan sesal, mereka kembali ke tempat duduk mereka. Sisupala, Jarasanda, Salya, dan Duryudana juga gagal mengangkat busur itu.

Ketika Karna maju ke tengah arena, para penonton sudah mengira dialah yang akan memenangkan sayembara. Tapi anak panahnya meleset seujung rambut. Selain itu, begitu anak panah dilepaskan, busurnya terpelanting lepas dari pegangan. Para penonton berteriak riuh. Ada yang berseru bahwa sayembara ini terlalu berat. Tidak mungkin ada yang sanggup memenangkannya. Sayembara ini hanya dimaksudkan untuk mempermalukan para pangeran. Tiba-tiba keributan itu terhenti. Diantara mereka muncul seorang brahmana muda. Dengan tenang ia melangkah menuju tempat dimana busur itu diletakkan.

Brahmana muda itu adalah Arjuna yang menyamar. Ketika ia berdir, para penonton mulai ribut kembali. Golongan brahmana sendiri terpecah menjadi dua. Mereka berdebat. Ada yang mengatakan bahwa sungguh baik ada yang mewakili golongan mereka. Yang lain berpendapat, seorang brahmana tidak pantas mengikuti sayembara dan bersaing dengan para pangeran. Ksatria sakti seperti Karna dan Salya saja gagal, apalagi seorang brahmana. Dari antara hiruk pikuk itu, terdengar suara lantang:  “Tunggu dan lihatlah bentuk badan dan raut wajah brahmana muda itu, aku yakin ia akan memenangkan sayembara ini. Dia terlihat begitu yakin dan jelas kalau dia tahu apa yang harus dilakukannya. Mungkin, secara fisik seorang brahmana memang lemah, tapi itu kan hanya kekuatan fisik. Bagaimana dengan kekuatan memusatkan pikiran? Mengapa tidak kita beri dia kesempatan?” Dan para penonton mengelu-elukannya, tanda memberikan dukungan.

Arjuna mendekati tempat busur itu diletakkan dan bertanya kepada Dristadyumna: “Bolehkah seorang brahmana mencoba busur ini?” Dristadyumna menjawab: “Brahmana muda, adikku akan menikahi siapapun yang berhasil mengangkat busur ini dan mengenai sasaran. Apa yang telah diucapkan tidak akan dicabut.”

Kemudian brahmana muda itu diam sejenak, mengheningkan cipta. Ia memohon restu pada Narayana, Hyang Widhi. Ia angkat busur itu dengan mudah.  Ia memasang kelima anak panah pada tali busur dan melihat sekeliling sambil tersenyum.  Para penonton terdiam. Mereka menunggu dengan hati berdebar-debar. Lalu, tanpa jeda atau keraguan ia lepaskan kelima anak panah itu secara berurutan meluncur masuk ke dalam roda cakra yang terus berputar dan tepat mengenai sasaran. Sasaran itu jatuh ke tanah! Para penonton bersorak sorai dan gamelan segera ditabuh.

Untuk mengetahui kisah selengkapnya, silahkan download disini:

http://downloads.ziddu.com/download/23794146/SAYEMBARA-DRUPADI.pdf.html

Simak juga tulisan saya yang lain tentang Drupadi, ada Drupadi: kekuatan perempuan, dan Derita Drupadi.

 

 

 

 

Drupadi-Solo-05Saya pernah menulis sekilas tentang Drupadi di blog ini. Tapi cuma sekilas, tentang keteguhan hatinya atas penindasan laki-laki.

Drupadi, sosok misterius. Versi India menyebutkan bahwa Drupadi adalah istri kelima orang Pandawa. Tapi versi Jawa menyebutkan ia istri Yudhistira, putra tertua Pandawa. Perbedaan cerita itu sudah merupakan misteri. Versi India, Drupadi mempunyai 5 anak dari kelima suaminya, sedang versi Jawa putranya hanya satu yaitu Pancawala.

Kisah poliandri Drupadi saja sudah menarik. Ini mengisyaratkan bahwa perempuan bisa berkuasa atas laki-laki. Drupadi menentukan siapa yang berhak jadi suaminya pada tahun ini, tahun berikutnya, dan tahun berikutnya lagi. Diantara mereka memang terjadi saling kecemburuan, namun memegang janji ksatria di kisah itu adalah lebih utama daripada sekedar keluhan pribadi.

