I. Pendahuluan: Cermin Retak di Panggung Selebriti

Sebagai seseorang yang sering mendalami dinamika hubungan manusia dari lensa psikologi, gelombang perceraian di kalangan selebriti tahun ini terasa mengguncang. Sebut saja kasus-kasus yang menyita perhatian: dari pasangan yang dielu-elukan (seperti Raisa dan Hamish) hingga yang penuh kontroversi (seperti Deddy Corbuzier dan Sabrina Chairunnisa). Rentetan kisah perpisahan ini, yang meliputi nama-nama besar lainnya (Sherina dan Baskara, Acha Septriasa dengan Vicky Kharisma, Asri Welas dan Galiech, Andre Taulany dengan Rien Wartia, Chikita Meidy dan Indra Adhitya), memaksa kita bertanya: Apa yang sebenarnya terjadi pada institusi pernikahan saat ini? Mari kita bahas lebih dalam, siapa tahu, ada pelajaran berharga untuk kita semua.

Kesenjangan antara citra publik yang sempurna dan kenyataan pahit perpisahan memunculkan pertanyaan penting: Apa yang membuat sebuah ikatan pernikahan, bahkan yang terlihat paling kokoh sekalipun, pada akhirnya goyah? Fenomena ini mengusik saya untuk mencermati faktor-faktor yang melatarbelakangi keputusan krusial ini.

II. Pergeseran Dinamika: Saat Gugatan Datang dari Dapur Sendiri

Data terakhir dari BPS (2024) memang mengungkap fakta yang menarik perhatian: ada 399.921 kasus perceraian di Indonesia. Angka ini, meski sedikit menurun dibandingkan tahun 2023, ternyata masih jauh di atas rata-rata sebelum pandemi. Yang tak kalah penting, kita melihat dominasi justru dilayangkan oleh pihak istri. Ini seolah mengisyaratkan keberanian para perempuan untuk menyuarakan kebahagiaan mereka, tidak lagi terpaku pada stigma sosial. Lantas, apa pemicu utamanya? Rupanya, pertengkaran terus-menerus menduduki peringkat teratas, disusul oleh isu ekonomi.

Fenomena ini mencerminkan sebuah pergeseran fundamental dalam dinamika rumah tangga. Dulu, mungkin tekanan sosial menjadi penentu utama. Kini, kesadaran individu akan hak dan pentingnya kesejahteraan batin, terutama bagi perempuan, semakin menguat. Dengan kemandirian ekonomi yang terus bertumbuh, semakin banyak perempuan yang berani melangkah keluar dari hubungan yang toksik. Perubahan sosial yang cepat ini tentu menjadi tantangan besar bagi sistem pendukung, seperti lembaga konseling dan hukum keluarga, untuk bisa lebih responsif dan adaptif.

III. Living Life After Divorce: Mengubah Akhir Menjadi Awal

Setelah memahami pergeseran dinamika ini, kita perlu menyadari bahwa perpisahan tidak lagi identik dengan kegagalan. Sesungguhnya, pernikahan yang sukses bukanlah yang abadi tanpa bahagia, melainkan yang di dalamnya ada kesejahteraan dan pertumbuhan. Jika perpisahan adalah jalan menuju well-being yang lebih tinggi, ia bisa jadi sebuah keputusan yang sukses.

Maka, pertanyaan krusialnya adalah: Setelah ‘badai’ perpisahan mereda, bagaimana kita menjalani Langkah Berikutnya? Melangkah maju (move on) bukanlah perjalanan instan, melainkan sebuah proses panjang pemulihan yang membutuhkan pemahaman psikologis mendalam.

1. Grieve & Journaling: Seni Mengijinkan Diri Merasa

Perceraian seringkali diperlakukan sebagai kegagalan yang harus segera ditutup-tutupi. Padahal, secara psikologis, perpisahan – bahkan yang diinginkan – adalah bentuk kehilangan (grief) yang setara dengan kehilangan orang terkasih. Kita tidak hanya kehilangan pasangan, tapi juga kehilangan rutinitas, identitas ‘suami/istri’, dan masa depan yang sudah dibayangkan bersama.

Banyak orang buru-buru bilang, “Saya harus move on dan terlihat kuat.” Padahal, ini adalah jebakan toxic positivity. Dalam ilmu psikologi, kita mengenal proses grieving yang harus dilalui (denial, anger, bargaining, depression, acceptance). Jika kita melompat ke fase ‘acceptance‘ tanpa memproses rasa sedih, marah, atau kecewa itu, emosi negatif tadi tidak hilang; mereka hanya tertekan dan berpotensi muncul lagi sebagai kecemasan (anxiety) atau bahkan depresi di kemudian hari.

Lalu, bagaimana cara memprosesnya dengan sehat? Caranya semudah mengambil buku catatan dan pulpen. Inilah peran Journaling. Anggap buku journal Anda itu sebagai terapis pribadi yang selalu ada 24 jam. Ketika Anda menulis, Anda melakukan proses yang disebut eksternalisasi emosi. Emosi yang tadinya berputar kacau di kepala kini bisa Anda lihat di atas kertas. Ini membantu otak Anda memproses, mengorganisir, dan pada akhirnya melepaskan beban tersebut. Menangislah sambil menulis; itu terapi gratis yang sangat manjur!

2. Rediscover Yourself: Membangun Self-Concept yang Baru

Setelah perceraian, kita merasa seperti kehilangan peta, karena identitas kita bertahun-tahun melekat erat pada gelar ‘pasangan’. Ini saatnya merekonstruksi konsep diri (self-concept) Anda. Ini adalah kesempatan emas untuk bertanya, ‘Apa nilai-nilai inti saya? Apa yang membuat saya bahagia sebelum bertemu dia?’ Fokusnya adalah internalisasi, yaitu memperkuat definisi diri Anda dari dalam, bukan dari luar (gelar sosial atau status hubungan).

Anda bisa memulainya dengan hal-hal yang ‘receh’ namun signifikan. Ingat-ingat lagi hobi, mimpi, atau keterampilan yang dulu Anda kubur demi keharmonisan rumah tangga. Tidak perlu langsung traveling keliling dunia ala Eat, Pray, Love. Cukup mulai dari hal kecil yang bisa memberi Anda spark of joy.

Misalnya, berani mengambil weekend class fotografi atau mencoba makan di restoran sendirian. Setiap kali Anda berhasil melakukan sesuatu yang baru dan menyenangkan sendiri, Anda sedang mengirim pesan kuat ke otak Anda: ‘Saya Utuh. Saya Bahagia. Saya Mampu.’ Ini adalah proses self-validation terbaik. Perceraian mungkin merobek halaman relasi Anda, tapi sekarang, Anda sedang menulis ulang masterpiece babak hidup Anda sendiri!

IV. Penutup: Ide Hidup Setelah Pisah

Kita akhirnya kembali pada diri kita sendiri. Obsesi kita terhadap perceraian selebriti sesungguhnya adalah upaya kolektif untuk mencari validasi; jika pasangan yang terlihat sempurna pun mampu memilih perpisahan, maka itu bukanlah kegagalan mutlak yang harus kita takuti. Perceraian adalah hard-reset kehidupan, dan tugas kita adalah menjadi penulis yang baik untuk babak selanjutnya.

Ini adalah kesempatan untuk mengukuhkan konsep diri yang lebih otentik dan utuh, yang tidak lagi bergantung pada status hubungan.

Pada akhirnya, perceraian mengingatkan kita semua: hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dalam hubungan yang mematikan jiwa. Lalu, sebagai individu, ide hidup apa yang Anda biarkan ‘hidup’ dan bertumbuh hari ini? Apakah Anda memilih untuk terikat pada stigma kegagalan, atau berani melangkah membangun kedamaian dan kesejahteraan batin yang sejati?

Dua minggu terakhir, saya seperti kena smash dadakan tanpa sempat bersiap, ibarat pebulutangkis yang lengah di tengah lapangan. Sebagai dosen pengampu praktikum, saya sudah menyampaikan semua aturan sejak awal kuliah sesuai Rencana Pembelajaran Semester (RPS), termasuk kewajiban mahasiswa menyiapkan laptop pribadi yang sudah terinstal software khusus untuk mendukung praktikum. Pengumuman kesiapan teknis juga sudah saya unggah di Google Classroom. Materi dan latihan soal pun telah dibagikan seminggu sebelum praktikum dimulai, memberi waktu cukup bagi mahasiswa untuk siap secara teknis maupun akademik. Namun, saat tugas dikumpulkan lewat Google Form, terungkap adanya kecurangan sistematis: satu file hasil kerja dikirim berulang kali oleh mahasiswa berbeda, hanya nama di bagian atas yang diubah. Bukti ini tercatat jelas di Google Sheet, menunjukkan pola salin-tempel yang jauh dari nilai belajar yang jujur dan mandiri.

Pada saat praktikum, kenyataan di lapangan jauh dari harapan. Dari lebih dari tiga puluh mahasiswa, hanya tujuh yang hadir, dan tiga di antaranya bahkan tak membawa laptop. Ada yang baru tahu harus membawa perangkat sendiri, meski instruksi sudah berkali-kali disampaikan. Santai saja ia berkata, “Saya baru masuk hari ini bu, kemarin nggak masuk tiga kali.” Tidak hanya itu, dari empat mahasiswa yang hadir, hanya satu yang benar-benar siap praktikum. Tiga lainnya ternyata belum menginstal program yang dibutuhkan, padahal mereka sudah mengumpulkan latihan soal sebelumnya. Jelas sekali mereka tidak mengerjakan sendiri, melainkan menyalin dari satu-satunya mahasiswa yang siap dan mampu menyelesaikan tugas. Lebih parah lagi, saat dikonfirmasi, mereka mengaku menyontek hasil teman tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Bagi saya, sikap semacam ini bukan cuma kelalaian, tapi sudah masuk pelanggaran etika akademik yang serius. Menyebarluaskan file hasil kerja orang lain seolah itu buatan sendiri merupakan bentuk plagiarisme, meski hanya tugas praktikum. Mahasiswa seolah-olah merasa cukup asal tugas terkumpul, proses belajarnya bisa diabaikan begitu saja. Padahal, tujuan praktikum justru melatih keterampilan teknis, kemampuan memecahkan masalah, dan tanggung jawab pribadi—nilai-nilai yang justru lenyap dalam aksi mencontek secara massal.