Drupadi dimenangkan Arjuna dalam sayembara yg diadakan Drupada, ayah Drupadi. Arjuna dan kelima saudaranya yang sedang dalam pengasingan di hutan membawa pulang Drupadi. Arjuna melapor pada ibunya, Kunti, bahwa ia telah mendapat hasil. Ibunya tanpa menoleh langsung berucap, bagilah dengan saudara-saudaramu. Ketika menoleh barulah Kunti terkejut karena yang dibawa Arjuna adalah Drupadi. Oleh karena ucapannya tidak bisa ditarik lagi, maka jadilah Drupadi bersuami 5 orang Pandawa. Dan karena bakti anak kepada ibunya, Pandawa bersedia berbagi istri.

Kisah ini sekaligus memaknai pengabdian putra-putra kepada ibunda. Seorang ibu, adalah tempat terhormat di mata putra-putranya. Menjadi ibu berarti memiliki kekuatan untuk membentuk keturunannya. Jika pembentukan itu baik, maka keturunan akan baik, jika pembentukan buruk, maka buruklah pula hasilnya.

Yang menarik lagi adalah sikap drupadi yang lantang menolak ketika dijadikan taruhan oleh Yudhistira saat bermain judi dengan Kurawa. Perempuan yang berani mengemukakan pendapat. Ketika Yudhistira sudah kehilangan harta, istana, dan adik-adiknya semua karena kalah di meja judi, Kurawa meminta Drupadi. Yudhistira menuruti Kurawa dan menjadikan Drupadi sebagai taruhan. Ia menyuruh prajurit menjemput Drupadi. Drupadi menolak datang di perjamuan judi. Sampai akhirnya Dursasana dari Kurawa yang menarik rambutnya dan menyeret Drupadi ke meja judi. Ketika Pandawa disuruh melepaskan pakaian istana, karena sudah kalah, Drupadi juga menolak, hingga Dursanana menelanjanginya. Berkat bantuan Kresna, kain yang disingkap Dursasana tidak pernah habis, dan Drupadi selamat dari malu. Drupadi yang marah telah dipermalukan, bersumpah tidak akan menggelung rambutnya kecuali sudah keramas dengan darah Dursasana. Melihat kondisi Drupadi ini, membuat Bima, putra kedua Pandawa, merasa sangat gerang dan bersumpah akan membunuh Dursasana. Kelak ketika perang, Bima benar-benar membunuh Dursasana, meminum darahnya, dan membawa pulang darah Dursasana untuk keramas Drupadi. Kekuatan perempuan yang mendorong laki-laki mampu bertindak luar biasa.

Drupadi adalah perempuan yang bebas dan mandiri, cerdas dalam mengemukakan pendapat, tetapi tetap lembut dalam perlawanan. Dia tahu dia tidak akan menang menghadapi Dursasana yang jelas-jelas bukan tandingannya. Tapi dengan menggerakkan Bima, dia mampu menumbangkan arogansi dan penindasan.

Makna dibalik kisah Drupadi, adalah bahwa perempuan itu menyimpan kekuatan, yang mungkin tidak disadari sebelumnya. Dalam tutur kata penuh kelembutan namun menyiratkan ketegasan sikap. Dalam budi pekerti dan laku agung, menyampaikan kebijakan tanpa kekerasan.

p.s.

Simak juga kisah sayembara drupadi, dan derita drupadi

Sosok Drupadi atau Draupadi ternyata juga dipuja-puja di India, simak tulisan Lauren Weadick tentang Drupadi di sini.

Saya juga menyimpan tulisan Pradip Bhattacharya yang mengulas tentang kisah Pandawa dan Drupadi di sini.

Myself


Bending the rules

Kategori

Tes Kepribadian

Personality Disorder Test Results
Paranoid |||||||||||||| 54%
Schizoid |||||||||||||||||||| 82%
Schizotypal |||||||||||||| 54%
Antisocial |||||| 26%
Borderline |||||||||||| 46%
Histrionic |||||||||||| 42%
Narcissistic |||||||||||| 42%
Avoidant |||||||||||| 50%
Dependent |||||||||||||| 58%
Obsessive-Compulsive |||||||||||||| 58%
Take Free Personality Disorder Test
personality tests by similarminds.com

Ziddu

Kontak

Tweet me

Follow mayadewisavitri on Twitter

Just click

aglocoptr.com

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1.301 pengikut lainnya