Yang lebih mengkhawatirkan, kurangnya rasa malu atau tanggung jawab membuat dosen merasa diabaikan. Dosen sudah menyiapkan materi, meluangkan waktu, bahkan memberi akses latihan jauh hari sebelumnya, namun direspons dengan sikap tidak serius. Perilaku ini tak hanya merugikan mahasiswa itu sendiri, tetapi juga merusak budaya akademik secara luas. Ke depan, mereka akan menjadi lulusan dengan mental instan dan tidak jujur yang masuk ke dunia kerja, berpotensi membawa dampak negatif yang lebih besar.

Saya benar-benar bingung dengan pola pikir mahasiswa masa kini. Memang tidak semuanya, tapi setelah bertahun-tahun mengajar di kampus ini, sikap curang seperti ini tetap sulit dihilangkan. Bukan hanya saya yang merasa kesal dengan kelakuan mahasiswa, sejumlah dosen lain juga menyampaikan hal yang sama.

Entah siapa yang harus disalahkan, saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Saya dan beberapa dosen lain yang peduli pada masalah kecurangan ini sudah menyerah menghadapi sikap mereka. Seolah-olah kehadiran mereka di kampus hanya untuk buru-buru dapat ijazah, bukan mencari ilmu. Kalau kami terus memaksa memperbaiki mereka, malah kami yang tersiksa. Jadi bagaimana lagi? Akhirnya kami pasrah, yang penting tugas mengajar sudah selesai, tidak lagi peduli apakah mereka menangkap ilmu atau tidak. Yang penting nilai sudah diberikan, toh mereka hanya ingin lulus, nilai C saja sudah cukup.

Masih terkait tugas kelas “Mindful Writing”, kali ini tugas peserta adalah mengulas tulisan sendiri. Butuh waktu lamaaa banget bagi saya untuk menuntaskan tugas ini. Dengan berbagai alasan, akhirnya saya bisa mengalahkan ego untuk mulai menulis ulasan tulisan sendiri.

Saya memilih tulisan saya tentang Ulsan Buku “Sisi Tergelap Surga”. Tulisan itu bukan benar-benar ulasan obyektif pada buku tertuju, tetapi malah menyeret pembaca pada cerita pribadi. Seharusnya mengulas buku mempertahankan sisi obyektif seorang pengulas (reviewer) pada aspek-aspek kekuatan, kelemahan, dan potensi dari tulisan-tulisan yang tertuang pada buku itu. Nah, kali ini saya tergerak untuk menyempurnakan ulasan saya.

Buku itu terdiri dari bagian-bagian cerita tokoh yang dirangkai menjadi satu cerita utuh. Namun masing-masing bagian-bagian yang dituangkan dalam bab-babnya, memfokuskan uraian cerita hanya dari satu sudut pandang. Jika pembacanya tidak menyimak sejak bagian awal, maka akan sulit memahami kisah keseluruhan dari buku itu. Tulisan yang sangat cerdas dan menginspirasi.

Setiap tokoh memiliki karakteristik yang unik, bisa jadi tokohnya sangat ugal-ugalan, tetapi tetap ada sisi positif dari karakternya. Atau sebaliknya, tokohnya bisa jadi terkesan alim, tapi ternyata menyimpan sisi gelap dari perjalanan hidupnya. Sangat manusia.

Secara keseluruhan, buku “Sisi Tergelap Surga” menarik, jika tuntas membacanya. Di awal bab-bab nya terkesan berpindah-pindah fokus cerita karena masing-masing menyoroti satu tokoh saja. Tapi ketika sudah bisa memaknai alur bagian-bagian cerita tokoh itu, nampak benang merah tentang apa sebenarnya yang ingin disampaikan penulisnya. Pluralisme. Hitam-putih kehidupan. Realitas metropolis. Dan semangat pantang menyerah.

Jadi jika ingin ikut membaca bukunya, silahkan kontak email: beautyinside2010@gmail.com.

Saya menemukan buku ini di tengah koleksi puluhan, bahkan mungkin ratusan e-book yang saya miliki. Awalnya, niatnya ingin segera saya lahap, namun sayang sekali, waktu yang tersedia selalu kalah oleh tuntutan kerja dan—hayo jujur—keinginan untuk rebahan saja.

Judulnya adalah “Sisi Tergelap Surga” karya Brian Khrisna. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, dengan edisi digital yang rilis pada tahun 2023. Isinya menyajikan gambaran tentang kehidupan nyata masyarakat kelas menengah ke bawah.

Bahasa yang digunakan lugas, bahkan cenderung kasar, tetapi di situlah letak keotentikannya; inilah bahasa yang sebenarnya beredar di lingkungan mereka. Realitanya, bahasa mereka bahkan bisa jauh lebih cadas dari yang dituliskan.

Brian Khrisna memilih alur yang menarik, yaitu dengan merangkai cerita tokoh-tokohnya satu per satu secara bersambungan. Ceritanya memang terasa melompat-lompat, dari satu karakter ke karakter lain, namun jika kita mengikuti sejak awal, kita pasti bisa memahami benang merah dan cerita utuh dari keseluruhan masyarakat kecil di kota metropolitan ini.

Sebetulnya belum selesai saya membaca buku ini. Tapi ada beberapa kalimat yang berhasil membuat saya terjaga dari kantuk berat ketika membacanya.

(1)  Di tempat ini, perempuan hanya atribut pelengkap pria. (halaman 13)

(2) Seharusnya, tak ada lelaki yang boleh meredupkan cahaya seorang wanita ketika menikahinya. Tak boleh ada lelaki yang membumihanguskan api kemerdekaan, bara keberanian, dan kukuhnya kehormatan wanita yang dinikahinya. Justru seharusnya kebersamaan membuat perempuan dan lelaki dapat memaknai hidup denga lebih dalam, dapat menyatukan dua kekuatan untuk membangun kerajaan dari data per bata, dari kerikil ke kerikil selanjutnya. (halaman 146)

(3) Jika sebelum menikah justru perempuan jauh lebih merdeka, jauh lebih bermartabat, dan jauh lebih bersinar, tak seharusnya lembaga sah pernikahan meredupkan itu semua. Tidak seharusnya. Tapi hal itu tidak berlaku dalam hidup Resti. Semua pencapaian Resti tidak berarti apa-apa di mata masyarakat jika ia tidak menikah. Entahlah apa yang lebih hebat dari pernikahan di mata orang-orang. Namun warga di situ jauh lebih peduli pada status pernikahan seorang wanita – tidak peduli apakah pernikahannya membawa damai atau tidak – ketimbang apakah wanita tersebut mampu menjadi seseorang yang berdaya sebagai manusia. Kebanyakan dari mereka tidak peduli dengan hak-hak, apalagi pencapaian seorang perempuan. (halaman 146)

Kalimat-kalimat di atas yang membuat saya merenung itu sangat relevan dengan perjalanan hidup pribadi saya. Saya memilih menjadi ibu tunggal selama lebih dari 10 tahun ini karena pengalaman getir menjalani pernikahan yang memprihatinkan. Sebagai seorang ibu tunggal, awalnya tidak mudah untuk menyandang status “janda cerai”. Apalagi saya tinggal di kampung kecil, di lereng bukit Kaliurang, Sleman. Status janda cerai ini menjadi sorotan, seolah menjadi ‘selebritas’ dadakan di kampung. Tatapan mata para tetangga—baik ibu-ibu maupun bapak-bapak—memang sangat berbeda dibandingkan ketika saya masih berstatus perempuan bersuami.

Saya yakin, akan ada banyak lagi kalimat-kalimat yang beresonansi jika saya menuntaskan bacaan ini. Buku ini banyak menampilkan kisah karakter perempuan yang tertindas. Meski di akhir cerita, penulisnya menuturkan kesuksesan perempuan-perempuan itu di masa depan.

Menariknya, kalimat-kalimat di bagian akhir buku ini menggambarkan sebuah akhir yang bahagia, meskipun ada beberapa kisah yang mengharu biru, seperti cerita tentang kematian. Namun, pada akhirnya, semua itu dipahami sebagai bagian alami dari sebuah perjuangan hidup.

(4) Meski harus melewati hidup yang getir dan pahit, kampung ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tumbuh seperti halnya kupu-kupu. Untuk bisa menangkapnya kau harus pelan-pelan. Terburu-buru justru hanya akan membuatnya terbang. (halaman 293)

Kutipan bagian akhir dari buku ini:

(5) Jangan jadi orang yang harus bahagia dulu untuk bisa bersyukur. Atau harus susah dulu untuk ingat Tuhan.

Kalimat itu menjadi penutup refleksi yang mendalam bagi saya.

Selama ini, kita sering kali menunggu momen besar—kesuksesan, kebahagiaan sempurna, atau justru kesulitan yang menghimpit—baru kita tersadar dan menoleh ke dalam diri. Kisah saya sebagai seorang ibu tunggal di kampung kecil mengajarkan satu hal: perjuangan hidup yang paling nyata terjadi di sela-sela hari biasa.

Bersyukur seharusnya bukanlah tujuan yang dicapai setelah segalanya sempurna. Sebaliknya, syukur adalah pondasi agar kita bisa menjalani ketidaksempurnaan ini dengan lapang dada. Kalimat Brian Khrisna ini mengingatkan saya, dan mungkin juga Anda, bahwa kita tidak perlu menunggu keadaan menjadi baik untuk merasa cukup, dan kita tidak perlu terjatuh sekeras-kerasnya untuk mengingat kekuatan yang lebih besar. Semoga, refleksi ini bisa menjadi bekal untuk terus berjalan, karena hidup yang bersyukur akan selalu mengalir, apa pun status dan di mana pun tempat kita berpijak.

Ternyata, kelas Mindful Writing ini memiliki tugas yang cukup menantang. Ada satu sesi Zoom yang terpaksa saya lewatkan karena harus memimpin rapat dengan tim riset untuk sebuah proyek yang sedang kami kerjakan. Ya, begitulah risiko seorang dosen, pekerjaannya “sak dos” (segala ada) tetapi gajinya “sak sen” (cuma secuil). Konsekuensinya, saya harus mengerjakan tugas pengganti yang meminta saya untuk merenung dan menulis.

Tugas tersebut sederhana, namun sangat mendalam, yaitu merefleksikan dua pertanyaan: “Apa tujuan saya mengikuti kelas menulis ini?” dan “Seberapa serius saya mau berupaya untuk bisa mewujudkannya?” Mari kita jabarkan lebih dalam lagi mengenai hal ini.

Jika ditanya tujuan saya mengikuti kelas mindful writing, sudah pasti untuk persiapan pensiun. Saya ingin pensiun lebih awal dari dunia pendidikan yang telah menjadi bagian dari hidup saya selama dua dekade penuh pengabdian. Tuntutan pekerjaan dosen yang begitu tinggi saat ini rasanya sudah sulit untuk dikejar. Memang benar, untuk bersaing, harus meningkatkan kualifikasi hingga S3, harus menghadapi proses sertifikasi dosen yang tahapannya ketat dan memakan banyak waktu, dan harus mengurus kenaikan pangkat dengan birokrasi yang rumit dan ribet.

Semua ini menjadi beban tersendiri yang membuat saya merenung dan mencari jalan keluar yang lebih baik dan berkelanjutan. Dari situlah ide pensiun dini muncul. Saya ingin mencari cara lain untuk tetap berkarya dan survive di luar dunia akademis. Salah satu jalannya adalah melalui menulis. Maka dari itu, saya mengikuti kelas ini. Saya ingin bisa menulis dengan baik, tidak hanya untuk curhat di blog, tetapi juga untuk menciptakan karya lain yang bisa menjadi ‘pintu’ baru di masa depan.

Jadi, soal seberapa serius saya? Sangat serius. Ini bukan hanya sebuah hobi, melainkan bagian dari rencana besar saya untuk hidup yang lebih tenang dan bermakna. Di usia yang sudah pra-lansia, kondisi fisik yang menurun karena penyakit tiroid dan hipertensi menahun membuat saya menyadari bahwa sudah saatnya beralih pada konsep work smart, bukan lagi work hard. Menulis menawarkan fleksibilitas itu. Saya bisa melakukannya di mana saja: di rumah sambil bermain dengan para anak-anak bulu (kucing), di kafe sambil menikmati teh matcha atau kopi latte, atau bahkan di kereta api saat sedang travelling kemanapun saya ingin pergi.

Ada begitu banyak kisah perjalanan hidup di kepala ini. Kisah pribadi maupun pengalaman orang lain yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya dalam menyikapi tantangan hidup. Meskipun generasi Z saat ini terlihat lebih bijak dan fleksibel dalam menghadapi kendala, laporan di lembaga kesehatan mental justru menunjukkan peningkatan signifikan pada jumlah penderita depresi dan kasus bunuh diri di kalangan generasi muda. Kisah-kisah inspiratif ini barangkali bisa menjadi titik pencerahan bagi mereka yang membutuhkan.

Mungkin juga tulisan-tulisan saya kelak bisa menjadi sebuah novel, atau kumpulan kisah inspiratif. Untuk itulah, saya sangat serius mendalami dunia kepenulisan. Saya juga sering melihat testimoni di media sosial yang menunjukkan bahwa penghasilan penulis, jika ditekuni, bisa melebihi penghasilan seorang dosen. Meskipun saya belum tahu seberapa benarnya, hal ini menjadi motivasi tambahan yang membuat saya semakin serius mencoba jalan ini.

Bagaimana menurut Anda? Silakan bagikan pemikiran Anda di kolom komentar.

Jujurly, saat mendaftar kelas “Mindful Writing”, di benak saya sudah muncul banyak pertanyaan. Apa sih sebenarnya yang akan dipelajari dalam kelas ini? Apalagi ada permintaan khusus untuk membuat surat pernyataan komitmen, lhadalah, koq ya sampai perlu komitmen segala dalam sebuah kelas menulis. Namun, rasa penasaran ini akhirnya berhasil mengalahkan segala pertanyaan-pertanyaan yang muncul, afeksi atau perasaan yang mendominasi, sementara kognisi atau logika harus sedikit mengalah. Begitulah kira-kira kata orang tentang perempuan. Lalu, muncul banyak tugas yang harus diselesaikan, persis seperti saya saat mengajar, setiap minggu selalu ada tugas, weh.. apakah ini semacam hukum karma yang sedang berlaku pada saya? Dan tugas yang ketiga ini meminta saya untuk membaca karya-karya dari sesama peserta kelas Mindful Writing yang dipublikasikan di blog mereka masing-masing. So, I start to read. Ternyata ada beberapa tautan yang tidak bisa dibuka saat diklik, sehingga saya memutuskan untuk memilih secara acak saja.

Pertama kali yang saya baca adalah tulisan kak Jenny, karena perempuan petarung ini lebih dahulu membaca dan memberikan komentarnya di wordpress saya. Kalimat-kalimat yang ditulis oleh kak Jenny penuh semangat, menceritakan perjalanan hidupnya yang kaya warna, meskipun harus diterpa badai kehidupan, ia tetap berjuang.

Ada pula peserta yang sedang merasakan kebimbangan dalam menghadapi dua sisi persona dirinya, yaitu kak Salwa, yang mendeskripsikan dirinya seperti memiliki dua serigala yang berbeda di dalam dirinya, satu serigala yang baik dan satu lagi serigala yang jahat, yang terus-menerus berperang di dalam dirinya. Semoga antusiasmenya selalu memberikan kemenangan untuk serigala yang baik. Amin.

Saat membaca tulisan kak Rika, rasanya seperti sedang membaca kisah novel, lengkap dengan segala detailnya. Mungkin karakter kak Rika memang seperti itu, orangnya sangat detil, rinci, memiliki idealisme yang tinggi, namun juga sedikit melankolis. Mengapa saya jadi menganalisis seperti ini ya?

Kak Wendy, dengan kedua putrinya, terlihat bersemangat dalam mengisi hari-harinya agar menjadi lebih bermakna. Tulisannya terasa singkat namun sangat praktis, seolah mencerminkan karakternya yang tidak suka bertele-tele, suka segala sesuatu yang langsung pada intinya. Mungkin begitu.

Tulisan kak Widya di blognya seolah mengajak para pembacanya untuk kembali ke asal muasal jiwa yang suci. Hhmmm… sungguh menarik. Perkenalan diri yang singkat namun terasa seperti sebuah undangan untuk memasuki pintu pemahaman yang lebih dalam atau kelimuan yang lain.

Kak Hurai, dengan cerdas menguntai kata-kata dalam perkenalan diri yang reflektif. Rasanya seperti bisa langsung memahami seperti apa sosoknya, padahal saya hanya membaca tulisannya saja.

Eh, kenapa dari tadi yang saya baca hanyalah tulisan-tulisan dari para peserta perempuan ya. Saatnya saya mengintip tulisan dari para adam peserta kelas ini.

Blognya pak Fathul Hadi terbaca, beliau seorang aktivis lingkungan. Nampaknya sedang semangat mengelola proyek Hutan Surgawi. Apa itu Hutan Surgawi ya?

Ada pula pak Haris, yang menekuni dua pekerjaan yang sangat berbeda satu sama lain. Yang satu ilmuwan di laboratorium, sementara yang satu lagi penyiar radio. Kedua profesi ini seperti menggambarkan dua sisi persona yang berbeda dalam dirinya. Sebuah impian untuk menjajal banyak profesi, atau sebuah keterpaksaan?

Pak Leo yang berprofesi sebagai guru. Tulisannya menjabarkan berbagai aktivitasnya sebagai seorang pengajar. Akhirnya saya menemukan juga sesama pengajar di kelas ini.

Membaca berbagai tulisan tadi, mengingatkan saya pada analogi seekor bebek yang selama ini tinggal di kolam angsa. Melihat para angsa terbang jadi merasa yakin bisa terbang juga, tapi stelah berkali-kali gagal barulah sadar bahwa dirinya bukan angsa, tapi bebek yang tersesat di kolam angsa. Kesadaran akan diri yang sebenarnya. Lalu berjuang mencari jati diri yang sejati. Tapi bukan mencari kolam bebek, karena di kolam bebekpun tak akan menemukan visi yang sama. Terlahir sebagai bebek yang diasuh sebagai angsa, setengah bebek dan setengah angsa. Jadi, nikmati saja setengah setengah ini. Dan temukan semesta lain yang menghargai binar cahaya lembutmu yang setengah-setengah itu.

Salam sehat jiwa

Dosen ini beda banget dari kesehariannya dengan pas di kelas atau pas bimbingan. Perbedaan mencolok ini sungguh terasa. Di luar jam perkuliahan atau sesi bimbingan, beliau tampil sebagai sosok yang santai dan mudah didekati. Namun, ketika memasuki ruang kelas untuk mengajar atau saat sesi bimbingan berlangsung, persona beliau berubah drastis. Pas ngajar di kelas cenderung tegas terkesan galak, sebuah sikap yang sangat berbeda dari penampilan luarnya. Meskipun suaranya lirih hampir gak kedengaran kalau pas lagi kelas penuh mahasiswa, volume suaranya yang kecil tidak mengurangi ketegasannya.

Namanya Bu Maya, seorang dosen yang kepakarannyadi bidang psikologi, namun beliau memilih untuk mengajar di sebuah kampus yang fokus pada bidang pariwisata. Sungguh sebuah keputusan yang menarik, bukan? Kami, para mahasiswa di program studi pariwisata ini, merasa sangat terkesan dan mendapatkan perspektif yang berharga dari sudut pandang yang berbeda dalam memahami pengunjung, mulai dari tamu yang menginap di hotel hingga para turis yang menjelajahi destinasi wisata. Beliau menyajikan materi pembelajaran dengan menggunakan contoh-contoh konkret yang diambil dari pengalaman keseharian beliau. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak hanya terbatas pada interaksi dengan ketiga putra beliau, tetapi juga mencakup dinamika kehidupan di rumah beliau yang dihiasi oleh belasan ekor kucing.

Suatu saat, jadwal kelas ujian tengah semester, biasanya UTS dilakukan di kelas, soal diakses lewat QR Code yang ditayangkan pas waktu ujian berlangsung. Hari itu adalah jadwal ujian tengah semester, sebuah momen penting dalam evaluasi pembelajaran. Prosedur standar untuk UTS di kelas ini adalah soal akan diakses melalui QR Code yang akan ditampilkan pada saat ujian dimulai. Bu Maya, sang dosen, sudah memberikan pengumuman yang jelas di Google Classroom. Beliau telah menginstruksikan seluruh mahasiswa untuk menata kursi agar berjarak, sesuai dengan kaidah pelaksanaan ujian yang membutuhkan ruang antar peserta. Namun, ketika beliau masuk ke dalam kelas, kami, para mahasiswa, masih belum beranjak dari tempat duduk kami, belum ada inisiatif untuk mengatur kursi masing-masing. Beliau dengan tenang menyiapkan perangkat laptop dan menyambungkannya ke viewer yang terpasang di depan kelas. Lalu, dengan nada yang tegas namun terkontrol, beliau bertanya, “Ini mau ujian atau kuliah?” Suasana kelas seketika hening, lalu sebagian besar dari kami menjawab spontan, “Ujiaaan bu”. Mendengar jawaban tersebut, beliau kembali merespons, “Silahkan diatur sendiri tempat duduknya selayaknya ujian”. Kami pun mulai sedikit ribut, bergerak untuk mengatur kursi, namun hasilnya hanya kursi kami yang bergeser beberapa senti dari posisi semula. Beliau hanya diam, menunggu kami tenang dan menyelesaikan tugas pengaturan kursi. Setelah beberapa saat, beliau kembali bersuara, “Koordinator kelas, tolong teman-temannya diajak kerjasama, saya mau turun sebentar ambil minum, kalau saya kembali masih belum rapi, kita gak jadi UTS”. Beliau kemudian meninggalkan kelas, memberikan kami waktu untuk menyelesaikan tugas tersebut. Serentak, tanpa perlu diperintah lagi, kami semua bergerak dengan sigap. Hanya dalam waktu sepuluh menit, semua kursi sudah tertata rapi sesuai instruksi. Saat beliau membuka pintu ruang kelas kembali, wajahnya tersenyum, dan beliau mengucapkan, “Terimakasih”.

Namun, yang paling sering beliau lakukan dan sangat membantu kami dalam memahami konsep-konsep psikologi yang terkadang terasa abstrak adalah dengan menggunakan analogi. Beliau menggunakan analogi ketika menjelaskan satu konsep psikologi tertentu. Sebagai contoh, beliau seringkali mengilustrasikan konsep intention, atau yang biasa kita kenal sebagai niat, yang bagi kami para mahasiswa, seringkali terasa sama saja dengan konsep interest, atau minat. Bahkan, literatur-literatur yang kami pelajari di perkuliahan juga banyak yang menyebutkan istilah minat berkunjung dan niat berkunjung secara tumpang tindih, seolah-olah keduanya adalah hal yang sama.

Begini penjelasan beliau: “Kalau Anda sebagai mahasiswa baru, pada saat Anda mengikuti kuliah perdana di aula besar kampus yang dipenuhi oleh ratusan mahasiswa baru lainnya, lalu tiba-tiba ada seseorang di antara kerumunan tersebut yang lebih menyita perhatian Anda dibandingkan yang lain, itu adalah saatnya mekanisme attention atau perhatian mulai bekerja. Selanjutnya, aspek kognitif dalam diri Anda akan mulai memproses stimulus yang telah berhasil menarik perhatian Anda tadi, hingga pada akhirnya muncul sebuah pikiran dalam benak Anda, misalnya, ‘Wah, dia itu menarik sekali’. Dari pikiran tersebut, kemudian muncul interest, atau minat. Minat ini sudah masuk ke dalam aspek afektif, karena di dalamnya sudah terkandung unsur rasa atau perasaan suka, namun ini belum tentu akan berujung pada suatu perilaku yang nyata. Nah, lalu apa itu intentionIntention itu adalah ketika di dalam kepala Anda sudah muncul sebuah niat yang lebih kuat, misalnya, ‘Nanti setelah kuliah perdana ini selesai, saya akan mencoba mencarinya’. Nah, ini sudah bisa dikategorikan sebagai intensi atau niat, meskipun ini juga belum tentu menjadi sebuah perilaku yang langsung terjadi, tetapi setidaknya Anda sudah memiliki sebuah niat yang jelas untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Jadi, apa sebenarnya perbedaan antara minat berkunjung dan intensi berkunjung?”

Sulit bagi kami memahami konsep-konsep psikologi, lebih mudah mempelajari destinasi pariwisata. Namun sekali lagi, bu Maya memaksa kami mempelajari berbagai literatur dengan cara mereview hasil penelitian tentang peran psikologi di bidang pariwisata. Dari keterpaksaan itu, muncul pemahaman sudut pandang berbeda dalam memahami pariwisata. Tantangan awal kami adalah kenyataan bahwa materi psikologi terasa begitu abstrak dan teoritis, sementara pembahasan mengenai destinasi pariwisata, seperti keindahan alam, keunikan budaya, atau fasilitas akomodasi, terasa jauh lebih konkret dan mudah dicerna oleh pikiran kami yang masih awam. Namun, kami diajak untuk mendalami berbagai sumber bacaan, termasuk jurnal-jurnal ilmiah dan karya penelitian yang secara spesifik mengupas tuntas tentang bagaimana prinsip-prinsip psikologi berperan penting dalam industri pariwisata. Melalui proses mereview hasil-hasil penelitian inilah, kami dipaksa untuk mengolah informasi yang awalnya terasa asing, hingga akhirnya, dari rasa keterpaksaan tersebut, muncullah sebuah pemahaman yang lebih mendalam yang sebelumnya tidak pernah kami pertimbangkan, yaitu pengunjung atau turis itu manusia, yang memiliki keunikan masing-masing dalam cara pikir, rasa dan perilaku. Tentu saja ini mengubah cara pandang kami dalam memaknai dan menganalisis dunia pariwisata secara keseluruhan.

Apa itu Doomscrolling, dan bagaimana bisa berdampak?

Doomscrolling adalah perilaku kompulsif mengonsumsi berita negatif secara berlebihan, khususnya melalui media sosial atau platform daring. Fenomena ini dijelaskan sebagai pola perilaku di mana individu terus-menerus mencari dan membaca informasi yang bersifat mengkhawatirkan atau menakutkan, meskipun hal itu berdampak buruk pada kesehatan mental mereka. Doomscrolling dipengaruhi oleh beberapa mekanisme psikologis dan neurobiologis, di antaranya:

  • Negativity Bias: Otak manusia secara alami lebih tertarik pada informasi negatif sebagai mekanisme bertahan hidup, sehingga berita buruk lebih mudah menarik perhatian dan menimbulkan kecemasan.
  • Dopaminergic Reward System: Setiap kali individu menemukan berita baru, otak melepaskan dopamin yang memperkuat perilaku mencari informasi, menciptakan siklus kecanduan.
  • Amygdala Hyperactivation: Paparan terus-menerus pada berita negatif mengaktifkan amigdala (pusat emosi di otak) secara berlebihan, meningkatkan kecemasan dan stres.
  • Disregulasi Kortisol: Doomscrolling kronis memicu stres berkepanjangan yang meningkatkan kadar kortisol, mengganggu fungsi kognitif dan emosional.
  • Peran Algoritma Media Sosial: Algoritma memperkuat perilaku doomscrolling dengan terus menampilkan konten emosional yang serupa, menciptakan lingkaran umpan balik negatif.

Doomscrolling dapat memperburuk kecemasan, stres, dan kesejahteraan psikologis, serta berdampak pada fungsi kognitif dan performa kerja.

Bagaimana mengatasi doomscrolling saat bekerja?

Doomscrolling di tempat kerja dapat menurunkan produktivitas, meningkatkan stres, dan berdampak negatif pada kesehatan mental karyawan.
Berikut adalah strategi yang direkomendasikan oleh psikolog untuk mengatasinya:

1. Meningkatkan Kesadaran Diri

  • Sadari dan akui kebiasaan doomscrolling, terutama saat merasa cemas, bosan, atau stres di tempat kerja.
  • Refleksikan perasaan setelah mengakses berita atau media sosial secara berlebihan untuk mengenali dampak negatifnya

2. Menetapkan Batasan Waktu dan Konsumsi

  • Tetapkan waktu khusus untuk mengakses berita atau media sosial, misalnya hanya 10–15 menit saat istirahat
  • Gunakan fitur pengingat atau aplikasi pembatas waktu untuk membantu mengontrol durasi penggunaan
  • Hindari membuka media sosial sebelum memulai pekerjaan atau saat jam kerja utama.

3. Mengatur Notifikasi

  • Matikan notifikasi yang tidak penting dari aplikasi berita dan media sosial agar tidak mudah tergoda untuk doomscrolling

4. Mempraktikkan Mindfulness dan Digital Detox

  • Terapkan teknik mindfulness seperti berhenti sejenak, menarik napas, dan menyadari tujuan membuka media sosial (teknik STOP: Stop, Take a breath, Observe, Proceed).
  • Lakukan digital detox secara bertahap, misalnya satu hari tanpa media sosial setiap minggu.

5. Mengganti Kebiasaan dengan Aktivitas Positif

  • Alihkan perhatian ke aktivitas lain saat dorongan doomscrolling muncul, seperti berjalan kaki, berbincang dengan rekan kerja, atau melakukan peregangan ringan.
  • Buat daftar aktivitas alternatif yang bisa dilakukan saat waktu luang di kantor.

6. Seleksi Konten dan Sumber Informasi

  • Pilih sumber berita yang kredibel dan hindari konten sensasional atau berulang.
  • Batasi konsumsi berita negatif dengan mencari juga informasi positif atau inspiratif.

7. Mendukung Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

  • Ciptakan budaya kerja yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan digital.
  • Saling mengingatkan antar rekan kerja untuk membatasi konsumsi berita negatif.

8. Konsultasi dengan Profesional

  • Jika perilaku doomscrolling sudah mengganggu produktivitas atau kesehatan mental, segera konsultasikan dengan psikolog atau konselor di tempat kerja untuk mendapatkan intervensi yang tepat

Strategi di atas dapat membantu individu maupun organisasi menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat secara digital dan psikologis. Pendekatan ini menekankan pentingnya kesadaran, pengendalian diri, serta dukungan sosial dan profesional untuk memutus siklus doomscrolling di kantor.

Bagaimana dengan pekerja WFH (work from home)?
Tunggu di tulisan berikutnya.

    Referensi :
    1. Shunmugam, P. dan Vengadasalam, V. (2024). Doomscrolling and The Student Brain: A Comprehensive Review of Psychological, Academic, and Neurological Impacts. Humanis, vol.5, no.1, 514-522.
    2. Krenn, J. (2025). Doomscrolling: Why Can’t We Stop? How scrolling bad news is messing with our minds. Psychology Today. February 25, 2025. https://www.psychologytoday.com/us/blog/screen-time/202502/doomscrolling-why-cant-we-stop.
    3. Satici, S.A., Tekin, E.G., Deniz, M.E., Satici, B. (2023). Doomscrolling Scale: its Association with Personality Traits, Psychological Distress, Social Media Use, and Wellbeing. Applied Research in Quality of Life (2023) 18:833–847. https://doi.org/10.1007/s11482-022-10110-7

    Penulis:
    Maya Dewi Savitri, S.Psi., M.Si.
    (beautyinside2010@gmail.com)

    Profil DISC “Pure” atau Murni ada 4 yaitu: Dominance, Influence, Steadiness, dan Conscientiousness.

    D ~ Dominance

    Karakter DISC D-Pure memiliki rasa ego yang tinggi dan cenderung invidualis dengan standard yang sangat tinggi. Lebih suka menganalisa masalah sendirian daripada bersama orang lain. Rasa egois yang kuat membuat dirinya tidak nyaman di bawah kendali orang lain; lebih suka menjadi “boss” dan menetapkan standard tinggi baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Karakter D-Pure juga menghindari sesuatu yang biasa-biasa dan cenderung mencari tantangan yang baru. Menyukai petualangan dan kadang-kadang beralih ke dalam petualangan baru sebelum mempertimbangkannya secara menyeluruh. Karakter ini mampu memimpin situasi dan orang lain dalam rangka mencapai sasarannya; Ingin selalu unggul dalam persaingan dengan taruhan apapun.

    I ~ Influence

    Karakter DISC I-Pure antusias dan optimistik, lebih suka mencapai sasarannya melalui orang lain. Suka berhubungan dengan sesamanya, bahkan suka mengadakan kegiatan untuk berkumpul, dan ini menunjukkan kepribadiannya yang ramah. Karakter I-Pure tidak suka bekerja sendirian dan cenderung bersama dengan orang lain dalam menyelesaikan proyek. Perhatian dan fokus tidak sebaik apa yang dia inginkan, makanya membutuhkan energi yang besar untuk mampu bergerak cepat dari satu hal ke hal berikutnya tanpa penundaan. I-Pure sangat menonjol dalam keterampilan berkomunikasi, dan ini merupakan salah satu kekuatan yang paling sering digunakan. Memiliki kemampuan untuk memotivasi dan memberi semangat dengan kata-katanya, dan dikenal sebagai individu yang inspirasional. Ketika harus memusatkan perhatiannya pada tugas, akan menjadi tidak akurat dan bahkan tidak terorganisir. Tetapi akan memusatkan perhatian kepada yang harus ia senangkan, karena  enggan sekali untuk menolak. Menginginkan pengakuan sosial dan takut akan penolakan. Mudah menemukan teman dan berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan.

    S ~ Steadiness

    Karakter DISC S-Pure adalah individu konsisten yang berusaha menjaga lingkungan /suasana yang tidak berubah. Dia bekerja dengan baik bersama orang-orang dengan berbagai kepribadian karena perilakunya yang terkendali dan rendah hati. Sabar, loyal dan suka menolong. Persahabatan dikembangkannya dengan lambat dan selektif. Tidak bosan dengan rutinitas dan sangat baik bekerja dengan petunjuk dan peraturan yang jelas. Butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dan suka menjalankan “cara-cara lama dalam mengerjakan sesuatu”. Dia akan menghindari konfrontasi dan berusaha sekuat tenaga memendam perasaannya.

    C ~ Conscientiousness

    Karakter DISC C-Pure adalah pribadi yang praktis, cakap dan unik. Mampu menilai diri sendiri dan kritis terhadap dirinya dan orang lain. Menyukai hal yang detail dan logis; secara alamiah sangat analitis. Karena menyimpan informasi, ia meneliti isu berulang-ulang kali. Cenderung malu dan tertutup; ia hati-hati dalam membuat keputusan yang berdasarkan pada logika, bukan emosi, selalu menggunakan pertanyaan “bagaimana dan mengapa”. Orang dengan karakter C-Pure Mengerjakan sesuatu dengan sistematis dan akurat. Rapi dan terorganisir sebab merasa bahwa keadaan berantakan sama dengan mutu yang rendah; demikian juga, rapi dan teratur merupakan mutu yang tinggi. Sangat teliti dalam segala sesuatu seperti halnya dalam pekerjaan dan penggunaan waktunya. Merencanakan dan mengorganisir semua sisi kehidupannya. Kelambanan sangat mengganggunya dan tak dapat ditolerir.

    Profil DISC Kombinasi 2-dimensi merupakan gabungan dari dua dimensi dari DISC Marston, terdapat 12 kombinasi 2-dimensi yaitu:

    D-I, D-S, D-C, I-D, I-S, I-C, S-D, S-I, S-C, C-D, C-I, C-S.

    D-I ~ Dominance-Influence

    Karakter DISC D-I (Dominance-Influence) tidak basa-basi dan tegas, cenderung merupakan seorang invidualis yang kuat. berpandangan jauh ke depan, progresif dan mau berkompetisi untuk mencapai sasaran. Selalu ingin tahu dan mempunyai minat dengan cakupan yang luas. Seorang yang logis, kritis dan tajam dalam memecahkan masalah. Sering kali karakter D-I tampak imajinatif. Mempunyai kemampuan memimpinan yang baik. Kadang tampak keras kepala atau dingin karena orientasi dan prioritasnya pada tugas cenderung melebihi orientasi terhadap sesama. Mencanangkan standard tinggi pada dirinya dan akan sangat kritis ketika standard ini tidak dicapai. Orang dengan karakter D-I Menempatkan standard tinggi pada orang-orang di sekitarnya, serta mengutamakan kesempurnaan. Menginginkan otoritas yang jelas dan menyukai tugas-tugas baru.

    D-S ~ Dominance-Steadiness

    Karakter DISC D-S (Dominance-Steadiness) memiliki karakter obyektif dan analitis. Ingin terlibat dalam situasi, dan juga ingin memberikan bantuan dan dukungan kepada orang yang dihormati. Secara internal termotivasi oleh target pribadi, berorientasi terhadap pekerjaannya tapi juga menyukai hubungan dengan sesama. Karena determinasi karakter D-S yang kuat, sehingga sering berhasil dalam berbagai hal; karakternya yang tenang, stabil dan daya tahannya yang tinggi memiliki kontribusi dalam keberhasilannya. Ulet dalam memulai pekerjaan. Orang dengan karakter D-S akan berusaha keras untuk mencapai sasarannya. Seorang yang mandiri dan cermat serta memiliki tindak lanjut yang baik.

    D-C ~ Dominance-Conscientiousness

    Karakter DISC D-C (Dominance- Conscientious) memiliki sensitivitas terhadap permasalahan, dan memiliki kreativitas yang baik dalam memecahkan masalah. Dapat menyelesaikan tugas-tugas penting dalam waktu singkat karena mempunyai keputusan yang kuat. Seorang yang tekun dan memiliki reaksi yang cepat. Akan meneliti dan mengejar semua kemungkinan yang ada dalam mencari solusi permasalahan.

    Karakter D-C Banyak memberikan ide-ide dengan berfokus pada pekerjaan. Usaha yang keras pada ketepatan akan mengimbangi keinginannya pada hasil yang terukur. Orang dengan karakter D-C cenderung perfeksionis dan dapat juga memperlambat pengambilan keputusan karena keinginannya untuk menentukan pilihan yang terbaik.

    I-D ~ Influence-Dominance

    Karakter DISC I-D (Influence, Dominance) adalah seorang pemimpin integratif yang bekerja dengan dan melalui orang lain. Ramah, memiliki perhatian yang tinggi akan orang dan juga mempunyai kemampuan untuk memperoleh hormat dan penghargaan dari berbagai tipe orang. Melakukan pekerjaannya dengan cara yang bersahabat, baik dalam mencapai sasarannya maupun meyakinkan pandangannya kepada orang lain. Orang dengan karakter I-D tidak begitu memperhatikan hal-hal kecil. Kadang bertindak sesuai dengan kata hati/impulsif, terlalu antusias dan sangat banyak bicara. Terlalu berlebihan menilai kemampuannya dalam memotivasi atau mengubah perilaku orang lain. Karakter I-D mencari kebebasan dari rutinitas, menginginkan otoritas/wewenang dan juga prestise. Menginginkan aktivitas yang bervariasi dan bekerja lebih efisien jika data-data analitis disediakan oleh orang lain. Menginginkan penugasan yang mengutamakan mobilitas dan tantangan.

    I-S ~ Influence-Steadiness

    Karakter DISC I-S (Influence, Steadiness) terlihat mengesankan orang akan kehangatan, simpati dan pengertiannya. Memiliki ketenangan dalam sebagian besar situasi sosial dan jarang tidak menyenangkan orang lain. Faktanya, banyak orang datang padanya karena kelihatan sebagai pendengar yang baik. Karakter I-S cenderung sangat demonstratif dan emosinya biasanya tampak jelas bagi orang di sekitarnya. Tidak akan memaksakan idenya pada orang lain; tidak tegas dalam mengekspresikan atau memberi perintah. Jika sangat kuat merasakan sesuatu, akan bicara secara terbuka dan terus terang tentang pendiriannya. Cenderung menerima kritik atas pekerjaannya sebagai serangan pribadi. Orang dengan karakter I-S dapat menjadi sangat toleran dan sabar kepada mereka yang tidak produktif di pekerjaan. Merupakan “penjaga damai” dan akan bekerja untuk menjaga kedamaian dalam setiap keadaan.

    I-C ~ Influence-Conscientiousness

    Karakter DISC I-C (Influence, Conscientious) kelihatan ramah dan suka berteman; merasa nyaman walaupun dengan orang asing. Dapat mengembangkan hubungan baru dengan mudah, dan pada umumnya dapat mengendalikan diri sampai pada tingkat dimana jarang menimbulkan rasa benci pada orang lain dengan sengaja. Orang dengan kepribadian I-C adalah orang yang sangat sosial, menunjukkan kepedulian dan persahabatan ketika sedang melakukan tugas-tugas di tangannya. cenderung perfeksionis secara alamiah, dan akan mengisolasi diri jika diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan. Berkeinginan mempromosikan tugas-tugas orang lain, juga kepunyaannya. Kadang-kadang menilai kemampuan orang lain dikarenakan pandangan-pandangannya yang optimis.

    S-D ~ Steadiness-Dominance

    Karakter DISC S-D (Steadiness, Dominance) adalah orang yang obyektif dan analitis. Ingin terlibat dalam situasi, dan juga ingin memberikan bantuan dan dukungan. Secara internal termotivasi oleh target pribadi, menyukai orang-orang, tetapi juga mempunyai kemampuan untuk berorientasi pada pekerjaannya pada saat dibutuhkan. Karena determinasinya yang kuat, sering berhasil dalam berbagai hal; karakternya yang tenang, stabil dan daya tahannya memiliki kontribusi akan keberhasilannya. Keuletannya setelah memulai pekerjaan, akan berusaha keras untuk mendapatkan sasarannya. Orang dengan karakter S-D adalah orang yang bebas, cermat dan memiliki tindak lanjut yang baik. Bisa menjadi tidak ramah walaupun pada dasarnya ia yang berorientasi pada orang; dan pada situasi yang tidak membuatnya nyaman, lebih suka mendukung pemimpinnya dari pada keterlibatannya dengan situasi.

    S-I ~ Steadiness-Influence

    Karakter DISC S-I (Steadiness, Influence) mengesankan orang akan kehangatan, simpati dan pengertiannya. Memiliki ketenangan dalam sebagian besar situasi sosial dan jarang tidak menyenangkan orang lain. Faktanya, banyak orang datang padanya karena kelihatan sebagai pendengar yang baik. Karakter S-I Cenderung sangat demonstratif dan emosinya biasanya tampak jelas bagi orang di sekitarnya. Tidak akan memaksakan idenya pada orang lain; tidak tegas dalam mengekspresikan atau memberi perintah. Jika sangat kuat merasakan sesuatu, akan bicara secara terbuka dan terus terang tentang pendiriannya. Kepribadian S-I cenderung menerima kritik atas pekerjaannya sebagai serangan pribadi. Dapat menjadi sangat toleran dan sabar kepada mereka yang tidak produktif di pekerjaan. Merupakan “penjaga damai” yang sebenarnya dan akan bekerja untuk menjaga kedamaian dalam setiap keadaan.

    S-C ~ Steadiness-Conscientiousness

    Karakter DISC S-C (Steadiness, Conscientious) adalah orang yang baik secara alamiah dan sangat berorientasi detail. Peduli dengan orang-orang di sekitarnya dan mempunyai kualitas yang membuatnya sangat teliti dalam penyelesaian tugas. Mempertimbangkan sekelilingnya dengan hati-hati sebelum membuat keputusan untuk melihat pengaruhnya pada mereka; saat tertentu terlalu hati-hati. Karakter S-C jika merasa seseorang memanfaatkan situasi, akan memperlambat kerjanya sehingga dapat mengamati apa yang sedang berlangsung di sekitarnya.

    C-D ~ Conscientiousness-Dominance

    Karakter DISC C-D (Conscientious, Dominance) sangat berorientasi pada tugas dan sensitif pada permasalahan. Lebih mempedulikan tugas yang ada dibanding orang-orang di sekitarnya, termasuk perasaan mereka. Karakter C-D sangat kukuh/keras dan mempunyai pendekatan yang efektif dalam pemecahan masalah. Oleh karena sifat alamiah dan keinginannya akan hasil yang terukur, akan tampak dingin, tidak berperasaan dan menjaga jarak. Orang dengan karakter C-D membuat keputusan berdasar pada fakta, bukan emosi. Cenderung pendiam dan tidak mudah percaya.

    C-I ~ Conscientiousness-Influence

    Karakter DISC C-I (Conscientious, Influence) adalah orang yang analitis, berwatak hati-hati dan ramah pada saat merasa nyaman. Sangat biasa dengan orang asing, karena dapat menilai dan menyesuaikan diri dalam hubungan mereka. Dapat mengembangkan hubungan baru dengan mudah ketika ingin melakukannya, dan pada umumnya dapat mengendalikan diri sampai pada tingkat di mana jarang menimbulkan rasa benci pada orang lain dengan sengaja. Menampilkan sikap peduli dan ramah, namun mampu memusatkan perhatian pada penyelesaian tugas yang ada. Karakter C-I Cenderung perfeksionis secara alami, dan akan mengisolasi dirinya jika diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan. Suka berada pada situasi yang dapat diramalkan dan tidak ada kejutan. Ia sangat berorientasi pada kualitas dan akan bekerja dengan keras untuk menyelesaikan pekerjakan dengan benar. Ingin orang-orang berkenan akan pekerjaan yang sudah diselesaikan dengan baik.

    C-S ~ Conscientiousness-Steadiness

    Karakter DISC C-S (Conscientious, Steadiness) adalah orang yang berpikir sistematis dan cenderung mengikuti prosedur dalam kehidupan pribadi dan pekerjaannya. Teratur dan memiliki perencanaan yang baik, teliti dan fokus pada detail. Bertindak dengan penuh kebijaksanaan, diplomatis dan jarang menentang rekan kerjanya dengan sengaja. Orang dengan karakter C-S sangat berhati-hati, sungguh-sungguh mengharapkan akurasi dan standard tinggi dalam pekerjaannya. Cenderung terjebak dalam hal detail, khususnya jika harus memutuskan. Menginginkan adanya petunjuk standard pelaksanaan kerja dan tanpa perubahan mendadak.

    Profil DISC Kombinasi 3-dimensi merupakan gabungan dari tiga dimensi dari DISC Marston, terdapat 24 kombinasi 3-dimensi yaitu:

    D-I-S, D-I-C, D-S-I, D-S-C, D-C-I, D-C-S,

    I-D-S, I-D-C, I-S-D, I-S-C, I-C-D, I-C-S,

    S-D-I, S-D-C, S-I-D, S-I-C, S-C-D, S-C-I,

    C-D-I, C-D-S, C-I-D, C-I-S, C-S-D, C-S-I.

    D-I-S ~ Dominance-Influence-Steadiness

    Karakter DISC D-I-S (Dominance, Influence, Steadiness) berfokus pada penyelesaian pekerjaan dan menunjukkan penghargaan yang tinggi kepada orang lain. Memiliki kemampuan untuk menggerakkan orang dan pekerjaan dikarenakan keterampilannya berpikir ke depan dan hubungan antar manusia. Individu dengan kepribadian D-I-S tidak berorientasi detil, Fokus pada target secara keseluruhan dengan menyerahkan hal detil kepada orang lain. Enerjik dan sosial, mampu memotivasi orang lain sambil menyelesaikan pekerjaannya. Orang dengan D-I-S menampilkan rasa percaya diri dan mampu meyakinkan orang lain. Sekali memutuskan sesuatu, akan terus mengerjakannya dan bertahan sampai selesai.

    D-I-C ~ Dominance-Influence-Conscientiousness

    Karakter DISC D-I-C (Dominance, Influence, Conscientious) sering menggabungkan antara kesenangan dengan pekerjaan/bisnis ketika melakukan sesuatu. Kelihatan menyukai hubungan dengan sesama tetapi juga dapat mengerjakan hal-hal detail. Orang dengan karakter D-I-C ingin melakukan segala sesuatu dengan tepat, dan akan menyelesaikan tugasnya untuk meyakinkan ketepatan dan kelengkapannya. Karakter D-I-C adalah seorang yang ramah secara alami dan menikmati interaksi dengan sesama, akan tetapi ia akan juga menilai orang dan tugas secara hati-hati; persahabatannya akan bergeser sesuai dengan dorongan hatinya pada orang lain di sekitarnya. Biasanya karakter D-I-C sering melalaikan perencanaan yang seksama dan akan beralih ke pada proyek-proyek baru tanpa pertimbangan yang menyeluruh.

    D-S-I ~ Dominance-Steadiness-Influence

    Karakter DISC D-S-I (Dominance, Steadiness, Influence) biasa juga dikenal dengan sebagai orang yang obyektif dan analitis. Ingin terlibat dalam situasi, dan juga ingin memberikan bantuan dan dukungan kepada orang yang dihormati. Karakter D-S-I secara internal termotivasi oleh target pribadi, berorientasi terhadap pekerjaannya tapi juga menyukai hubungan dengan sesama. Karena determinasinya yang kuat, sering berhasil dalam berbagai hal; karakternya yang tenang, stabil dan daya tahannya yang tinggi memiliki kontribusi dalam keberhasilannya. Orang dengan karakter D-S-I kelihatan ulet dalam memulai pekerjaan. Akan berusaha keras untuk mencapai sasarannya. Mandiri dan cermat serta memiliki tindak lanjut yang baik.

    D-S-C ~ Dominance-Steadiness-Conscientiousness

    Karakter DISC D-S-C (Dominance, Steadiness, Conscientious) adalah orang yang obyektif dan analitis. Ingin terlibat dalam situasi, dan juga ingin memberikan bantuan dan dukungan kepada orang yang dihormati. Secara internal termotivasi oleh target pribadi, Berorientasi terhadap pekerjaannya tapi juga menyukai hubungan dengan sesama. Karakter D-S-C dikarenakan determinasinya yang kuat, sering berhasil dalam berbagai hal; karakternya yang tenang, stabil dan daya tahannya yang tinggi memiliki kontribusi dalam keberhasilannya. Ulet dalam memulai pekerjaan. Orang dengan karakter D-S-C akan berusaha keras untuk mencapai sasarannya. Mandiri dan cermat serta memiliki tindak lanjut yang baik.

    D-C-I ~ Dominance-Conscientiousness-Influence

    Karakter DISC D-C-I (Dominance, Conscientious, Influence) biasanya sensitif terhadap permasalahan, dan memiliki kreativitas yang baik dalam memecahkan masalah. Dapat menyelesaikan tugas-tugas penting dalam waktu singkat karena mempunyai keputusan yang kuat. Karakter D-C-I kelihatan tekun dan memiliki reaksi yang cepat. Akan meneliti dan mengejar semua kemungkinan yang ada dalam mencari solusi permasalahan. Banyak memberikan ide-ide dengan berfokus pada pekerjaan. Usaha yang keras pada ketepatan akan mengimbangi keinginannya pada hasil yang terukur. Orang dengan D-C-I cenderung perfeksionis dan dapat juga memperlambat pengambilan keputusan karena keinginannya untuk menentukan pilihan yang terbaik.

    D-C-S ~ Dominance-Conscientiousness-Steadiness

    Karakter DISC D-C-S (Dominance, Conscientious, Steadiness) sensitif terhadap permasalahan, dan memiliki kreativitas yang baik dalam memecahkan masalah. Dapat menyelesaikan tugas-tugas penting dalam waktu singkat karena mempunyai keputusan yang kuat. Karakter D-C-S tekun dan memiliki reaksi yang cepat. Akan meneliti dan mengejar semua kemungkinan yang ada dalam mencari solusi permasalahan. Banyak memberikan ide-ide dengan berfokus pada pekerjaan. Usaha yang keras pada ketepatan akan mengimbangi keinginannya pada hasil yang terukur. Orang dengan D-C-S cenderung perfeksionis dan dapat juga memperlambat pengambilan keputusan karena keinginannya untuk menentukan pilihan yang terbaik.

    I-D-S ~ Influence-Dominance-Steadiness

    Karakter DISC I-D-S (Influence, Dominance, Steadiness) akan menunjukkan sikap bersahabat dan sosial; suka mengendalikan situasi dan menjadi pemimpin. Menyelesaikan tugasnya melalui keterampilan sosialnya; peduli dan menerima orang lain. Kepribadian I-D-S berkonsentrasi pada tugas yang ada di tangannya sampai selesai dan akan minta bantuan orang lain jika perlu. Menyadari keterbatasannya dan meminta bantuan jika memerlukannya. Disukai dan orang ingin menolongnya. Orang dengan kepribadian I-D-S senang membagi kebanggaannya dengan kelompok; Seorang team player tetapi juga team leader. Menginginkan popularitas dan pengakuan.

    I-D-C ~ Influence-Dominance-Conscientiousness

    Karakter DISC I-D-C (Influence, Dominance, Conscientious) sangat berorientasi terhadap tugas dan juga menyukai orang. Sangat baik dalam menarik orang/recruiting. Seorang yang bersahabat, tetapi menyukai keadaan di mana tugas-tugas harus dilakukan dengan benar. Kadang-kadang tampak dingin dan mendominasi. Juga bisa sangat fokus pada tugas dan melupakan orang-orang di sekitarnya. Orang dengan karakter I-D-C sangat mengharapkan orang-orang terlibat dalam proyeknya, tetapi tidak memperdulikan apa yang diinginkan oleh orang-orang itu. Perlu mendengar dan memikirkan apa yang menjadi keinginan orang di sekitarnya, khususnya kesempatan untuk mencoba. Karakter I-D-C sangat membutuhkan persetujuan sosial seperti halnya sangat mempercayai orang lain. Karena itu, kadang-kadang berlebihan dalam menilai orang dan kemampuannya. Tampak tidak konsisten dan tidak karuan karena ketidakmampuannya berkonsentrasi dan fokus dalam waktu yang lama. Perlu belajar untuk secara sungguh-sungguh mendengarkan orang-orang di sekitarnya dari pada selalu berpikir apa yang ingin dikatakan. Mempunyai kemampuan logika yang tinggi ketika ia mau menggunakannya.

    I-S-D ~ Influence-Steadiness-Dominance

    Karakter DISC I-S-D (Influence, Steadiness, Dominance) menampilkan gaya yang bersemangat ketika termotivasi pada sasaran. Lebih suka memimpin atau melibatkan diri, walaupun juga mau melayani sebagai pembantu. Kepribadian I-S-D membutuhkan pengakuan dan penghargaan serta senang pada peran pendukung. Peduli kepada orang-orang di sekitarnya dan akan mempertimbangkan perasaan orang lain dalam proses pengambilan keputusan. Orang denan karakter I-S-D menampilkan keterampilan berhubungan dan berkomunikasi dengan sangat baik. Akan berusaha keras menyelesaikan tugas dengan cepat dan efisien.

    I-S-C ~ Influence-Steadiness-Conscientiousness

    Karakter DISC I-S-C (Influence, Steadiness, Conscientious) adalah individu yang berorientasi pada orang dan lancar berkomunikasi serta loyal. Cenderung sensitif dan mempunyai standard yang tinggi. Keputusannya dibuat berdasarkan fakta dan data pendukung. Sepertinya tidak bisa diam. Perlu untuk lebih terus terang dan jangan terlalu subyektif. Orang dengan I-S-C butuh pengakuan sosial dan perhatian pribadi; dapat cepat akrab dengan orang lain. Bersahabat, antusias, informal, banyak bicara dan terlalu khawatir terhadap apa yang dipikirkan orang. Karakter I-S-C menguasai banyak hal. Ingin diterima sebagai anggota kelompok dan ingin mengetahui secara pasti apa yang diharapkan darinya sebelum memulai proyek baru.

    I-C-D ~ Influence-Conscientiousness-Dominance

    Karakter DISC I-C-D (Influence, Conscientious, Dominance) adalah seorang yang analitis, berwatak hati-hati dan ramah pada saat merasa nyaman. Sangat biasa dengan orang asing, karena dapat menilai dan menyesuaikan diri dalam hubungan mereka. Orang dengan karakter I-C-D dapat mengembangkan hubungan baru dengan mudah ketika ingin melakukannya, dan pada umumnya dapat mengendalikan diri sampai pada tingkat di mana jarang menimbulkan rasa benci pada orang lain dengan sengaja. Menampilkan sikap peduli dan ramah, namun mampu memusatkan perhatian pada penyelesaian tugas yang ada. Karakter I-C-D cenderung perfeksionis secara alami, dan akan mengisolasi dirinya jika diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan. Suka berada pada situasi yang dapat diramalkan dan tidak ada kejutan. Sangat berorientasi pada kualitas dan akan bekerja dengan keras untuk menyelesaikan pekerjakan dengan benar. Ingin orang-orang berkenan akan pekerjaan yang sudah selesaikan dengan baik.

    I-C-S ~ Influence, Conscientiousness, Steadiness

    Karakter DISC I-C-S (Influence, Conscientious, Steadiness) berorientasi pada orang dan lancar berkomunikasi serta loyal. Cenderung sensitif dan mempunyai standard yang tinggi. Keputusannya dibuat berdasarkan fakta dan data pendukung. Sepertinya tidak bisa diam. Perlu untuk lebih terus terang dan jangan terlalu subyektif. Karakter I-C-S butuh pengakuan sosial dan perhatian pribadi; Dapat cepat akrab dengan orang lain. Bersahabat, antusias, informal, banyak bicara dan terlalu khawatir terhadap apa yang dipikirkan orang. Orang dengan kepribadian I-C-S menguasai banyak hal. Ingin diterima sebagai anggota kelompok dan ingin mengetahui secara pasti apa yang diharapkan darinya sebelum memulai proyek baru.

    S-D-I ~ Steadiness-Dominance-Influence

    Karakter DISC S-D-I (Steadiness, Dominance, Influence) adalah orang yang obyektif dan analitis. Ingin terlibat dalam situasi, dan juga ingin memberikan bantuan dan dukungan kepada orang yang dihormati. Secara internal termotivasi oleh target pribadi, berorientasi terhadap pekerjaannya tapi juga menyukai hubungan dengan sesama. Karena determinasinya yang kuat, sering berhasil dalam berbagai hal; karakternya yang tenang, stabil dan daya tahannya yang tinggi memiliki kontribusi dalam keberhasilannya. Karakter S-D-I adalah orang yang ulet dalam memulai pekerjaan. Akan berusaha keras untuk mencapai sasarannya. Seorang yang mandiri dan cermat serta memiliki tindak lanjut yang baik.

    S-D-C ~ Steadiness, Dominance, Conscientiousness

    Karakter DISC S-D-C (Steadiness, Dominance, Conscientious) adalah karakter orang yang sabar, terkontrol dan suka menggali fakta dan jalan keluar. Tenang dan ramah. Merencanakan pekerjaan dengan hati-hati, tetapi agresif, menanyakan sesuatu serta mengumpulkan data pendukung. Kemudian bekerja dengan konsisten dengan arahan yang benar. Orang dengan S-D-C bisa menjadi individu yang penuh perhatian, rendah hati, dan berhubungan baik dengan hampir semua orang. Seorang yang konsisten dan suka menolong. People skill dari seorang melebihi orientasi tugasnya.

    S-I-D ~ Steadiness-Influence-Dominance

    Karakter DISC S-I-D (Steadiness, Influence, Dominance) mengesankan orang akan kehangatan, simpati dan pengertiannya. Memiliki ketenangan dalam sebagian besar situasi sosial dan jarang tidak menyenangkan orang lain. Faktanya, banyak orang datang padanya karena kelihatan sebagai pendengar yang baik. Cenderung sangat demonstratif dan emosinya biasanya tampak jelas bagi orang di sekitarnya. Orang dengan karakter S-I-D tidak akan memaksakan idenya pada orang lain; tidak tegas dalam mengekspresikan atau memberi perintah. Jika sangat kuat merasakan sesuatu, akan bicara secara terbuka dan terus terang tentang pendiriannya. Cenderung menerima kritik atas pekerjaannya sebagai serangan pribadi. Dapat menjadi sangat toleran dan sabar kepada mereka yang tidak produktif di pekerjaan. Merupakan “penjaga damai” yang sebenarnya dan akan bekerja untuk menjaga kedamaian dalam setiap keadaan.

    S-I-C ~ Steadiness-Influence-Conscientiousness

    Karakter DISC S-I-C (Steadiness, Influence, Conscientious) adalah pribadi yang stabil, individu yang ramah yang berusaha keras membangun hubungan yang positif di tempat kerja dan di rumah. Dapat menjadi sangat berorientasi detail ketika situasi membutuhkan; tetapi secara keseluruhan cenderung individualis, independen dan sedikit perhatian terhadap detail. Sekali membuat keputusan, sangat sulit mengubah pendiriannya. Karakter S-I-C menyukai hubungan dengan orang dan cenderung mendukung pihak yang lemah. Akan mengambil posisi berlawanan dengan ketidaksepakatan dan merasa frustrasi jika sesuatu tidak sejalan dengannya. Ingin diterima sebagai anggota tim, dan menginginkan orang lain menyukainya. Cukup sulit membuat keputusan sampai parameter wewenang secara jelas ditentukan, dan mungkin cenderung tidak sungguh-sungguh jika dipaksa membuat keputusan ketika tidak ingin melakukannya. Menginginkan orang lain yang membuat keputusan, khususnya jika ada orang yang sangat dihargai dan hormati. Cenderung moderat, cermat dan dapat diandalkan.

    S-C-D ~ Steadiness-Conscientiousness-Dominance

    Karakter DISC S-C-D (Steadiness, Conscientious, Dominance) adalah orang baik secara alamiah dan sangat berorientasi detail. Peduli dengan orang-orang di sekitarnya dan mempunyai kualitas yang membuatnya sangat teliti dalam penyelesaian tugas. Mempertimbangkan sekelilingnya dengan hati-hati sebelum membuat keputusan untuk melihat pengaruhnya pada mereka; saat tertentu terlalu hati-hati. Orang dengan karakter S-C-D jika merasa seseorang memanfaatkan situasi, akan memperlambat kerjanya sehingga dapat mengamati apa yang sedang berlangsung di sekitarnya.

    S-C-I ~ Steadiness-Conscientiousness-Influence

    Karakter DISC S-C-I (Steadiness, Conscientious, Influence) adalah individu yang stabil, individu yang ramah yang berusaha keras membangun hubungan yang positif di tempat kerja dan di rumah. Dapat menjadi sangat berorientasi detail ketika situasi membutuhkan; tetapi secara keseluruhan ia cenderung individualis, independen dan sedikit perhatian terhadap detail. Sekali membuat keputusan, sangat sulit mengubah pendiriannya. Menyukai hubungan dengan orang dan cenderung mendukung pihak yang lemah. Orang dengan karakter S-C-I akan mengambil posisi berlawanan dengan ketidaksepakatan dan merasa frustrasi jika sesuatu tidak sejalan dengannya. Ingin diterima sebagai anggota tim, dan menginginkan orang lain menyukainya. Cukup sulit membuat keputusan sampai parameter wewenang secara jelas ditentukan, dan mungkin cenderung tidak sungguh-sungguh jika dipaksa membuat keputusan ketika  tidak ingin melakukannya. Karakter S-C-I menginginkan orang lain yang membuat keputusan, khususnya jika ada orang yang sangat dihargai dan hormati. Cenderung moderat, cermat dan dapat diandalkan.

    C-D-I ~ Conscientiousness-Dominance-Influence

    Karakter DISC C-D-I (Conscientious, Dominance, Influence) adalah orang yang sangat berorientasi pada tugas dan sensitif pada permasalahan. Lebih mempedulikan tugas yang ada dibanding orang-orang di sekitarnya, termasuk perasaan mereka. Sangat kukuh/keras dan mempunyai pendekatan yang efektif dalam pemecahan masalah. Oleh karena sifat alamiah dan keinginannya akan hasil yang terukur. Karakter C-D-I akan tampak dingin, tidak berperasaan dan menjaga jarak. Membuat keputusan berdasar pada fakta, bukan emosi. Cenderung pendiam dan tidak mudah percaya.

    C-D-S ~ Conscientiousness-Dominance-Steadiness

    Karakter DISC C-D-S (Conscientious, Dominance, Steadiness) adalah orang yang berorientasi pada hal detail dan mempunyai standard tinggi untuk dirinya. Logis dan analitis. Ingin berbuat yang terbaik, dan selalu berpikir ada ruang untuk peningkatan/kemajuan. Cenderung kompetitif dan ingin menghasilkan pekerjaan dengan mutu yang terbaik. Sebenarnya sensitif terhadap orang-orang, tetapi karena sifat logisnya, orientasinya terhadap tugas dapat menutupinya dengan mudah. Orang dengan karakter C-D-S suka dihargai untuk pekerjaannya yang berkualitas. Mampu mengerjakan tugas-tugas; dan mencapai sasarannya. Sangat memusatkan perhatian pada tugas yang ada, mantap dan dapat diandalkan.

    C-I-D ~ Conscientiousness-Influence-Dominance

    Karakter DISC C-I-D (Conscientious, Influence, Dominance) adalah orang yang analitis, berwatak hati-hati dan ramah pada saat merasa nyaman. Sangat biasa dengan orang asing, karena ia dapat menilai dan menyesuaikan diri dalam hubungan mereka. Dapat mengembangkan hubungan baru dengan mudah ketika ingin melakukannya, dan pada umumnya dapat mengendalikan diri sampai pada tingkat di mana jarang menimbulkan rasa benci pada orang lain dengan sengaja. Menampilkan sikap peduli dan ramah, namun mampu memusatkan perhatian pada penyelesaian tugas yang ada. Orang dengan karakter C-I-D cenderung perfeksionis secara alami, dan akan mengisolasi dirinya jika diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan. Suka berada pada situasi yang dapat diramalkan dan tidak ada kejutan. Kepribadian C-I-D sangat berorientasi pada kualitas dan akan bekerja dengan keras untuk menyelesaikan pekerjakan dengan benar. Ingin orang-orang berkenan akan pekerjaan yang sudah diselesaikannya dengan baik.

    C-I-S ~ Conscientiousness-Influence-Steadiness

    Karakter DISC C-I-S (Conscientious, Influence, Steadiness) adalah orang yang berorientasi pada orang, mampu menggabungkan ketepatan dan loyalitas. Cenderung peka dan mempunyai standard yang tinggi. Menginginkan stabilitas dan berorientasi terhadap sasaran. Menginginkan pengakuan sosial dan perhatian pribadi. Karakter C-I-S adalah orang yang bersahabat, antusias, informal, banyak bicara, dan mungkin sangat mencemaskan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Menolak agresi, dan mengharapkan suasana harmonis. Cenderung cukup cerdas dalam berbagai hal. Kepribadian C-I-S merupakan pencari fakta yang sangat baik dan akan membuat keputusan yang baik setelah mengumpulkan fakta dan data pendukung.

    C-S-D ~ Conscientiousness-Steadiness-Dominance

    Karakter DISC C-S-D (Conscientious, Steadiness, Dominance) adalah orang yang berpikir sistematis dan cenderung mengikuti prosedur dalam kehidupan pribadi dan pekerjaannya. Teratur dan memiliki perencanaan yang baik, teliti dan fokus pada detail. Bertindak dengan penuh kebijaksanaan, diplomatis dan jarang menentang rekan kerjanya dengan sengaja. Sangat berhati-hati. Karakter C-S-D sungguh-sungguh mengharapkan akurasi dan standard tinggi dalam pekerjaannya. Cenderung terjebak dalam hal detail, khususnya jika harus memutuskan. Menginginkan adanya petunjuk standard pelaksanaan kerja dan tanpa perubahan mendadak.

    C-S-I ~ Conscientiousness-Steadiness-Influence

    Karakter DISC C-S-I (Conscientious, Steadiness, Influence) adalah orang yang berorientasi pada orang, mampu menggabungkan ketepatan dan loyalitas. Cenderung peka dan mempunyai standard yang tinggi. Menginginkan stabilitas dan berorientasi terhadap sasaran. Orang dengan karakter C-S-I Menginginkan pengakuan sosial dan perhatian pribadi. Bersahabat, antusias, informal, banyak bicara, dan mungkin sangat mencemaskan apa yang dipikirkan oleh orang lain.


    Semoga bermanfaat.

    Kontak email geraimay2020@gmail.com untuk info lebih lanjut.

    Merespon beberapa fakta realitas kalahnya perempuan dalam hak pengasuhan anak setelah perceraian, yang salah satu sebabnya karena si perempuan tidak punya pekerjaan. Iya, karena sebelumnya full ibu rumah tangga, atau pekerja freelancer.

    Persepsi kita masih terpola dengan perbedaan gender ketika terkait dengan profesi perempuan. Perempuan layaknya jadi guru, perawat, dan pekerjaan yang sifatnya feminin. Sedangkan laki-laki biasanya diharapkan bekerja di bidang yang lebih macho, seperti pekerjaan yang terkait permesinan, bangunan, tentara, dan semacamnya. Ini masih lumrah hingga saat ini.

    Namun ada satu hal yang perlu disadari oleh perempuan. Bahwa penting bagi perempuan untuk memiliki profesi yang terhornat dan ajeg. Ada kisah yang memilukan dimana seorang ibu harus kehilangan hak asuhnya setelah perceraian karena pekerjaannya freelancer dan tidak ajeg. Meski pengadilan harusnya juga mempertimbangkan usia anak, namun begitulah yang terjadi. Jika ibu kehilangan kedekatan dengan anaknya, masih bisa ditahan (meski perih mengiris-iris sembilu hati dan tangisan setiap hari karena memikirkan bagaimana keseharian anak setelah tidak bersama ibunya), namun anak tidak bisa seketika kehilangan kedekatan dengan ibunya, apalagi usianya belum baligh. Lalu apa dong profesi yang terhormat dan ajeg itu? Ukurannya setiap orang bisa saja berbeda, namun ukuran ajeg itu menandakan profesi ini memiliki kepastian upah setiap bulan, tidak selalu pekerja kantoran, bisa saja bisnis atau usaha yang sudah stabil pemasukannya (bisa dihitung dari tren pemasukan setiap bulan). Jadi penting bagi perempuan untuk mandiri, entah bekerja atau bisnis, supaya punya bekal finansial ketika terjadi yang tidak diinginkan, seperti perceraian atau suami meninggal dunia. Profesi terhormat? Nha ini juga bisa jadi setiap orang punya tolok ukur berbeda. Tidak bisa dipungkiri ASN masih jadi salah satu pekerjaan terhormat, selain guru, tenaga medis, profesi pelindung masyarakat, ulama, dan yang semacamnya. Tragis ya, padahal pekerja seni bisa jadi lebih makmur, pengusaha bisa jadi cuannya berlipat terus setiap tahun.    Serius ini banyak terjadi di masyarakat kita. Ketidakpercayaan laki-laki pada perempuan untuk mengasuh anak sendirian, (setelah perceraian) terjadi ketika pihak laki-laki berkehendak pada pengasuhan anak, setengah memaksa anak-anak dalam pengasuhan ayahnya. Yakin ayahnya bisa mengasuh sendirian? Ujung-ujungnya cari ibu baru untuk mengasuh anak-anak ini. Lha sama aja dong. Kenapa tidak diserahkan pengasuhan kepada ibu kandungnya saja, dengan perjanjian, ada waktu-waktu tertentu, dimana anak bersama bapaknya. Perpecahan boleh saja antara dua individu orangtua, tapi pengasuhan tetap tanggungjawab keduanya. So, ladies… Jadilah mandiri ya… Diskusikan dengan pasangan kira-kira pekerjaan apa yang bisa dilakoni tanpa mengurangi kewajiban sebagai istri dan ibu. Dalam beberapa kelaurga yang saya temui, ada kompromi diantara pasangan dalam hal pencarian nafkah utama. Salut kepada para suami yang tetap mendukung istrinya berkarir atau berbisnis dengan berbagi tugas pengasuhan anak dan tugas rumah tangga. Dan para istri, bersyukurlah kalau punya suami yang mendukung lahir batin atas karir atau bisnismu. Foto oleh Tatiana Syrikova – pexel.com

    Kategori

    Join sebagai subscriber dengan input email ke sini

    Bergabung dengan 1.301 pelanggan lain
    Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
    Mulai